Alat-Alat Sastra dalam Kitab Wahyu
Bagaimana sebenarnya para pembaca pertama membaca Kitab Wahyu? Tidak ada judul, tidak ada pemisah paragraf, tidak ada pasal atau ayat — hanya rangkaian teks yang mengalir tanpa henti. Mari kita lihat cara membaca yang sangat berbeda ini, dan apa artinya bagi cara kita mempelajari kitab ini sekarang.
Pengantar
Sastra Ibrani bekerja dengan cara yang sangat berbeda dari sastra kita. Sastra itu tidak memiliki pasal atau ayat, hanya huruf-huruf yang tersusun dalam baris-baris dengan sangat sedikit petunjuk grafis atau visual, karena teks itu dimaksudkan untuk dibacakan dan didengar, bukan dipindai dengan mata di atas halaman.
Meski begitu, teks tersebut membawa petunjuk-petunjuk tentang di mana sebuah kisah dimulai dan berakhir, bagaimana kisah-kisah itu saling berhubungan dan tersusun, dan di mana letak penekanannya — bahkan sebuah jeda yang disengaja dalam struktur itu pun dapat memberi sinyal kepada pembaca. Belajar mengenali struktur-struktur ini memberi kita pemahaman yang jauh lebih kaya tentang teks, tetapi kita harus berhati-hati agar tidak memaksakan pola pada bagian-bagian yang sebenarnya tidak dimaksudkan demikian oleh penulisnya.
Langkah-Langkah Awal
Untuk membaca jenis sastra ini dengan baik, akan membantu jika kita mengikuti tiga langkah berikut.
Mengenali satuannya (unit).
- Satuan dapat terjadi pada tingkat satu kata saja atau mencakup blok teks yang jauh lebih besar.
- Hal ini terjadi dalam skala bertingkat, karena otak manusia tidak dapat melacak terlalu banyak satuan kecil sekaligus — sehingga satuan-satuan itu biasanya dikelompokkan menjadi set berisi 3 sampai 9, yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah “satuan super” yang lebih besar.
Menganalisis bagaimana satuan-satuan ini disusun.
- Susunannya bisa berulang, paralel, atau nonlinear.
Mempertimbangkan bagaimana struktur itu berkaitan dengan makna.
- Struktur menunjukkan di mana letak fokus penulis.
- Dalam struktur simetris, penekanan biasanya berada di tengah.
- Perpaduan antara paralelisme dan pertentangan dalam sebuah struktur juga dapat digunakan untuk memberi penekanan.
- Jeda dalam alur juga dapat menarik perhatian pembaca.
Mengenali Satuan-Satuan
Langkah pertama, yaitu mengenali satuan itu sendiri, terbagi menjadi tiga bagian: penanda awal, penanda akhir, dan kemandirian.
Penanda awal dapat muncul sendiri atau dalam kombinasi:
- sebuah judul,
- sebuah kalimat pengantar (“inilah keturunan-keturunan”),
- rumus pembuka yang lazim (“dengarlah,” “beginilah firman TUHAN”),
- sebuah pertanyaan retoris,
- pergeseran waktu, tempat, tokoh atau pembicara, tema, genre, tempo, kala (tense), atau suasana.
Penanda akhir dapat mencakup:
- sebuah rumus penutup,
- sebuah refrein puitis,
- sebuah kesimpulan atau ringkasan,
- sebuah kilas balik.
Sebuah satuan juga harus berfungsi sebagai sebuah kesatuan yang mandiri, utuh dalam dirinya, dan lengkap, yang ditandai oleh:
- keunikan dalam hal waktu, tempat, pelaku, tema, genre, atau kecepatan tindakan,
- mudah diakses oleh audiens,
- keserasian internal isinya,
- ukuran yang konsisten — biasanya 15–20 halaman (besar), satu pasal Alkitab (sedang), atau satu kalimat hingga beberapa paragraf (kecil),
- jumlah yang lazim yaitu 7 atau 13–14 satuan, meskipun 3 atau 5 juga mungkin.
Susunan Satuan-Satuan
Ada tiga jenis dasar susunan, dan semuanya juga dapat dikombinasikan:
- linear (a-b-c-d-e-f),
- paralel (a-b-c-a’-b’-c’),
- simetris (a-b-c-‘b’-a’).
Banyak kombinasi yang mungkin:
- a-b-c-d-e-a’ menggabungkan pola linear dan simetris — seperti sebuah kalimat yang dibuka dengan sebuah asumsi dan ditutup dengan ringkasan yang membuktikan asumsi itu.
