Surat kepada Laodikia

Waktu membaca: 3 menit

Surat kepada jemaat Laodikia adalah surat dalam Kitab Wahyu yang paling sering dikhotbahkan, sehingga kebanyakan dari kita sudah mengenal persoalan menjadi suam-suam kuku. Tetapi apakah kita benar-benar memahami konteks di balik gambaran itu? Hal itu lebih penting di sini daripada biasanya, sebab Laodikia adalah satu-satunya jemaat yang sama sekali tidak menerima pujian - bahkan tidak sedikit pun.

Latar Belakang Historis

Laodikia terletak di persimpangan beberapa jalur perdagangan dan merupakan kota yang sangat kaya:

  • kota ini berfungsi seperti bank Swiss-nya Asia Kecil,
  • usaha peternakan dombanya menghasilkan wol hitam yang bernilai tinggi,
  • dan kota ini memiliki pusat kesehatan ternama yang terkenal karena salep matanya.

Namun kota ini tidak memiliki mata air sendiri: airnya mengalir melalui saluran air dari mata air bermineral yang jaraknya cukup jauh, di dekat mata air panas yang juga mengalir ke Hierapolis di sebelah utara. Pada saat tiba di kota, air itu sudah mendingin dan mengandung endapan mineral yang berat - pengganti yang buruk baik untuk air panas Hierapolis yang terkenal berkhasiat penyembuhan maupun air dingin dan menyegarkan dari Kolose lebih jauh ke hulu lembah. Setiap detail teguran Yesus di bawah ini memanfaatkan reputasi lokal ini.

Pandangan Yesus

Yesus mendatangi jemaat ini sebagai “Saksi yang Setia” dan “Amin,” sebuah kontras yang tajam terhadap sebuah jemaat yang telah kehilangan kemampuan untuk melihat dirinya sendiri secara jujur. Masalah inti mereka adalah kurangnya kesadaran diri: mereka menganggap diri mereka hadiah Allah bagi dunia, padahal kenyataannya mereka gagal justru pada hal-hal yang mereka kira menjadi kekuatan mereka.

Masalahnya

Yesus mendekati mereka sebagai seorang pedagang - sosok yang mereka kenal baik - menawarkan kepada mereka secara cuma-cuma, barang-barang yang mereka yakini sudah mereka miliki dalam versi terbaik yang tersedia: emas yang dimurnikan dengan api sebagai ganti kekayaan perbankan mereka, jubah putih sebagai ganti wol hitam kebanggaan mereka, dan salep mata sejati sebagai ganti obat penyembuhan ternama mereka. Mereka menganggap bahwa menjalani hidup yang terhormat sudah cukup untuk menjadi jemaat yang hebat: tidak ada dosa yang mencolok, persepuluhan yang setia, membaca Alkitab secara teratur, dan seterusnya.

Masalah sesungguhnya adalah mereka suam-suam kuku, dan gambaran itu diambil langsung dari suhu air. Dalam budaya itu, air dihargai dalam dua keadaan: panas, berguna untuk keperluan penyembuhan seperti mata air panas Hierapolis, atau dingin, menyegarkan untuk diminum seperti air Kolose. Pasokan air Laodikia sendiri, secara khusus, tiba dalam keadaan suam-suam kuku melalui saluran air, setelah kehilangan panasnya di sepanjang perjalanan - sebuah lelucon lokal yang diubah Yesus menjadi sebuah diagnosis rohani. Jemaat ini tidak memiliki satu pun dari kedua sifat yang berguna itu: hanya air suam-suam kuku berkadar mineral tinggi yang langsung dimuntahkan begitu dicicipi.

Ada banyak cara untuk menjadi jemaat yang efektif - penginjilan, doa, penyembuhan, pelayanan kepada orang miskin, dan masih banyak lagi - masing-masing dengan tujuannya sendiri yang nyata. Jemaat Laodikia tidak menetap pada satu pun dari semua itu, dan telah menjadi sama tidak bergunanya seperti air suam-suam kuku mereka sendiri.

Solusinya

Yesus memanggil mereka keluar dari kepuasan diri mereka dan mengetuk pintu mereka. Ini bukan panggilan altar yang ditujukan kepada orang yang belum percaya - sebagian orang mendengar di dalamnya gema panggilan sang kekasih kepada yang dikasihinya: sebuah seruan keintiman bagi mereka yang sudah berada di dalam, bukan panggilan bagi orang luar.

Dan jika mereka mau mendengarkan, janjinya sungguh menakjubkan: mereka akan duduk bersama-Nya di atas takhta-Nya sendiri. Kedua puluh empat tua-tua sudah memiliki takhta mereka sendiri di sekeliling takhta Allah (Wahyu 4:4) - tetapi Yesus menawarkan kepada orang-orang Laodikia sebuah bagian dalam takhta-Nya sendiri secara khusus, sebagaimana Ia sendiri berbagi takhta Bapa-Nya (ay. 21). Apakah janji itu cukup untuk mengguncang Laodikia keluar dari cara mereka memandang diri sendiri selama ini?

Sumber