Pengangkatan (Rapture)

Waktu membaca: 9 menit

Pengangkatan (rapture) adalah sebuah topik yang memikat. Topik ini telah membangkitkan imajinasi banyak orang dan membuat lebih banyak lagi ketakutan. Tetapi apa sebenarnya pengangkatan itu? Apakah hal itu alkitabiah? Dan apa artinya bagi orang-orang percaya jika hal itu benar?

Pengantar

Pengangkatan adalah keyakinan bahwa sebelum apa yang disebut Kesengsaraan Besar tiba, semua orang percaya akan diambil dan dibawa ke surga, menyaksikan penghakiman itu berlangsung dari tempat yang aman. Ini seharusnya sudah terdengar agak janggal, sebab itu berarti memperkenalkan sebuah konsep yang sama sekali baru, yang Yesus sendiri memberikan kesan yang berbeda tentangnya. Dan memang, setelah diteliti lebih dekat, gagasan ini sama sekali tidak alkitabiah — jadi jika Anda khawatir pengangkatan sudah terjadi dan Anda tertinggal, Anda dapat menyingkirkan ketakutan itu.

Sebagian orang menjadikan pengangkatan seolah-olah itu adalah pernyataan Alkitab yang jelas dan eksplisit, dan menunjuk pada ayat-ayat Alkitab tertentu yang tampaknya mendukungnya.

Artikel ini menelusuri ayat-ayat tersebut satu per satu. Dengan begitu, kita tidak hanya menunjukkan di mana argumen pengangkatan itu keliru — tetapi juga memberi contoh cara membaca Alkitab dengan lebih cermat, yang berguna jauh melampaui topik ini saja.

Bagian yang Tampak Jelas

Saudara-saudara, kami tidak mau kamu tidak mengetahui tentang mereka yang telah meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Sebab jikalau kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa Allah, oleh Yesus, akan mengumpulkan bersama-sama dengan Dia mereka yang telah meninggal. Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab Tuhan sendiri akan turun dari sorga dengan seruan perintah, dengan suara penghulu malaikat, dan dengan sangkakala Allah, dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit. Sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu, hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.

Inilah bagian yang paling terkenal yang dikutip sebagai “bukti” pengangkatan, sehingga layak untuk diamati lebih dekat. Jika dibaca dengan cermat, ternyata bagian ini memuat baik sesuatu yang terdengar seperti argumen untuk pengangkatan maupun, tepat di sampingnya, rincian-rincian yang justru terlewatkan oleh argumen itu.

Konteks yang Lebih Luas

Mulailah dengan apa yang sebenarnya menjadi pokok bahasan bagian ini: kebangkitan, bukan pengangkatan. “Diangkat” hanya muncul dalam satu klausa saja dari keseluruhan bagian ini. Kekhawatiran yang mendorong perkataan Paulus adalah bahwa orang-orang percaya di jemaat itu cemas bahwa mereka yang telah meninggal akan entah bagaimana kehilangan kesempatan ketika Yesus datang kembali. Jawabannya adalah bahwa ketika Yesus datang, semua orang akan bersama-sama dengan Kristus — orang mati dibangkitkan lebih dahulu, kemudian orang yang masih hidup bergabung dengan mereka. Inti dari bagian ini adalah pertemuan kembali, bukan pengungsian.

Memaksakan Sebuah Tafsiran pada Teks

Setiap orang membaca Alkitab dengan sebuah teologi yang sudah lebih dahulu ada di tangannya, dan kacamata itulah yang membentuk apa yang kita perhatikan. Di sini, teks mengatakan bahwa orang-orang yang masih hidup akan menyongsong Yesus di angkasa — tetapi tidak pernah dikatakan bahwa Ia kemudian berbalik dan membawa mereka naik ke surga. Gabungkan hal ini dengan poin di atas (semua ini terjadi bersamaan dengan kebangkitan orang mati), maka waktunya justru sejalan dengan Penghakiman Terakhir, yang dalam Kitab Wahyu ditempatkan tepat sebelum Yerusalem Baru turun ke bumi. Tujuan Yesus dalam adegan itu adalah bumi, bukan surga — Ia tidak datang untuk menjemput siapa pun dan membawanya pergi.

Kata Kunci yang Terlewatkan

Setiap kali sebuah kata kunci menarik perhatian seperti ini, kata itu layak diselidiki secara langsung. Jadi, apa sebenarnya arti “diangkat”? Perlu diingat bahwa tidak ada terjemahan yang benar-benar netral di sini — orang yang menerjemahkannya adalah seorang penafsir, bukan sekadar penerjemah — tetapi ada alat bantu yang memungkinkan setiap pembaca memeriksa sendiri hasil kerja itu, seperti interlinear ini.

