Susunan Kitab Wahyu
Harap baca terlebih dahulu
Kitab Wahyu tampak tidak teratur pada pandangan pertama — satu bencana disusul bencana lainnya, dan kemudian siklus itu dimulai lagi dari awal. Tetapi perhatikan lebih dekat, dan sebuah struktur artistik serta keterampilan yang disengaja pun tersingkap.
Tantangannya
Kitab ini penuh dengan simbol-simbol dan rujukan kepada bagian-bagian lain dari Alkitab, semuanya untuk mengingatkan kita akan tujuan kita sebagai gereja.
Kitab ini dibuka dengan apa yang telah dilakukan Allah dan apa yang diharapkan-Nya dari gereja sebagai tanggapan: menjadi terang, dan bergantung kepada-Nya.
Dari situ, jemaat-jemaat dinilai, dan hasilnya sangat mencemaskan. Hanya dua dari ketujuh jemaat yang keluar tanpa cela, dan keduanya ditempatkan pada posisi yang tampak kurang penting dalam daftar itu. Dua jemaat lainnya benar-benar sebuah bencana, mengapit rangkaian itu di awal dan akhirnya, dan tepat di tengah-tengah terdapat sebuah jemaat yang begitu bermasalah sehingga Yesus secara khusus menjadikannya sebagai contoh peringatan bagi jemaat-jemaat lainnya.
Jawabannya
Menghadapi tantangan itu, Allah memberikan sebuah jangkar bagi hidup kita: tempat penyembahan yang kekal dan tidak berubah di hadapan Allah yang kekal dan tidak berubah.
Segala sesuatu yang menyusul — meterai-meterai, sangkakala-sangkakala, dan cawan-cawan — mengalir dari tempat itu, masing-masing rangkaian berakhir dengan rangkaiannya sendiri berupa guruh, kilat, dan gempa bumi, menggemakan apa yang telah ada di ruang takhta. Bersama-sama, ketiga rangkaian ini menyingkapkan aspek-aspek berbeda dari bagaimana Kerajaan Allah akan digenapi.
Setiap dari ketiga rangkaian ini juga membawa selingannya sendiri: meterai-meterai dan sangkakala-sangkakala masing-masing berhenti sejenak untuk memperdalam tema itu, sementara sangkakala-sangkakala dan cawan-cawan masing-masing melampirkan sebuah lampiran yang mengembangkannya lebih jauh. Lampiran cawan-cawan itu berlangsung hingga pasal terakhir, yaitu Yerusalem Baru itu sendiri.
Meterai-Meterai Itu
Rangkaian pertama adalah meterai-meterai. Meterai-meterai ini menyatakan apa yang telah dicapai Yesus di kayu salib beserta konsekuensinya: menyingkapkan iblis dan menghakimi dunia karena persekutuannya dengannya, sambil juga memperhitungkan doa-doa orang-orang kudus.
Rangkaian ini disela dalam pasal 7 oleh pengumpulan bala tentara Allah, dan ditutup dengan meterai ketujuh, yang sekaligus menjadi pengantar bagi bunyi sangkakala-sangkakala.
Sangkakala-Sangkakala Itu
Sangkakala-sangkakala itu menjawab doa-doa kita, tetapi dengan sebuah kejutan yang mengherankan. Kita mungkin mengharapkan doa-doa kita membawa penghiburan dan damai; sebaliknya, yang terjadi justru kebalikannya. Sangkakala-sangkakala itu mengambil penyediaan kebutuhan dan keamanan, dan akhirnya hidup itu sendiri, sehingga setiap orang sampai pada kesadaran bahwa hanya Allah yang menjadi sumber sejati penyediaan dan keamanan.
Tetapi orang-orang menolak menerima pelajaran itu, sehingga Yohanes dipanggil sekali lagi untuk bernubuat dan bersaksi. Sebelum sangkakala ketujuh berbunyi, rahasia bait Allah disingkapkan, dan kedua saksi itu dinyatakan.
Setelah itu, kisah kemenangan Yesus atas iblis sebagai saksi yang sejati ditunjukkan, disusul dengan penyingkapan iblis dan antek-anteknya sebagai sebuah tipu daya yang gagal.
Keseluruhan rangkaian ini ditutup dengan penampilan bala tentara Allah yang setia — bala tentara yang sama yang telah kita jumpai di pasal 7 — menerima upah mereka, bersamaan dengan penghakiman atas semua orang yang setia kepada iblis dan “upah” mereka sendiri yang sangat berbeda.
Cawan-Cawan Itu
Bagian utama terakhir beralih kepada hasrat Allah yang tak kenal lelah agar umat manusia melihat Kerajaan-Nya datang. Dalam cawan-cawan itu, kita menyaksikan Allah berperang melawan setiap rintangan yang tersisa yang menghalangi keselamatan umat manusia, berakhir dengan kehancuran kerajaan iblis.
Lampiran yang melekat pada bagian ini masuk jauh lebih dalam ke rincian:
- Sasaran utama Allah adalah sundal misterius bernama Babel.
- Setelah sundal itu dihakimi, pernikahan Mempelai Kristus — yaitu gereja — akhirnya dapat berlangsung.
- Kehancuran kerajaan iblis dilaporkan dua kali, dalam pasal 19 dan 20, dengan kerajaan seribu tahun terselip di antara kedua catatan itu.
- Akhirnya, sebagai lawan yang disengaja dari sundal itu, Mempelai itu ditampilkan dalam kemuliaan penuh.
Kitab ini kemudian ditutup dengan serangkaian peringatan terakhir, menegaskan betapa seriusnya semua ini.
Untuk Dibaca Lebih Lanjut
Untuk sebuah alur pasal demi pasal melalui sisa kajian ini, beserta latar belakang tentang struktur sastra Ibrani yang mendasarinya, lihat:
- Bagaimana membaca sastra Ibrani
- Ps 1: Tantangan-tantangan jemaat
- Ps 2–3: Surat-surat kepada jemaat
- Ps 4: Penyembahan di ruang takhta
- Ps 5–6: Meterai-meterai itu dan keempat penunggang kuda apokaliptik
- Ps 7: 144.000 orang itu
- Ps 8–9: Sangkakala-sangkakala itu
- Ps 10: Kitab kecil itu
- Ps 11: Kedua saksi itu
- Ps 12: Kisah tentang Yesus
- Ps 13: Tritunggal yang tidak kudus
- Ps 14: Ketujuh malaikat itu
- Ps 16: Cawan-cawan itu
- Ps 17: Sundal itu
- Ps 20: Kerajaan Seribu Tahun
- Ps 21: Yerusalem Baru