Bait Allah dan Kehadiran Allah

Waktu membaca: 3 menit

Ketika kita memikirkan tentang bait Allah dalam Alkitab, biasanya kita mulai dengan Salomo — atau dengan Musa, jika kita kembali ke Kemah Suci — dan berakhir dengan kehancurannya oleh orang Romawi pada tahun 70 M, atau mungkin dengan pembuangan ke Babel pada tahun 587 SM.

Tetapi kisah yang sesungguhnya dimulai sejak Kitab Kejadian dan berlanjut hingga ke Kitab Wahyu, dan jauh lebih luas daripada itu.

Taman Eden sebagai Tempat Persekutuan dengan Allah

Semuanya dimulai di Taman Eden. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dan hidup dalam persekutuan dengan mereka, memberi mereka sebuah taman untuk dipelihara dan bertemu dengan mereka di sana secara teratur.

Setelah kejatuhan, keduanya harus meninggalkan taman itu. Tanah itu sendiri dikutuk, dan keadaan hanya menjadi lebih buruk ketika Kain membunuh Habel.

Beban itu terlalu berat untuk ditanggung Kain, dan Allah menunjukkan belas kasihan kepadanya, menaruh sebuah tanda pelindung padanya. Tetapi Kain justru mencari keamanannya sendiri dan membangun sebuah kota, dan para penerusnya membawa hal itu lebih jauh lagi, membangun keamanan dan penghidupan mereka sendiri melalui kebudayaan dan kemajuan.

Garis keturunan Kain berakhir dengan Lamekh, yang mengejek perlindungan yang telah diberikan Allah kepada Kain. Dengan kata lain, kota-kota menjadi tempat perlindungan pengganti buatan manusia sendiri. Adam kemudian memiliki seorang putra lagi, dan sejak saat itu, manusia kembali mulai berseru kepada nama TUHAN. Namun kota tetap menjadi unsur penting dalam kisah ini, dan pada akhirnya membawa kepada bencana di menara Babel.

Para pembangun di Babel ingin membuat nama bagi diri mereka sendiri, tetapi sebaliknya Allah memilih untuk membuat sebuah nama bagi Abraham, yang kelak melahirkan Israel.

Allah Datang ke Kota

Allah tetap merindukan hubungan dengan manusia. Maka ketika Ia membawa Israel keluar dari Mesir (Keluaran 1–14), Ia memilih untuk hidup bersama mereka menurut syarat-syarat mereka sendiri, dengan bergabung bersama mereka mula-mula di dalam sebuah kemah dan kemudian di dalam sebuah rumah — bait Allah.

Bait Allah itu dipenuhi dengan citra yang dipinjam dari Taman Eden, mencerminkan sebuah logika sederhana: karena manusia tidak lagi dapat bersekutu dengan Allah di taman, maka Allah sebaliknya akan bersekutu dengan manusia di dalam bait-Nya. Dan sejak awal, bait Allah itu dimaksudkan agar orang-orang bukan Israel pun dapat turut ambil bagian di dalamnya.

Bagian terdalam dari bait Allah adalah tempat mahakudus, yang hanya boleh dimasuki oleh imam besar, dan hanya sekali setahun, pada Hari Pendamaian. Inilah tempat Musa berbicara dengan Allah, dan tempat kehadiran Allah berdiam.

Meskipun demikian, pada akhirnya Allah meninggalkan tempat kediaman itu — tetapi dengan sebuah janji bahwa suatu hari kelak Ia akan menyatukan kembali gambaran kota dan taman itu. Ketika Israel melanggar perjanjian, kehadiran-Nya meninggalkan bait itu, tetapi kemudian dalam kitab yang sama, kembalinya Allah dijanjikan, masuk kembali melalui Pintu Gerbang Timur.

Dalam konteks pasal-pasal itu, muncul sebuah gambaran baru yang memadukan bait Allah dengan taman itu: sebuah penglihatan tentang aliran air yang mengalir keluar dari mezbah di dalam bait itu, menjadi sebuah sungai yang membuat segala sesuatu tumbuh dan berkembang ke mana pun ia mengalir. Penglihatan itu menemukan penggenapannya di Yerusalem Baru — meskipun pada titik ini dalam kisahnya, masih ada jalan panjang sebelum kita sampai ke sana.

Bait Allah dalam Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendirilah bait Allah itu. Ketika Ia mati, tirai di depan tempat mahakudus itu terbelah menjadi dua, menunjukkan bahwa akses kepada Allah kini terbuka bagi semua orang.

Dengan kematian-Nya, bait Allah itu menjadi gereja, sebab gereja adalah tubuh Kristus.

Dan dalam Kitab Wahyu, gereja tampil sebagai Mempelai Kristus, yang juga adalah Yerusalem Baru — tempat di mana persekutuan antara Allah dan manusia, akhirnya, tidak lagi terganggu.

Selidiki Lebih Lanjut

Beale, Kim: God dwells among us

Sumber