Penuh dengan Rujukan Silang Alkitabiah
Salah satu kunci untuk memahami Kitab Wahyu adalah menafsirkannya melalui Alkitab itu sendiri, sebab kitab ini penuh dengan rujukan kepada bagian-bagian lain dari Kitab Suci. Tetapi benarkah demikian, dan apakah para pembaca pertama sungguh-sungguh menangkap rujukan-rujukan itu?
Rujukan yang Padat
Seperti yang akan kita lihat sepanjang kajian ini, sejumlah besar materi Alkitab melatarbelakangi teks Kitab Wahyu, dan materi itu jarang sekali sekadar dikutip begitu saja. Lebih sering materi itu digabungkan, dibalik, atau ditempatkan dalam konteks yang sama sekali baru.
Hal itu memunculkan sebuah pertanyaan yang wajar: mampukah para pembaca mula-mula benar-benar memahami informasi yang begitu padat itu?
Para Pembaca Pertama
Para pembaca pertama sesungguhnya cukup mampu memahaminya, karena beberapa alasan.
- Jemaat-jemaat di Asia Kecil, tempat tinggal para pembaca pertama Kitab Wahyu, terdiri dari orang percaya Yahudi maupun bukan Yahudi yang memiliki kontak erat dan berkelanjutan dengan sinagoge-sinagoge — sebuah pola yang dapat kita lihat di sepanjang Kisah Para Rasul.
- Jemaat-jemaat di Smirna dan Filadelfia secara khusus memiliki hubungan erat dengan sinagoge-sinagoge yang mengandaikan pengetahuan yang mendalam tentang Perjanjian Lama. Asumsi yang sama tampak dalam janji kepada Filadelfia bahwa lawan-lawan dari sinagoge suatu hari akan mengakui bahwa Yesus mengasihi jemaat ini. Jika, seperti dipikirkan sebagian penafsir, hal itu berarti mereka akan menjadi percaya, maka pemberitaan jemaat itu pasti sangat bertumpu pada upaya menunjukkan dari Perjanjian Lama bahwa Yesus menggenapinya (Beale, hlm. 82).
- Rujukan kepada nabi-nabi palsu dengan sebutan Perjanjian Lama, Izebel menunjukkan bahwa jemaat-jemaat ini sudah cukup fasih dengan materi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sehingga materi itu dapat diputarbalikkan oleh guru-guru palsu sejak awal.
- Akan sangat aneh jika Yohanes memenuhi surat-suratnya kepada jemaat-jemaat ini dengan rujukan-rujukan Perjanjian Lama — manna, Izebel, bait Allah, Yerusalem Baru, Bileam — yang sama sekali tidak dipahami oleh para penerimanya.
- Yohanes memandang dirinya sebagai seorang nabi, sebuah peran yang tampaknya diterima oleh jemaat, yang berarti ia kemungkinan besar juga berperan sebagai guru yang telah mengajarkan Perjanjian Lama kepada mereka — ini pun menjadi penjelasan lebih lanjut mengapa ajaran-ajaran palsu yang memutarbalikkan hal-hal yang sudah dikenal dapat dengan mudah dibongkar di jemaat-jemaat ini.
- Kita juga tahu dari Kisah Para Rasul dan bagian-bagian lain dalam Perjanjian Baru bahwa orang Yahudi maupun bukan Yahudi diajar dari Perjanjian Lama, Alkitab gereja mula-mula: di Berea, di Efesus, bersama Timotius sebagai guru, dan dalam penekanan Paulus akan pentingnya seluruh Kitab Suci.
Bagaimana Kitab Wahyu Memakai Perjanjian Lama
Kitab Wahyu memuat lebih banyak rujukan Perjanjian Lama daripada kitab mana pun dalam Perjanjian Baru, namun kitab ini tidak pernah mengutip secara resmi — tidak ada “seperti ada tertulis”. Semuanya berupa kiasan: kata-kata, gambaran, dan seluruh adegan diambil dan dirajut ke dalam penglihatan Yohanes. Jumlahnya berkisar antara sekitar 200 hingga lebih dari 600, tergantung seberapa ketat sebuah gema dihitung, dan lebih dari separuhnya berasal dari Yesaya, Yehezkiel, Daniel, dan Mazmur (Beale, hlm. 77–78).
Tiga contoh dari kajian ini:
- Sangkakala-sangkakala memainkan ulang tulah-tulah di Mesir — hujan es, air menjadi darah, kegelapan, belalang — sehingga para pembaca mendengar bahwa Allah sedang membongkar kedok Firaun yang baru. → Sangkakala-Sangkakala dalam Wahyu
- Yang 144.000 dihitung suku demi suku, seperti sensus orang-orang Israel yang sanggup berperang di padang gurun (Bilangan 1). → Yang 144.000
- Pelacur itu memikul dakwaan yang diajukan para nabi terhadap kota-kota yang tidak setia: Yehezkiel 16 menyebut Yerusalem sebagai pelacur, Yesaya 23 dan Nahum 3 mengatakannya tentang Tirus dan Niniwe. → Siapakah pelacur Babel? (2)
Pembaca yang mengenal sumbernya mendengar jauh lebih banyak daripada yang tidak — itulah sebabnya penjelasan-penjelasan di situs ini terus kembali kepada Perjanjian Lama.