- a-b-c-d-‘b’-c’-a’ adalah sebuah simetri yang dimodifikasi, memadukan pola simetris dan paralel, yang secara khusus mengarahkan perhatian pembaca pada peralihan b’-c’.
- a-a’-b-b’-c-c’-d-d’ menggabungkan pola linear dan paralel dan dapat menceritakan kisah-kisah yang paralel tetapi berbeda, seperti dalam Kej.38/2–50/26.
Kisah yang sama bahkan dapat dibaca dalam lebih dari satu pola sekaligus. Kej.37/2–50/26, misalnya, dapat dibaca sebagai a-b-c-d-e-f-g-g’-f’-e’-d’-c’-b’-a’, atau sama validnya sebagai a-a’-b-b’-c-c’-d-d’-e-e’-f-f’-g-g’.
Pola Linear
Pola linear adalah yang paling mudah diikuti. Pola ini dapat berupa:
- kronologis — kisah-kisah dengan sedikit tumpang tindih dalam garis waktu, sebuah kilas balik, atau perangkat pembingkaian lainnya, atau
- non-kronologis — disusun secara spasial (utara, timur, selatan, barat), berdasarkan pengelompokan, atau menurut abjad.
Pola Paralel
Pola paralel mengikuti skema seperti a-b-c-a’-b’-c’, di mana setiap x’ memiliki tema atau struktur yang serupa dengan x yang bersesuaian. Perhatikan Mzm.19/1–2:
- a: langit
- b: menceritakan
- c: kemuliaan Allah
- a’: langit
- b’: memberitakan
- c’: karya tangan-Nya
Beberapa bagian mungkin sama sekali tidak sesuai dengan pola — bagian itu bisa muncul di akhir (a-b-c-a’-b’-c’, d), berada di tengah (a-b-c-d-a’-b’-c’), atau, lebih jarang, muncul di awal (a-b-c-d-a’-b’-c’).
Pola paralel tidak selalu mudah dikenali, tetapi menciptakan rasa antisipasi dan kepuasan yang nyata begitu dikenali. Kita melihat efek yang sama dalam dongeng-dongeng seperti Tiga Babi Kecil: pada rumah kedua kita mengira sudah mempelajari polanya, dan pengarang kemudian dapat mengejutkan kita pada rumah ketiga, tempat ia menyampaikan pelajarannya.
Sebuah pola paralel:
- membuat materi lebih mudah diingat,
- dan dapat memperkenalkan perbandingan, kontras, penekanan, penjelasan, atau ilustrasi.
Ambil Yunus sebagai contoh. Dalam tabel-tabel di bawah ini, tebal menandai satu tema yang berulang dan miring menandai pasangannya, sehingga Anda dapat menelusuri bagaimana setiap unsur pada paruh pertama dijawab oleh padanannya pada paruh kedua:
- a: tugas Yunus dan ketidaktaatannya (1/1–3)
- b: Yunus dan para pelaut kafir: TUHAN itu murah hati (1/4–16)
- c: tanggapan Yunus atas belas kasihan TUHAN: puji-pujian (1/17–2/10)
- b: Yunus dan para pelaut kafir: TUHAN itu murah hati (1/4–16)
- a’: penugasan kembali Yunus dan ketaatannya (3/1–3a)
- b’: Yunus dan orang-orang Niniwe yang kafir: TUHAN itu murah hati (3/3b-10)
- c’: tanggapan Yunus atas belas kasihan TUHAN: kejengkelan (4/1–4)
- b’: Yunus dan orang-orang Niniwe yang kafir: TUHAN itu murah hati (3/3b-10)
- d: pelajaran dari TUHAN (4/5–11)
Struktur ini meninggalkan kesan bahwa doa Yunus yang pertama bersifat munafik dan doa keduanya bersifat egois — sebuah penilaian yang tidak pernah dinyatakan secara langsung oleh kisah ini, tetapi disampaikan sepenuhnya melalui susunannya sendiri, tanpa pernah bersifat menggurui.
Pola Simetris
Pola ini mengikuti skema seperti a-b-b’-a’, seperti dalam Yes.22/22, yang bermain dengan gagasan “membuka/menutup”:
- a: ia akan membuka
- b: dan tidak seorang pun akan menutup
- b’: ia akan menutup
- a’: dan tidak seorang pun akan membuka
Jika digambarkan, pola ini membentuk separuh kiri dari huruf X — huruf Yunani Chi — itulah sebabnya pola semacam ini disebut kiasme (chiasmus).
