Hari Tuhan

Waktu membaca: 2 menit

Ketika mendengar istilah “Hari Tuhan”, Anda mungkin membayangkan kehancuran dunia. Tetapi itu bukanlah makna sebenarnya dari ungkapan ini dalam Alkitab. Untuk melihat dari mana istilah ini sebenarnya berasal, kita perlu menelusurinya kembali melalui sejarah perjanjian Israel.

Asal Mula Hari Tuhan

Israel memiliki sebuah perjanjian dengan Allah, dan tujuan dari perjanjian itu adalah untuk menjadi berkat bagi segala bangsa, sebab perjanjian itu didasarkan pada perjanjian dengan Abraham. Bahkan pada peristiwa Keluaran itu sendiri, Israel membawa serta banyak orang lain yang kemudian menjadi bagian dari Israel — pola menjadi berkat bagi bangsa-bangsa ini sudah ada sejak awal.

Menaati perjanjian berarti menerima berkat yang nyata dan dapat dirasakan: tanah yang subur dan berkelimpahan, damai dan kemenangan atas musuh-musuh, Allah tinggal bersama umat-Nya, dan kebebasan, sebab mereka tidak akan lagi menjadi budak. Tetapi ketika Israel gagal menaati perjanjian itu, mereka justru mengalami kutuk, yang — setelah banyak pasang surut — akhirnya berujung pada pembuangan dan Allah meninggalkan Israel.

Meski demikian, Allah berjanji akan berbelas kasihan kepada mereka, dan banyak nabi berbicara tentang pemulihan yang akan datang ini bahkan selama masa pembuangan itu sendiri: Yesaya (pasal 40–55), Yehezkiel, Daniel, dan Obaja.

Ketika Israel akhirnya kembali dari pembuangan, keadaan tampak menjanjikan pada permukaannya — bait Allah dibangun kembali di bawah Ezra, tembok kota dibangun kembali di bawah Nehemia, dan Yosua diangkat sebagai imam besar bersama Zerubabel sebagai penguasa yang akan mendirikan Kerajaan Allah. Tetapi jika diperhatikan lebih dekat, pemulihan yang dijanjikan itu jelas belum tiba: umat itu masih berada dalam perbudakan dalam segala arti yang berarti, mereka tidak memiliki tanah mereka sendiri di bawah kekuasaan Persia, berkat Tuhan belum juga datang dan negeri itu masih berada di bawah kutuk, serta pencurahan Roh belum terjadi.

Jadi, dengan ukuran apa pun yang penting, Israel sebenarnya masih dalam pembuangan — dan Alkitab menyatakan bahwa pembuangan itu hanya akan berakhir dengan Hari Tuhan. Itulah beban yang dibawa oleh para nabi yang menulis setelah masa kembalinya umat itu: Hagai, Zakharia, Yesaya 56–66, dan Maleakhi.

Isi dari Hari Tuhan

Hari Tuhan, kalau begitu, bukan sekadar “akhir dunia” — melainkan hari yang akhirnya mendatangkan apa yang selalu dijanjikan oleh perjanjian itu. Hari itu membawa penghakiman atas musuh-musuh Israel, pemulihan Israel, penghakiman atas orang-orang fasik di Israel, dan penggenapan janji-janji Allah yang tersisa, seperti pencurahan Roh Kudus.

Tetapi hal ini hanya akan terjadi bagi sisa Israel — bukan bagi bangsa itu secara keseluruhan.