Kisah Penciptaan
Untuk memahami akhir Alkitab, kita perlu memahami permulaannya. Tahukah Anda bahwa pohon kehidupan dari kisah kejatuhan, dan tanda yang diberikan kepada Kain, keduanya muncul kembali dalam Kitab Wahyu?
Sajak Itu
Dalam mitologi-mitologi kuno di sekitar Israel, penciptaan biasanya merupakan hasil sampingan dari sebuah pertarungan antardewa, yang muncul dari kekacauan.
Alkitab menceritakannya secara berbeda: di sana, penciptaan ditulis sebagai sebuah sajak, dengan refreinnya sendiri yang berulang — “Allah melihat bahwa itu baik, lalu jadilah petang dan jadilah pagi, hari …” — seluruh kisah ini dirangkai sebagai sebuah karya seni.
Kisah ini juga jelas disengaja dan dirancang: tiga hari pertama membentuk “rumah-rumah” penciptaan (terang, air, bumi), tiga hari berikutnya mengisinya dengan para penghuni (matahari, bulan, dan bintang-bintang; ikan-ikan; binatang darat dan udara), dan hari ketujuh merangkum semuanya dengan hari Sabat.
Dan semuanya sangat baik. Laki-laki dan perempuan, wakil-wakil Allah yang diciptakan menurut gambar-Nya, ditempatkan sebagai penguasa atas segala sesuatu — diciptakan setara, keduanya, untuk mewakili Allah.
Dramanya
Bagian Kitab Kejadian selanjutnya adalah sebuah drama yang tumbuh dari kisah penciptaan itu. Jika sajak itu memaparkan strukturnya, drama ini menyingkapkan tujuannya, dan dimulai dengan sang laki-laki dan Taman Eden.
Laki-laki itu memiliki kebebasan penuh, kecuali satu larangan: ia tidak boleh makan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.
Ia memiliki segala hal lainnya — sebuah tugas untuk mengolah dan menjaga taman itu, kepemilikan kreatif yang diwujudkan dengan memberi nama kepada binatang-binatang (dan dengan demikian memberi mereka identitas), serta hubungan yang akrab dengan Allah. Tetapi satu hal masih kurang, satu-satunya hal yang tidak disebut baik oleh Allah: ia sendirian.
Allah sendiri hidup dalam relasi dan didefinisikan olehnya — Allah adalah kasih, dan kasih hanya bermakna dalam relasi — maka Ia mencari padanan bagi laki-laki itu, tidak menemukan yang cocok di antara binatang-binatang, dan sebagai gantinya menciptakan perempuan dari dirinya. Laki-laki itu takjub dan menyebutnya “perempuan,” tetapi Allah menyebutnya “penolong” — sebuah kata yang lebih tepat diterjemahkan “penyelamat hidup.” Dan di situlah tepatnya kejatuhan itu dimulai: yang dibutuhkan sejak itu hanyalah satu titik balik, dan wujud seekor ular.
Dorongan Terakhir
Ular itu mendekati perempuan itu, bukan laki-laki itu, dan menantangnya tentang pohon pengetahuan mengenai yang baik dan yang jahat. Perhatikan betapa hati-hatinya ia agar tidak melanggar perintah yang sesungguhnya: untuk menjaga diri agar tidak pernah memakannya, ia menambahkan sebuah perintah sendiri — sebagai penjaga, mungkin atas nama laki-laki itu — bahkan untuk tidak menyentuhnya sekalipun.
Perintah tambahan itulah yang justru dimanfaatkan oleh iblis, dan perintah itu tidak memberikan perlindungan yang sesungguhnya: buah itu tampak menarik untuk dilihat, dan ia pun memakannya.
Kemudian ia memberikannya kepada laki-laki itu — dan laki-laki itu tidak perlu dicari, sebab ia telah berada di sana sepanjang waktu, berdiam diri. Keheningan itu bermakna, sebab kata Ibrani untuk “laki-laki” mengandung makna “mengingat.” Jika ada satu hal yang seharusnya ia kuasai, itu adalah mengingat apa yang telah dikatakan Allah dan siapa diri-Nya. Sebaliknya, mereka berdua gagal. Akibatnya adalah rasa malu, dan rasa malu itu mendorong mereka bersembunyi dari Allah serta saling menyalahkan — rasa malu itu merusak setiap relasi yang disentuhnya.
Rencana Pemulihan Allah
Allah bisa saja langsung membongkar kesalahan mereka, tetapi Ia tidak melakukannya. Sebaliknya, Ia berpura-pura tidak tahu dan bertanya, “Adam, di manakah engkau?” — kesempatan sempurna bagi Adam untuk keluar dari rasa malunya dan berterus terang kepada Allah.
Namun Adam hanya menunjuk pada gejala-gejala rasa malunya: ia bersembunyi karena telanjang, padahal sebelumnya ia pun telanjang tanpa rasa malu sama sekali. Maka Allah mendesak lebih langsung: sudahkah engkau makan dari pohon yang dilarang bagimu?
