Siapa yang Memerintah Dunia
Kitab Wahyu memberi kita gambaran yang sangat membingungkan tentang siapa sebenarnya yang memerintah dunia ini. Di satu sisi ada Iblis, yang tampaknya sepenuhnya menguasai dunia, tetapi di sisi lain ada juga gereja. Apa yang sebenarnya terjadi, dan apa sebenarnya arti memerintah itu?
Pertanyaannya
Ketika Yesus mati di kayu salib, Iblis dikalahkan. Itulah yang dikatakan kepada kita, tetapi tampaknya tidak ada yang berubah. Mungkin bahkan menjadi lebih buruk.
- Ajaran Yesus terdengar seperti cita-cita yang tidak mungkin dicapai.
- Kerajaan-kerajaan jahat masih tetap berkuasa meskipun ada nubuat-nubuat.
- Dunia tidak menjadi lebih Kristen, tetapi orang Kristen menjadi lebih duniawi.
- Gereja sering kali tampak bukan menjadi solusi, melainkan bagian dari masalah.
Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada sesuatu yang benar-benar salah? Kita perlu melihat lebih dekat.
Sejarah Israel
Israel seharusnya menjadi berkat bagi seluruh dunia melalui perjanjian dengan Abraham. Untuk itu, Allah memberi mereka hukum Taurat, yang pada masa itu unik, tetapi itu tidak berhasil dan Israel dibuang ke pembuangan. Setelah kembali dari pembuangan, Israel menunggu Allah turun tangan dan mendirikan kerajaan-Nya.
Orang Yahudi menantikan Mesias, yang akan memulai sebuah pergolakan besar, semacam revolusi.
Tetapi itu tidak terjadi ketika Yesus datang. Ia membuat beberapa pernyataan dalam Markus, Lukas, dan surat-surat tentang zaman sekarang (yang jahat) dan zaman yang akan datang (yang baik).
Tetapi kuasa zaman yang akan datang sudah hadir sekarang, tersedia dalam Roh Kudus, dan dapat dialami dalam kehidupan bersama Roh Kudus. Kerajaan yang akan datang itu tersembunyi dan membuat kita tampak menyedihkan.
Kita bisa membayangkannya seperti dalam gambar ini.

Ada dua kerajaan yang berjalan paralel antara kedatangan Yesus yang pertama dan yang kedua. Keduanya ada berdampingan. Kerajaan Allah sudah ada, tetapi belum dalam kepenuhannya. Bisa diungkapkan sebagai “sudah, tetapi belum sepenuhnya”. Penekanan berlebihan pada “sudah” akan membawa kepada
- penolakan terhadap obat-obatan, konseling, penyelesaian masa lalu, …
- desakan bahwa setiap orang akan sehat dan makmur jika ia hanya cukup percaya dan memberitakannya
- keyakinan bahwa seseorang sudah bisa hidup tanpa dosa
Jika kita terlalu menekankan “belum sepenuhnya”, ini akan membawa kepada
- pemuliaan penderitaan dan kemiskinan,
- penolakan terhadap karunia-karunia Roh,
- harapan bahwa hanya sedikit orang yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Karena itu kita harus mampu menanggung ketegangan ini.
Menanggung Ketegangan Itu
Ketegangan ini terlihat dalam Kitab Wahyu melalui penggambaran yang berlangsung bersamaan tentang kita sebagai raja-raja dan otoritas penuh kedua saksi di satu sisi, dan kekuasaan sang binatang yang tak tertandingi di sisi lain, yang bahkan mengalahkan gereja sendiri.
Kunci untuk memahaminya adalah bahwa keduanya memerintah dengan cara yang berbeda. Iblis bersama kedua binatang itu memerintah melalui penindasan, sedangkan kedua saksi memerintah melalui kesaksian dan kesetiaan mereka hingga mati.
Iblis memaksa orang untuk tunduk, sedangkan kedua saksi memengaruhi orang secara mendalam untuk mengubah hidup mereka.
Hal ini menjadi jelas dalam Kerajaan Seribu Tahun dan dalam kenyataan bahwa kedua saksi itulah yang memerintah di dalamnya.
Pertanyaan untuk direnungkan
- Apakah kamu lebih condong kepada “sudah” (mengharapkan segalanya sekarang) atau “belum” (tidak mengharapkan banyak sebelum akhir zaman)? Apa pengaruhnya terhadap imanmu?
- Di mana kamu mencoba memengaruhi orang dengan tekanan, dan di mana dengan kesaksian hidupmu?
Doa
Tuhan Yesus, Kerajaan-Mu sudah ada, tetapi belum sepenuhnya. Jagalah aku agar tidak menuntut segalanya sekarang, dan agar tidak berhenti berharap sampai akhir zaman. Biarlah aku memerintah seperti saksi-saksi-Mu, bukan dengan tekanan, tetapi dengan hidup yang menunjuk kepada-Mu. Amin.