Pengerasan Hati

Waktu membaca: 2 menit

Adilkah jika Allah mengeraskan hati Firaun, sehingga Firaun tidak punya pilihan selain bertindak kejam — dan kemudian tetap dihukum karenanya?

Allah berfirman dengan jelas bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun sehingga Firaun tidak akan membiarkan umat itu pergi. Tetapi teks Ibrani jauh lebih berlapis daripada satu ungkapan tunggal itu. Tiga kata Ibrani yang berbeda digunakan sepanjang kisah ini untuk menggambarkan pengerasan ini:

  • chazaq, berarti mengeraskan atau menguatkan
  • qashah, berarti menjadi keras, berat, atau garang
  • kabad, berarti berat, bermuatan, atau menjadi beban

Ikuti tautan-tautan ini dan Anda akan melihat bahwa setiap kata mencakup rentang terjemahan yang luas. Ketiga kata kerja ini digunakan untuk pengerasan hati Firaun oleh Allah, tetapi sama seringnya juga digunakan untuk Firaun yang mengeraskan hatinya sendiri.

Tumpang tindih inilah yang menjadi kunci bagian ini. Jika kita menelusuri contoh-contohnya, polanya menjadi jelas: Allah mengeraskan hati Firaun bukan untuk memaksanya berbuat jahat bertentangan dengan kehendaknya sendiri, melainkan supaya Firaun tidak begitu saja menyerah pada saat ia melihat karya Allah — supaya ia memiliki kekuatan untuk terus melawan Allah, yang ternyata memang berulang kali ia lakukan atas kehendaknya sendiri.

Peran aktif Firaun sendiri dalam hal ini paling jelas terlihat pada tulah hujan es yang dahsyat, di mana ia pertama kali mengakui bahwa ia telah berdosa — dan kemudian, begitu hujan es berhenti, berdosa lagi dengan mengeraskan hatinya sendiri.