Bahkan pada titik itu, Adam tidak mengaku — ia menyalahkan siapa saja selain dirinya sendiri: “perempuan yang Engkau berikan kepadaku.” Dalam satu kalimat, ia berhasil menyalahkan baik Allah maupun perempuan yang baru saja begitu ia kagumi. Perempuan itu, pada bagiannya, hanya mengakui bahwa ia memakan buah dari pohon itu, bukan bahwa ia memberikannya kepada laki-laki itu.
Konsekuensinya
Allah menghakimi ular itu tanpa satu kata pun yang meringankan, dan berjanji bahwa perempuan itu akan melahirkan sang penyelamat yang akan menghancurkannya.
Penghakiman atas laki-laki itu menyebut persoalan yang sesungguhnya: “karena engkau mendengarkan suara istrimu.” Perempuan itu adalah sebuah impian yang menjadi nyata, sebuah pemberian langsung dari Allah — tetapi alih-alih membiarkan perempuan itu menariknya lebih dekat kepada Allah, laki-laki itu membiarkan pemberian Allah menggantikan Allah sendiri. Ia menaati perkataan perempuan itu, bukan perkataan Allah. Buah itu hanya menyingkapkan persoalan yang sudah ada sejak semula: sejak awal, laki-laki itu tidak pernah menuntun perempuan itu kepada Allah. Ia malah menunggu perempuan itu yang menuntun, sebuah peran yang tidak pernah diberikan kepadanya, sehingga akhirnya perempuan itu dituntun oleh ular — makhluk yang justru diberikan kepada laki-laki itu untuk dikuasai.
Hal yang Tak Terbayangkan
Mereka harus meninggalkan taman itu, tetapi terlebih dahulu rasa malu mereka ditutupi — dengan kulit binatang. Renungkanlah hal itu sejenak, sebab kulit binatang tidak tumbuh di pohon. Allah harus merusak ciptaan-Nya sendiri dan membiarkan binatang-binatang mati hanya untuk menutupi rasa malu laki-laki dan perempuan itu. Binatang-binatang itu mati menggantikan mereka, dan pakaian yang dibuat dari kulit mereka dimaksudkan untuk memastikan Adam dan Hawa tidak akan pernah melupakannya.
Sebuah Permulaan Baru
Setelah mereka meninggalkan taman itu, Hawa mengandung dan membuat sebuah pernyataan yang mencolok: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” Anak itu jelas adalah anak Adam, tetapi nama yang ia berikan kepadanya — Kain, yang berarti “harta” — menunjukkan apa yang sesungguhnya ia pikirkan. Barangkali ia berharap Kain adalah tiketnya kembali ke taman itu, sang penyelamat yang dijanjikan yang akan menghancurkan ular itu. Harapan itu menjadi semakin jelas ketika ia menamai putra keduanya Habel — yang berarti “kesia-siaan” atau “uap.”
Ledakan Itu
Berat bagi Kain untuk menanggung seluruh harapan orang tuanya, dan sama beratnya bagi Habel untuk sama sekali tidak dibebani harapan apa pun. Kedua bersaudara ini sama-sama menderita akibat kehilangan yang dibebankan orang tua mereka, dan kehilangan itu mendorong mereka untuk saling membandingkan diri.
Suatu hari mereka masing-masing membawa persembahan — Kain dari hasil ladang, Habel dari kawanan ternaknya — dan Allah menerima persembahan Habel, tetapi tidak menerima persembahan Kain. Kain pun menjadi sangat marah.
Apa persoalannya? Kain tampaknya tidak memahami alasannya, tetapi bisa jadi Habel sengaja mempersembahkan korbannya itu untuk mengenang apa yang telah dilakukan Allah di Eden guna menutupi rasa malu orang tua mereka.
Ketika kemarahan Kain semakin memuncak, Allah segera bertindak untuk memperingatkannya. Menariknya, dosa di sini tidak digambarkan sebagai sebuah tindakan yang sudah dilakukan, melainkan sebagai sebuah niat dengan tujuan yang masih terbentuk. Kain tidak mendengarkan, dan ia membunuh saudaranya. Ketika ia diperhadapkan dengan perbuatannya, ia menyesal, dan — karena merasa tidak sanggup menanggung akibat perbuatannya — Allah menaruh sebuah tanda pelindung padanya.
Skandal Itu
Keturunan Kain terus bertambah banyak, mencari perlindungan di kota-kota dan dalam inovasi-inovasi peradaban. Kemudian, pada generasi ketujuh setelah Adam, Lamekh menunjukkan wajah aslinya.
Ia adalah orang pertama yang tercatat mengambil dua istri, dan ia secara terang-terangan mengejek tanda pelindung yang telah diberikan Allah kepada leluhurnya, Kain. Ia sendiri sudah membunuh seseorang — justru hal yang seharusnya dicegah oleh tanda itu — dan menyombongkan diri bahwa konsekuensi bagi siapa pun yang menyentuhnya akan jauh lebih besar daripada konsekuensi yang dijanjikan Allah sendiri bagi Kain. Apakah ia mengklaim dirinya lebih besar daripada Allah sendiri?
Namun, dengan caranya sendiri, ia juga menjadi bahan tertawaan. Ia tidak berani mengumumkan kesombongan ini kepada dunia — hanya kepada istrinya, secara pribadi. Dan siapa sebenarnya yang tersisa untuk membalaskan dendam Lamekh jika seseorang membunuhnya? Istri-istrinya?