Setelah ditelusuri, kata dasarnya adalah “harpazo,” yang pada akarnya berarti “merenggut.” Kata ini muncul di seluruh Perjanjian Baru dengan beberapa makna yang berbeda:

  • merenggut Kerajaan Surga dengan paksa,
  • seorang pencuri merampas harta,
  • Iblis mencuri benih yang ditaburkan dalam hati,
  • orang-orang hendak menjadikan Yesus raja dengan paksa,
  • seekor serigala menerkam kawanan domba,
  • tidak seorang pun dapat merenggut kita dari tangan Yesus,
  • tidak seorang pun dapat merenggut kita dari tangan Allah,
  • Filipus diangkat oleh Roh,
  • Paulus direnggut dari amukan massa dan dibawa ke tempat yang aman,
  • seseorang diangkat dalam roh ke tingkat surga yang ketiga,
  • seseorang diangkat dalam roh ke firdaus,
  • orang-orang percaya diangkat ke awan-awan bersama orang-orang yang telah meninggal,
  • orang-orang percaya diselamatkan dari api,
  • sang anak diselamatkan dari naga itu.

Maknanya sangat beragam, tetapi semuanya memiliki satu kesamaan: dalam setiap kasus, objek dari kata kerja itu mengalami sesuatu yang tidak disengaja olehnya sendiri — ia diselamatkan, direnggut dari sebuah tangan, dicuri, atau dibawa pergi — dan tidak satu pun dari makna-makna ini menggambarkan sebuah kenaikan fisik ke surga.

Namun, kata yang sebenarnya menggambarkan tindakan menyongsong Yesus dalam ayat 17 adalah kata yang berbeda: apantesis, yang hanya muncul di dua tempat lain dalam Perjanjian Baru — pada kedatangan sang mempelai laki-laki dan penyambutan yang diberikan kepada Paulus di Roma. Dalam kedua kasus itu, orang-orang keluar untuk menyambut sosok yang datang, lalu berbalik dan mengiringinya kembali menempuh jalan yang telah ia lalui. Penggunaan kata ini mencerminkan kebiasaan menyambut seorang tamu penting di luar kota lalu mengantarnya masuk. Diterapkan di sini, arah perjalanan Yesus jelas menuju ke bawah, ke arah bumi, bukan kembali naik ke surga.

Ayat-Ayat Pendukung

Gambaran khusus ini tidak pernah digunakan lagi di tempat lain mana pun dalam Alkitab. Ayat-ayat lain yang biasanya dikutip untuk mendukung pengangkatan justru bertumpu pada gambaran-gambaran yang sama sekali berbeda, sehingga kehati-hatian diperlukan setiap kali sebuah teologi dibangun di atas sebuah ayat yang tidak dikuatkan di tempat lain — terlebih lagi ketika pernyataannya singkat dan pokok bahasan utamanya sesungguhnya adalah hal yang lain sama sekali.

Jadi, bertentangan dengan penggunaan populernya, bagian ini justru menunjukkan kebalikan dari pengangkatan: Yesus turun ke bumi bersama kerajaan-Nya, bukan orang-orang percaya naik untuk menyongsong-Nya di surga.

Mereka yang Ditinggalkan

Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang seorang akan ditinggalkan; dan kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang seorang akan ditinggalkan. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

Sekali lagi, bagian ini dibaca sebagai argumen untuk pengangkatan: satu orang diangkat, yang lain ditinggalkan.

Asumsi-Asumsi

Melalui kacamata tafsiran pengangkatan, dibawa pergi tampak seperti hasil yang baik dan ditinggalkan tampak seperti hasil yang buruk. Tetapi bahasa di sekitarnya sebenarnya tidak mendukung pembacaan itu — Iblis, misalnya, adalah pihak yang meninggalkan Yesus setelah pencobaan, yang jelas bukan tanda kebaikan. Di sini, Yesus membandingkan kedatangan-Nya dengan air bah pada zaman Nuh, dan dalam kisah air bah itu, “dibawa pergi” berarti dibawa oleh penghakiman, dihanyutkan oleh air. Jika makna yang sama berlaku pada kedatangan Anak Manusia, maka “dibawa pergi” dalam konteks ini kemungkinan besar menandai orang-orang jahat, sementara mereka yang ditinggalkan justru adalah orang-orang yang selamat.

Perhatikan juga bahwa teks ini tidak pernah menyebutkan ke mana orang-orang yang “dibawa” itu dibawa. Gambaran ini bisa jadi sama mudahnya merujuk pada polisi rahasia Kekaisaran Romawi yang menangkap orang-orang percaya karena iman mereka, seperti halnya merujuk pada apa pun yang berkaitan dengan surga.

