Ketika dunia hancur berantakan, siapa yang kamu salahkan?
Penaklukan berganti menjadi peperangan, peperangan menjadi kelaparan, kelaparan menjadi kematian — dan di bawah mezbah, jiwa-jiwa orang yang setia berseru dengan satu suara, pertanyaan yang jujur: berapa lama lagi, ya Tuhan, sampai Engkau menghakimi bumi? Mereka tidak ditegur karena bertanya. Mereka diminta menunggu sedikit lebih lama lagi.
Itu contoh yang lebih baik daripada berpura-pura semuanya baik-baik saja atau diam-diam kehilangan iman ketika ternyata tidak. Jiwa-jiwa di bawah mezbah tidak melakukan keduanya — mereka membawa pertanyaan yang sesungguhnya langsung kepada Allah, lalu menunggu, alih-alih menyelesaikan ketegangan itu dengan berpaling dari-Nya.
Pertanyaan untuk direnungkan
- Apa pertanyaan “berapa lama lagi, ya Tuhan” yang selama ini kamu simpan sendiri tanpa benar-benar membawanya langsung kepada Allah?
- Menunggu sebuah jawaban berbeda dari menyerah. Yang manakah dari keduanya yang belakangan ini sebenarnya terlihat dalam responsmu sendiri terhadap penderitaan yang belum terjawab?
Doa
Tuhan, berapa lama lagi? Engkau tahu pertanyaan-pertanyaan yang kubawa tanpa membawanya kepada-Mu. Inilah pertanyaan-pertanyaanku. Terima kasih karena Engkau tidak menegurku karena bertanya. Tolonglah aku menunggu bersama-Mu, bukan berpaling pergi. Amin.