Asal Mula Babel
Kisah Menara Babel, kisah nabi Daniel, dan Kitab Wahyu ternyata saling berkaitan. Berikut penjelasannya.
Menara Babel
Setelah silsilah panjang sesudah air bah, manusia memutuskan untuk membangun sebuah menara besar yang mencapai langit, dengan dua alasan yang dinyatakan:
- untuk membuat nama bagi diri mereka sendiri
- untuk memiliki sebuah titik pusat, supaya mereka tidak tercerai-berai
Itu menjadi sebuah proyek pembangunan yang sangat besar — dan di situlah bagian yang menarik dimulai. Begitu mereka mulai membangun menara mereka hingga ke langit, Allah turun untuk melihatnya, sebuah tindakan yang mengejek baik usaha mereka maupun ancaman di baliknya. Apa artinya ketika Allah prihatin bahwa tidak ada yang mustahil bagi mereka? Kemungkinan besar, mereka telah meyakinkan diri sendiri bahwa mereka dapat melakukan segalanya tanpa Dia.
Dan pada kenyataannya, tidak satu pun dari kedua tujuan mereka tercapai — yang terjadi justru sebaliknya.
- Mereka ingin membuat nama bagi diri mereka sendiri. Itu tidak pernah berhasil bagi mereka, tetapi Allah kemudian membuat sebuah nama dari Abraham.
- Mereka ingin menghindari tercerai-berai, tetapi tercerai-berai itulah tepatnya yang terjadi ketika Allah mengacaukan bahasa mereka. Hal itu baru dipulihkan kemudian, pada hari Pentakosta.
Daniel di Babel
Ketika Israel dibuang ke pengasingan di Babel, teks mencatat bahwa Babel ini berdiri di tanah Sinear — tempat yang persis sama dengan tempat menara yang asli dibangun. Detail itu menghubungkan kedua kisah ini.
Kesombongan juga menjadi benang merah di antara keduanya, begitu pula fakta bahwa Allah memotong pendek keberadaan kedua kerajaan itu. Babel pada zaman Daniel bertahan kurang dari 100 tahun sebelum dikalahkan oleh Koresh, yang telah dipanggil Allah untuk tujuan itu.
Babel dalam Kitab Wahyu
Dalam Kitab Wahyu, Babel sama eratnya terkait dengan Babel pada zaman Daniel, berbagi ciri-ciri kunci yang sama:
- tema kesombongan
- kejatuhan yang cepat
- umat Allah yang hidup dalam pembuangan