Konteksnya

Jadi, apa sebenarnya yang menjadi pokok bahasan bagian ini? Nasib pasti dari mereka yang dibawa dan mereka yang ditinggalkan sengaja dibiarkan samar — Matius bahkan mungkin menggunakan ambiguitas itu dengan sengaja. Inti sesungguhnya adalah kesiapan: sebagaimana dikatakan ayat tepat sebelum bagian ini, saat itu bisa tiba di tengah-tengah kehidupan yang biasa, tanpa peringatan lebih dahulu untuk bersiap-siap.

Perspektif Pohon Zaitun

Matius pasal 24 dan 25 juga sering dipakai sebagai argumen untuk pengangkatan. Dalam pasal-pasal ini, Yesus ditanya apa yang akan terjadi pada hari-hari terakhir, dan sebagian pembaca menafsirkan jawaban-Nya sebagai gambaran tentang masa yang dimulai dengan berdirinya negara Israel pada tahun 1948.

Namun tema-tema yang sebenarnya dibahas Yesus di sini adalah kehancuran bait Allah, dengan segala trauma dari perang Yahudi tahun 66–73, dan sebuah seruan untuk tetap setia melalui penganiayaan dan kesengsaraan yang masih akan datang. Tidak satu pun dari perumpamaan-perumpamaan ini mengaitkan dirinya pada sebuah tanggal masa depan yang spesifik; sebaliknya, semuanya menyerukan komitmen yang terus-menerus kepada Yesus. Begitu pula, etika domba dan kambing bukanlah sebuah tuntutan khusus akhir zaman — ia menggemakan sebuah standar yang berlaku di sepanjang Perjanjian Lama tentang bagaimana orang percaya memenuhi perintah-perintah Allah.

Menafsirkan perumpamaan tentang pohon ara sebagai acuan tersembunyi pada tahun 1948 dan berdirinya Israel adalah sebuah tafsiran yang sangat dipaksakan, dan tidak ada bagian lain mana pun dalam Alkitab yang mendukungnya. Gambaran itu tidak menunjuk pada negara Israel modern; gambaran itu menunjuk pada gereja, sebab dalam Perjanjian Baru gerejalah yang menerima banyak gambaran Perjanjian Lama yang dahulu diterapkan pada Israel.

Sebuah Tempat bagi Kita

Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

Bagaimana hubungan ayat ini dengan pengangkatan? Asumsinya adalah bahwa “tempat-tempat tinggal” ini adalah tempat orang-orang percaya akan menunggu selama kesengsaraan besar berlangsung.

Tetapi perhatikan baik-baik kata yang diterjemahkan sebagai “tempat tinggal”: mone. Kata ini hanya muncul satu kali lagi dalam Injil Yohanes — dalam pasal yang sama ini — di mana kata itu merujuk pada Allah yang tinggal di dalam kita. Kesejajaran itu memberikan gambaran yang berbeda: orang-orang percaya memiliki tempat tinggal di dalam Kristus, dan Kristus memiliki tempat tinggal di dalam orang-orang percaya. Dibaca dengan cara ini, “tempat” di sini berarti sesuatu yang lebih dekat dengan menjadi bagian dari sebuah keluarga daripada menempati sebuah ruangan harfiah — ini soal menjadi bagian dari keluarga Allah, bukan sebuah ruang tunggu untuk masa kesengsaraan besar.

Kapan Pengangkatan Itu Terjadi

Jika ada satu momen dalam Kitab Wahyu yang berfungsi seperti sebuah “pengangkatan,” momen itu ditempatkan pada awal pasal 4, bukan pada suatu titik yang masih akan datang.

Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu kudengar seperti bunyi sangkakala, berkata kepadaku, katanya: Naiklah ke sini dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini. Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdapat di sorga dan di takhta itu duduk seorang.

Bagian ini menggambarkan Yohanes diangkat dalam Roh untuk menerima sebuah penglihatan dari surga — sudut pandang tempat meterai-meterai, sangkakala-sangkakala, dan cawan-cawan itu semua berlangsung. Ini memberinya sebuah pandangan surgawi atas peristiwa-peristiwa itu, tidak lebih dari itu.

Tidak dikatakan sama sekali bahwa Yohanes tinggal di sana secara permanen, dan tidak dikatakan pula bahwa seluruh gereja diangkat bersamanya.

Sebaliknya, ini menggemakan pola Perjanjian Lama tentang sidang surgawi, adegan yang sama yang ditemukan dalam Kitab Yesaya atau Kitab Raja-Raja.

Kesimpulan

Setiap argumen untuk pengangkatan bertumpu pada ayat-ayat yang sebenarnya menggambarkan sesuatu yang sama sekali berbeda — ayat-ayat yang ditafsirkan secara keliru, dilepaskan dari konteksnya, atau dibaca melampaui makna sesungguhnya dari kata-kata kuncinya. Jika digabungkan, tidak ada bukti alkitabiah untuk sebuah pengangkatan.

Sumber