Murka Anak Domba

Waktu membaca: 3 menit

Apa itu murka Anak Domba? Apakah itu mendukung tindakan perang atas nama iman?

Aku akan menjawab pertanyaan kedua lebih dulu: sudah pasti tidak. Perjanjian Baru menyatakan dengan sangat jelas bahwa peperangan kita bersifat rohani.

Inilah teksnya: Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut, dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah. Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buahnya yang mentah, apabila ia digoncang angin yang kencang. Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya. Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung. Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: Guguplah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta itu dan terhadap murka Anak Domba itu. Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?

Murka Anak Domba

Murka Anak Domba terdengar seperti tema yang meliputi seluruh Alkitab, tetapi ungkapan itu sendiri hanya muncul satu kali, tepat di sini, dalam meterai keenam. Murka itu nyata: surga sendiri mengumumkannya (11:18; 14:10; 16:19), dan pada akhirnya Anak Domba melaksanakannya (19:15).1 Penghakiman-Nya bersifat final - keterpisahan dari Allah - tetapi itu bukan peperangan manusia. Satu-satunya senjata-Nya adalah pedang yang keluar dari mulut-Nya (19:15, 21): firman-Nya.

Adegan ini mengingatkan pada Hosea, di mana Israel, yang dipermalukan dan malu karena penyembahan berhala mereka, berusaha bersembunyi dari Allah - yang sendiri dapat ditelusuri kembali pada kejatuhan manusia, ketika Adam dan Hawa berusaha bersembunyi dari Allah setelah mereka berdosa.2

Perhatikan siapa yang berbicara. Kata-kata itu diucapkan oleh orang-orang yang ketakutan, yang bersembunyi karena mereka tahu apa yang telah mereka perbuat. Manusia sudah bersembunyi dari Allah sejak Eden, dan sekarang mereka melihat siapa Anak Domba itu sebenarnya. Adegan ini memperlihatkan ketakutan mereka, bukan Allah yang murka dan ingin mencelakakan mereka.

Makna Murka

Murka Allah bukanlah ledakan amarah yang tiba-tiba.

Di satu sisi, manusia baru sekarang menyadari apa yang telah mereka timbun terhadap Allah. Di sisi lain, Allah terus berusaha menjangkau manusia sampai saat terakhir, tetapi akan tiba harinya ketika waktu untuk berbalik sudah habis.

Ini semestinya tidak memberi kita kesan bahwa Allah seperti seorang pekerja sosial yang berusaha menolong, lalu menyerah karena manusia tidak mau bekerja sama. Sebaliknya, akan tiba saatnya Ia menghadapkan manusia dengan konsekuensi dari perbuatan mereka sendiri.3

Pentingnya Murka

Kamu mungkin menganggap murka Allah sebagai topik yang sulit secara etis maupun teologis - tetapi itu mungkin karena kamu, bahkan orang tuamu, hidup dalam situasi yang secara historis unik:

  • Kamu tidak berada di bawah kekuasaan lalim atau penyalahgunaan ekonomi dan politik.
  • Kamu tidak memiliki pengalaman tentang perdagangan manusia.
  • Kamu tidak pernah dianiaya karena latar belakang etnismu atau keyakinan agama maupun politikmu.
  • Kamu tidak pernah menyaksikan teman dan keluargamu mati kelaparan di sekelilingmu karena sebagian orang kaya ingin menjadi lebih kaya lagi.
  • Kamu belum pernah mengalami perang atau wabah yang membunuh semua orang karena tidak ada yang peduli.
  • Kamu bahkan mungkin memiliki perspektif dan pilihan yang nyata dalam hidupmu.

Sepanjang sejarah, sebagian besar manusia mengenal setidaknya satu dari hal-hal ini. Perbudakan, misalnya, bukanlah fenomena masa lalu, melainkan justru sedang meningkat, dan di balik praktik jahat ini ada manusia - bukan kekuatan abstrak - yang menyebabkannya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Jadi ketika Allah bertindak demi mereka yang menderita, tindakan itu adalah tindakan yang benar.

Kita bertanggung jawab atas penderitaan yang kita timbulkan bagi orang lain, dan akibat dari kejahatan kita tidak begitu saja terhapus oleh satu doa. Allah ingin hati kita yang keras seperti batu benar-benar berubah.


  1. Beale, hlm. 203, 400. ↩︎

  2. Hosea 10:8 dan Kejadian 3:8–9 melatarbelakangi adegan ini: Beale, hlm. 400. ↩︎

  3. Inilah argumen A. T. Hanson dalam The Wrath of the Lamb (London: SPCK, 1957). ↩︎

Untuk memperdalam

Sumber