Teknik yang sama dapat membentuk seluruh kitab dalam Alkitab, seperti dalam Hak.3/7–16/31. Di sini juga, tebal menandai satu tema yang berulang dan miring menandai pasangannya, sehingga Anda dapat melihat bagaimana satuan-satuan luar saling menjawab di sekitar titik balik pusatnya:
- a: Otniel dan istrinya yang baik (3/7–11)
- b: Ehud dan kemenangan di tempat-tempat penyeberangan Sungai Yordan (3/12–31)
- c: Debora: tengkorak musuh diremukkan oleh seorang perempuan (4/1–5/31)
- d: Gideon: titik balik (6/1–8/32)
- c’: Abimelekh: tengkorak seorang hakim diremukkan oleh seorang perempuan (8/33–10/5)
- c: Debora: tengkorak musuh diremukkan oleh seorang perempuan (4/1–5/31)
- b’: Yefta dan perang saudara di tempat-tempat penyeberangan Sungai Yordan (10/6–12/15)
- b: Ehud dan kemenangan di tempat-tempat penyeberangan Sungai Yordan (3/12–31)
- a’: Simson dan istri-istrinya yang jahat (13/1–16/31)
Pendekatan simetris semacam ini memiliki beberapa keuntungan nyata:
- Keindahan — kualitas estetis dari sebuah penyajian yang seimbang.
- Koherensi — simetri memperkuat kesatuan keseluruhan.
- Kelengkapan — audiens merasakan struktur itu mengerucut dan menutup lingkarannya.
- Poros tandingan — ketika jumlah satuannya ganjil, seperti di atas, muncul sebuah titik balik alami yang menjadi condongan kedua sisi. Dalam contoh Kitab Hakim-Hakim, kisah Gideon adalah titik fokus itu.
- Bantuan ingatan — audiens dapat lebih mudah mengingat butir-butir yang berurutan, bahkan sering kali cukup untuk menghafal seluruh rangkaiannya.
- Peluang untuk pengulangan — membandingkan, mengontraskan, mengulang, menekankan, menjelaskan, atau menggambarkan menjadi lebih mudah.
Ada juga biayanya:
- pola ini menuntut lebih banyak dari audiens untuk mengenalinya,
- dan menuntut lebih banyak usaha dari penulis untuk menyusunnya.
Meski begitu, bentuk simetris sangat dihargai di dunia kuno, terlepas dari biaya tersebut.
Memahami Struktur-Struktur
Struktur sebuah teks sering kali membawa sebagian besar maknanya — terutama ketika teks itu tidak dimaksudkan untuk menyatakan maksudnya secara eksplisit, melainkan untuk memberi dampak, seperti cara kisah tiga babi kecil bekerja pada para pendengarnya.
Ada tiga cara utama sebuah struktur dapat menyampaikan makna:
- struktur komposisi keseluruhan,
- pengulangan yang terstruktur,
- dan posisi penekanan.
Struktur Umum
Struktur keseluruhan sebuah bagian dapat membawa pesan penulis dengan sendirinya — bentuk keseluruhannya menjadi bagian dari apa yang sedang disampaikan.
Pengulangan yang Terstruktur
Tidak setiap pengulangan struktural ada di sana untuk menyampaikan makna; kadang-kadang pengulangan itu ada semata-mata untuk keindahan artistik. Tiga jenis umum berikut memenuhi fungsi dekoratif itu:
- Struktural — membantu membangun kerangka bagi komposisi. Menyebutkan ketiga putra Nuh baik sebelum maupun sesudah air bah (Kej.6/9–10 dan 9/18–19), misalnya, menciptakan keseimbangan dan mengapit kisah itu.
- Elaborasi — satuan kedua dalam sepasang satuan mengembangkan tema lebih jauh. Kej.28/6–9 memperkenalkan istri Esau, dan Kej.36 kemudian menelusuri seluruh sisa keluarga Esau.
- Perspektif kedua — satuan kedua menceritakan kembali satuan pertama dari sudut pandang yang berbeda, atau merangkumnya. Penyeberangan Sungai Yordan diceritakan dari dua sudut: Yos.3/9–17 menunjukkan penyeberangan itu dimulai dan selesai dari sisi timur, dan Yos.4/10–13 menunjukkan peristiwa yang sama berlangsung dan selesai dari sisi barat.
