Penghakiman dalam Kitab Wahyu

Waktu membaca: 2 menit

Kitab Wahyu penuh dengan gambaran-gambaran penghakiman, dan sepintas dapat terkesan seolah-olah seluruh maksudnya adalah untuk menakut-nakuti orang-orang yang tidak percaya agar bertobat. Namun kesan itu ternyata keliru, hampir dalam setiap seginya.

Beberapa Kesalahpahaman tentang Penghakiman

Tabel di bawah ini membandingkan empat anggapan umum tentang penghakiman dalam Kitab Wahyu dengan apa yang sesungguhnya didukung oleh teksnya.

AnggapanKenyataan
Kitab ini ditujukan kepada orang-orang yang tidak percaya, untuk membawa mereka kepada pertobatan.Tidak — kitab ini ditujukan kepada jemaat (gereja-gereja), agar orang-orang percaya semakin sungguh-sungguh terlibat.
Kitab ini dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan dan menakut-nakuti orang.Tidak. Ketakutan dan manipulasi bukanlah sifat-sifat gereja; di sepanjang kitab ini keduanya justru ditunjukkan sebagai sifat-sifat binatang itu. Gereja dan kitab ini sebaliknya bekerja melalui penyembahan, kesaksian, ketekunan, dan doa. Sekali lagi, kitab ini ditujukan kepada gereja, bukan kepada orang luar.
Satu-satunya tujuan penghakiman adalah untuk menghukum.Tidak. Adegan-adegan penghakiman digunakan untuk menyingkapkan iblis, untuk mengguncang rasa aman yang palsu, dan untuk menantang orang mengambil keputusan yang jelas. Hukuman memang menjadi bagian dari gambaran ini, tetapi tidak seperti yang kebanyakan orang bayangkan — lihat topik surga dan neraka. Dalam banyak kasus pun, penyebab penderitaan sama sekali bukan Allah, melainkan setan-setan atau Iblis. Bahkan dalam Perjanjian Lama, berkat dan kutuk dipaparkan sebagai sebuah sarana pendidikan: “jika kamu masih tetap tidak mendengarkan.”
Penghakiman adalah tema utama Kitab Wahyu.Bukan. Tema utamanya adalah penyembahan, disertai dengan kesaksian dan penginjilan.