Membacanya sebagaimana ia dimaksudkan
Kitab Wahyu adalah surat, nubuat, dan apokaliptik sekaligus — artinya kitab ini ditulis untuk dibaca sebagai pesan sungguhan bagi orang-orang sungguhan, dimaksudkan untuk memicu sebuah perubahan sekarang, bukan sebuah teka-teki tentang peristiwa yang jauh dari hidupmu sendiri. Tujuan nubuat tidak pernah sekadar meramalkan masa depan; tujuannya adalah mengubah masa kini agar masa depan yang diumumkan itu tidak perlu terjadi — seperti dalam kisah peringatan Yunus kepada Niniwe.
Itu cara yang sangat berbeda untuk memegang kitab ini dibandingkan memperlakukannya sebagai sebuah kode yang harus dipecahkan. Sebuah kode hanya perlu dipecahkan. Sebuah surat perlu ditaati.
Ada sebuah keterampilan terkait yang layak dibangun bersamaan dengan itu: belajar bertanya, gambar demi gambar, apakah sesuatu dimaksudkan secara harfiah atau simbolis, alih-alih menerapkan satu aturan yang sama untuk seluruh kitab. Seekor naga berkepala tujuh tidak pernah dimaksudkan untuk difoto; tetapi Roma yang sungguh-sungguh bersejarah, gereja yang sungguh-sungguh dianiaya, dan kedatangan Kristus yang sungguh-sungguh akan terjadi di masa depan memang dimaksudkan demikian. Para pembaca yang serius berbeda pendapat tentang bagian mana dari Kitab Wahyu jatuh ke kategori mana — sebuah surat abad pertama, sebuah pola yang masih terus terbuka, sebuah peristiwa masa depan, sebuah gambaran abadi tentang pertentangan antara kebaikan dan kejahatan — dan alih-alih memaksakan satu jawaban tunggal, ada baiknya menahan keempat pertanyaan itu sekaligus untuk bagian mana pun, sebab kitab ini sendiri terus-menerus menolak untuk diam hanya pada satu di antaranya.
Pertanyaan untuk direnungkan
- Selama ini, apakah kamu lebih banyak membaca Kitab Wahyu (atau nubuat pada umumnya) sebagai teka-teki yang harus dipecahkan, atau sebagai surat yang ditujukan kepadamu secara pribadi, yang menuntut sesuatu darimu sekarang juga?
- Jika sebuah bagian tertentu dalam Kitab Wahyu dimaksudkan untuk memicu sebuah perubahan dalam dirimu hari ini, bagian mana yang pertama kali terlintas dalam pikiranmu — dan perubahan apa yang sebenarnya dituntutnya?
- Ambil satu gambar dari Kitab Wahyu yang paling melekat dalam ingatanmu. Selama ini apakah kamu membacanya sebagai gambaran harfiah, simbol abadi, keduanya sekaligus, atau sebenarnya kamu belum pernah benar-benar berhenti untuk bertanya yang mana?
Doa
Tuhan, ampunilah aku karena memperlakukan firman-Mu seperti teka-teki, padahal Engkau memaksudkannya sebagai surat untukku. Bukalah telingaku untuk apa yang diminta kitab Wahyu dariku hari ini, dan berilah aku kerendahan hati untuk terus bertanya apa arti setiap gambaran, bukan cepat-cepat memutuskan. Ubahlah aku sekarang, bukan hanya gagasanku tentang masa depan. Amin.