Tetapi pengulangan yang terstruktur juga dapat digunakan untuk menyampaikan makna secara langsung, seperti dalam doa Yunus (Yun.2/2–9 dan 4/1–3).
Keuntungan melakukannya dengan cara ini adalah penulis dapat menyampaikan sebuah maksud secara halus, yang dihargai oleh audiens — kebanyakan orang enggan digurui dan cepat lelah dengan sebuah maksud yang ditekankan secara langsung. Struktur yang lebih halus mengundang pendengar untuk menemukan sendiri maknanya, untuk ikut terlibat, untuk memikirkannya. Hal itu membuat komunikasi menjadi lebih menarik, lebih menyenangkan, dan pada akhirnya lebih efektif. Bayangkan betapa mengguruinya kesan yang timbul jika kisah Tiga Babi Kecil dibuka dengan menyatakan moralnya begitu saja.
Sastra Ibrani mencapai hal ini dengan beberapa cara yang berbeda:
- Penekanan — mengulangi sebuah maksud untuk menegaskannya, seperti dalam Daniel 2 dan 7, di mana pola yang berulang menegaskan bahwa kerajaan-kerajaan manusia akan bangkit dan jatuh, sementara hanya Kerajaan Allah yang bertahan.
- Menegaskan sebuah pola — menarik perhatian pada sebuah pola yang berulang, terutama pola perilaku, seperti dengan Yunus dan bangsa-bangsa kafir: Yunus enggan taat kepada Allah, sementara orang-orang kafir di sekitarnya dengan sukarela menerima pesan itu dan memohon belas kasihan.
- Perbandingan — dua satuan atau lebih disandingkan untuk menunjukkan kesamaan antara hal-hal yang tampaknya tidak serupa, seperti dalam Amos 1–2, di mana Israel dihakimi dengan standar yang persis sama seperti bangsa-bangsa asing.
- Kontras — gerakan sebaliknya, menunjukkan perbedaan antara hal-hal yang tampak serupa tetapi sebenarnya tidak. Kejadian 38 dan 39 sama-sama menunjukkan seorang putra Yakub yang dihadapkan pada ajakan seksual terlarang dari seorang perempuan, dan dalam kedua kisah itu perempuan tersebut menyimpan sebuah tanda dari laki-laki itu untuk digunakan kemudian sebagai bukti — namun segala sesuatu yang lain berbeda: Yehuda gagal total namun tetap makmur, sementara Yusuf tetap setia dan justru dihukum karenanya.
- Pembalikan — menyoroti pembalikan sebuah keadaan, seperti antara 1Raj.3–11 (kebangkitan pemerintahan Salomo dan pembangunan bait Allah) dan 2Raj.18–25 (berakhirnya pemerintahan itu dan kehancuran bait Allah).
- Timbal balik — menunjukkan tindakan timbal balik di antara satuan-satuan yang bersesuaian, seperti dalam Kidung Agung 2/8–17 (pemuda itu mengajak sang gadis muda untuk bergabung dengannya) dan 7/11–8/4 (sang gadis mengajaknya bergabung dengannya di pedesaan).
- Penyelesaian (atau penggenapan) — menekankan hubungan erat antara ketegangan, penantian, atau ramalan pada pembukaan sebuah kisah dan penyelesaiannya pada penutup, seperti antara Kej.12/1–9 (kemandulan Abram dan Sara) dan 21/1–7 (kelahiran Ishak).
- Totalitas — menunjukkan totalitas sebuah fenomena dengan menampilkan kedua sisi sebuah merismus, seperti siang dan malam atau laki-laki dan perempuan, seperti antara Yes.2/10–22 (perendahan laki-laki yang sombong di masa depan) dan 3/16–17 (perendahan perempuan yang sombong di masa depan).
Posisi-Posisi yang Menonjol
Posisi dalam sebuah struktur juga dapat memperkuat atau menyampaikan makna. Pendongeng modern cenderung menempatkan pesan terpentingnya pada satuan kedua dari terakhir, karena itulah puncaknya, dan menyisakan satuan terakhir untuk penyelesaian, untuk memudar perlahan.
Sastra Ibrani bekerja secara berbeda. Dalam struktur linear dan paralel, posisi yang menonjol adalah satuan yang paling terakhir, karena itulah yang didengar audiens paling akhir.
- Dalam skema paralel dengan jumlah ganjil, satuan terakhir yang tidak berpasangan ditonjolkan karena berdiri di luar pola, seperti dalam a-b-c-a’-b’-c’-d.
