Satu keluarga, bukan dua rencana

Waktu membaca: 2 menit

Gereja bukanlah rencana cadangan Allah, yang berjalan berdampingan dengan Israel atau sepenuhnya menggantikannya — gereja dicangkokkan ke dalam keluarga yang sama, perjanjian yang sama, kisah yang sama yang membentang jauh ke belakang hingga Abraham. Itu mengubah cara Perjanjian Lama seharusnya dibaca: bukan sebagai sejarah orang lain dengan beberapa pelajaran pra-Kristen di dalamnya, melainkan sebagai kisah keluargamu sendiri.

Itu juga mengubah betapa mudahnya pemikiran “kami dan mereka” menyelinap ke dalam caramu memandang Israel, gereja, atau kelompok umat Allah mana pun yang tampak berbeda dari sudutmu sendiri.

Ada benang kedua yang layak ditelusuri di sini: menjadi bagian dari keluarga ini tidak pernah benar-benar soal garis keturunan, bahkan di dalam Perjanjian Lama sendiri. Sejak awal, Allah menjaga sebuah sisa — sekelompok kecil yang setia di dalam Israel, ditandai oleh kesetiaan bukan oleh silsilah, sementara banyak orang Israel secara etnis justru menjauh. Keluaran kedua mengulang pola yang sama: Allah menyelamatkan sebuah umat bukan karena mereka layak mendapatkannya, tetapi karena Dia terus mengikat diri-Nya dengan siapa pun yang tetap setia, generasi demi generasi. Itu adalah pijakan yang jauh lebih kokoh daripada warisan, denominasi, atau nama keluarga mana pun.

Pertanyaan untuk direnungkan

  • Apakah kamu benar-benar membaca Perjanjian Lama sebagai sejarah keluargamu sendiri, atau sebagai materi latar belakang untuk kisah orang lain?
  • Di manakah pemikiran “kami dan mereka” telah menyelinap ke dalam pandanganmu terhadap orang-orang percaya yang tidak terlihat, beribadah, atau memiliki latar belakang seperti sudutmu sendiri?
  • Jika keanggotaan dalam umat Allah selalu ditandai oleh kesetiaan, bukan warisan, apa yang sekarang justru kamu andalkan sebagai gantinya — sebuah nama keluarga, sebuah denominasi, sebuah tradisi — yang sebenarnya hanya kesetiaanlah yang selalu dimaksudkan untuk menopangnya?

Doa

Bapa, terima kasih karena Engkau telah mencangkokkan aku ke dalam keluarga-Mu dan kisah-Mu, yang berakar sampai kepada Abraham. Ajarlah aku membaca Perjanjian Lama sebagai sejarah keluargaku sendiri. Singkirkan pikiran “kami dan mereka” dari hatiku terhadap umat-Mu yang berbeda dariku, dan biarlah aku bersandar pada kesetiaan kepada-Mu, bukan pada keturunan atau nama. Amin.