Kitab Kecil dalam Wahyu

Waktu membaca: 4 menit

Pasal 10 berpusat pada sebuah kitab kecil yang harus dimakan oleh Yohanes, dan pada rahasia ketujuh guntur, yang dimeteraikan tepat pada saat mereka berbicara. Apa makna kedua hal yang aneh ini?

Motivasinya

Setelah sangkakala keenam, tampaknya tidak ada lagi apa pun yang dapat menyelamatkan manusia dari roh-roh jahat yang sedang membinasakan mereka: enam penghakiman sangkakala telah datang dan berlalu, dan manusia tetap tidak bertobat. Jalan buntu itulah sebabnya mengapa pasal 10 dan 11 membentuk sebuah sisipan panjang di antara sangkakala keenam dan ketujuh — sangkakala ketujuh baru berbunyi menjelang akhir pasal 11.

Dibutuhkan sesuatu selain penderitaan untuk membuat manusia berpaling kembali kepada Allah, dan teksnya menunjukkan jawabannya: kesaksian setia jemaat, yang digambarkan melalui kedua saksi yang kesaksiannya berakar dalam penyembahan kepada Allah, bukan dalam bencana.

Malaikat dengan Kitab Kecil Itu

Untuk memungkinkan kesaksian itu, muncullah seorang malaikat, diselubungi awan, dengan pelangi di atas kepalanya. Entah ini Yesus sendiri atau seorang malaikat yang mewakili-Nya, adegan ini terkait erat dengan-Nya — meskipun sumpah malaikat itu pada ayat 6, yang diucapkan demi Allah dan bukan demi dirinya sendiri (menggemakan sosok malaikat dalam Daniel 12:7), menjadi salah satu alasan mengapa banyak penafsir membaca sosok ini sebagai malaikat yang mulia, bukan Kristus sendiri secara pribadi. Bagaimanapun juga, kitab kecil yang dibawanya mengingatkan kita pada kitab yang dibuka Yesus dahulu di pasal 5.

Ini bukan kitab yang sama, tetapi ada hubungannya. Kitab di pasal 5 hanyalah “sebuah kitab”, yang dibuka oleh Yesus untuk menyingkapkan kejatuhan Iblis; kitab yang ini secara jelas lebih kecil, dan alih-alih dibuka, kitab ini dimakan — oleh Yohanes, yang mewakili jemaat — supaya dapat diubah menjadi kesaksian.

Hubungan antara keduanya adalah soal skala: Yesus telah mengalahkan Iblis di kayu salib, dan kemenangan itulah peristiwa utamanya. Yang tersisa adalah tugas yang lebih kecil, tetapi tetap penting, yang harus dilaksanakan jemaat demi menggenapi rencana Allah sepenuhnya.

Malaikat itu menegaskan bahwa jemaat tidak perlu takut menghadapi tugas ini dengan cara menaruh satu kaki di laut dan satu kaki di darat — tanah yang sama yang kelak, di pasal 13, akan melahirkan kedua binatang itu. Berdiri di atas keduanya adalah cara untuk menegaskan otoritas atas keduanya.

Kemudian muncullah ketujuh guntur. Apa pun yang mereka katakan begitu menggoda rasa ingin tahu kita justru karena kita tidak pernah diberi tahu: Yohanes diperintahkan untuk memeteraikan perkataan mereka, bukan menuliskannya. Berbeda dengan Daniel, yang diperintahkan untuk memeteraikan kitabnya sampai “waktu akhir zaman” (Dan 12:4, 9), Yohanes kemudian justru diperintahkan untuk tidak memeteraikan sisa nubuatannya, sebab waktunya sudah dekat (Why 22:10) — kecuali di sini. Ketujuh guntur inilah satu-satunya hal yang tetap dimeteraikan untuk selama-lamanya, tanpa ada janji akan disingkapkan di kemudian hari.

Memakan Kitab Kecil Itu

Yohanes diperintahkan untuk memakan kitab itu, sebuah gambaran yang mengingatkan kita pada Yehezkiel yang memakan gulungan kitabnya sendiri: dalam kedua kasus itu, sang nabi harus menghayati pesan itu terlebih dahulu sebelum ia dapat memberitakannya. Yohanes melakukan hal yang sama di sini, menjadikan kitab itu miliknya sendiri sebelum ia dapat meneruskannya. Tetapi ada sebuah kejutan: gulungan kitab Yehezkiel, betapa pun suramnya isinya, rasanya selalu manis. Kitab Yohanes justru berubah pahit di dalam perutnya — sebuah peringatan yang sudah tertanam dalam penugasan itu sendiri, bahwa pesan ini akan menuntut harga darinya. Jadi, apa sebenarnya isi kitab itu?

Rasanya menceritakan kisahnya. Manis di mulut — yaitu apa yang telah dikerjakan Yesus — dan pahit di perut: penghakiman yang masih akan datang atas dunia, serta harga yang harus dibayar karena bersaksi kepada dunia yang membenci jemaat karena kesaksian itu, kebencian yang tidak boleh dibalas setimpal oleh jemaat, sebab jemaat dipanggil untuk mengikuti jejak Yesus, bukan untuk mengancam sebagaimana Ia diancam.

Jadi, apa sebenarnya kitab kecil ini? Setelah memakan kitab itu, Yohanes diberi tahu bahwa ia harus bernubuat lagi — bukan hanya tentang Israel, seperti Yehezkiel, melainkan tentang banyak suku bangsa, bangsa, bahasa, dan raja Pasal-pasal berikutnya menjawab pertanyaan ini dengan menunjukkannya dalam tindakan: inilah kesaksian yang dibawa jemaat kepada bangsa-bangsa, dan yang pada akhirnya akan disampaikan jemaat secara tuntas.

Untuk memperdalam

Sumber