- Dalam skema simetris, bagian tengah biasanya menjadi posisi yang menonjol ketika jumlah satuannya ganjil; ketika genap, penonjolan justru jatuh pada satuan pertama dan terakhir, seperti dalam Kel.21/2–22/27, di mana awal dan akhir sama-sama membahas kejahatan yang layak dihukum mati dan kebaikan kepada orang miskin.
Posisi yang menonjol itu dapat membawa beberapa jenis makna:
- Titik balik — pusatnya menandai titik balik sesungguhnya dari kisah itu, seperti dengan Ehud (Hak.3/12–30), di mana titik baliknya terjadi ketika ia membunuh sang raja. Struktur keseluruhan Kitab Hakim-Hakim juga berputar pada Gideon.
- Puncak — titik pusat yang sama juga bisa menjadi momen ketegangan tertinggi, seperti kembali terlihat dalam kisah Ehud.
- Bagian tengah — pusatnya secara langsung mewakili puncaknya, seperti pernikahan di jantung Kidung Agung 3/6–5/1, atau Salomo, pembangun bait Allah, di pusat Kitab Tawarikh (2Taw.1–9).
- Jeda yang bermakna (atau interlude) — sebuah jeda yang disengaja dalam alur tindakan atau argumen yang menyampaikan sebuah maksud yang sangat bermakna. 2Raj.2/1–8/6 menyela barisan dosa raja-raja yang nyaris tanpa henti dengan pelayanan Elisa, dan Rat.3/21–32 menyela sebuah ratapan tragis untuk merenungkan kasih Allah yang mendalam.
Nilai Analisis Struktural
Mengenali struktur-struktur ini memberi banyak manfaat.
- Menghargai keahlian sastra — kita mulai menghargai keterampilan dan ketelitian di balik teks, sehingga tulisan yang pada awalnya tampak kacau ternyata menyingkapkan dirinya sebagai susunan yang elegan.
- Mengenali batas-batas satuan — melihat strukturnya membantu kita menafsirkan teks dengan benar. 1Raj.1–2, misalnya, sesungguhnya adalah kesimpulan dari Kitab Samuel, bukan pengantar bagi sisa Kitab Raja-Raja; dan kelima Kitab Musa bersama Kitab Yosua membentuk satu kesatuan, karena kisah itu tidak pernah dimaksudkan berakhir dengan Israel hanya berada di ambang tanah perjanjian.
- Menemukan alasan di balik susunan sebuah satuan — ini memperdalam pemahaman kita tentang bagaimana teks itu mengalir. Kedua kisah Abraham berbohong tentang istrinya, misalnya, terkait dengan kedua janji tentang Ismael dan dengan perpindahan keluarga Lot. Kidung Agung menempatkan pernikahan di pusatnya karena alasan puitis, dan keintiman yang digambarkan sebelumnya bukanlah pengesahan hubungan seksual pranikah, melainkan bagian dari susunan kiastik yang disengaja. Panggilan Yesaya dalam pasal 6 tampak salah tempat, karena orang akan mengharapkannya di awal kitab, namun ia berada di pusat Yes.1–12 karena sebuah alasan.
- Memperjelas hubungan bagian-bagian dengan keseluruhan — sangat berguna dalam satuan-satuan yang panjang. Yes.26–35 dan 40–48 saling mencerminkan fungsinya, dengan Yes.36–39 berfungsi sebagai pusat tematis di antara keduanya.
- Menjelaskan pengulangan — pengulangan dapat membingungkan pembaca modern, tetapi membantu pendengar mula-mula melacak struktur teks. Refrein “petang” dan “pagi” yang berulang, serta hitungan setiap hari, menandai selesainya setiap hari dalam Kejadian 1.
- Menjelaskan satuan-satuan yang tampaknya salah tempat — beberapa bagian tampak salah tempat sampai analisis struktural memperjelas posisinya. Kejadian 38 tampak menyela kisah Yusuf, tetapi keberadaannya adalah untuk mengontraskan perilaku Yehuda dengan tindakan Yusuf di rumah Potifar — perlakuan tidak adil Yehuda terhadap Tamar, yang tidak membawa konsekuensi nyata baginya, mempersiapkan pasal berikutnya di mana Yehuda melepaskan hak kesulungannya sendiri demi Yusuf.
- Memperjelas sebuah satuan melalui padanannya — makna atau fungsi sebuah satuan sering kali dapat diperjelas hanya dengan membandingkannya dengan padanan strukturalnya di tempat lain dalam teks.