Penyembahan di Surga

Waktu membaca: 3 menit

Penyembahan di Surga

Wahyu 4–5

Cerita untuk dibacakan: Pintu di Langit (Pasal 4-5)
Alkitab: Wahyu 4–5

1. Ruangan mana yang paling penting?

Tanyakan: di sebuah negara, ruangan mana yang paling penting? Biasanya jawabannya ruang presiden.

Wahyu 4 membawa kita ke ruangan yang benar-benar paling penting di seluruh alam semesta — dan yang pertama kita lihat di sana bukan rapat, melainkan nyanyian.

2. Pintu yang terbuka

Yohanes melihat sebuah pintu terbuka di surga, dan sebuah suara berkata, „Naiklah ke mari."

Di dalam ada takhta, dan Dia yang duduk di atasnya, dan pelangi mengelilingi takhta itu.

Pelangi. Tanda janji dari zaman Nuh. Bahkan di ruang takhta yang paling megah, ada pengingat bahwa Allah menepati janji.

3. Semua ikut menyanyi

Ada dua puluh empat tua-tua. Ada empat makhluk. Ada kilat dan guruh. Dan semuanya menyanyi.

Yang mereka nyanyikan bukan „Engkau menakutkan", melainkan „Kudus, kudus, kudus" dan „Engkau layak" — karena Dia yang menciptakan segala sesuatu.

4. Gulungan kitab dan tangisan

Lalu muncul masalah. Ada gulungan kitab di tangan kanan Dia yang duduk di takhta, tertutup tujuh meterai, dan tidak ada seorang pun yang layak membukanya.

Yohanes menangis. Menangis sungguhan. Karena gulungan itu berisi rencana Allah untuk memperbaiki dunia — dan kalau tidak ada yang bisa membukanya, tidak ada yang berubah.

5. Singa yang ternyata Anak Domba

Seorang tua-tua berkata, „Jangan menangis! Singa dari suku Yehuda telah menang."

Yohanes menoleh untuk melihat singa itu.

Dan yang dia lihat adalah seekor Anak Domba, seperti telah disembelih.

Ini mungkin momen paling penting dalam seluruh kitab. Yang menang bukan yang paling ganas. Yang menang adalah yang memberikan diri-Nya.

6. Nyanyian menjadi lebih besar

Begitu Anak Domba mengambil gulungan itu, nyanyian meluas — dari empat makhluk, ke tua-tua, ke malaikat yang tak terhitung, sampai ke segala makhluk di langit, di bumi, dan di bawah bumi.

Semesta ikut bernyanyi.

Ayat hafalan: „Anak Domba yang disembelih itu layak menerima kuasa." (Wahyu 5,12)

Lihat sendiri

Dua menit hening. Tidak ada yang harus berbicara.

Pejamkan matamu. Kamu berdiri tepat di dalam pintu yang terbuka.

Apa yang kamu dengar? Ada guruh yang keluar dari takhta, nyanyian yang tidak berhenti, dan bunyi seperti banyak sekali sungai.

Apa yang kamu cium? Ada dupa yang terbakar, dan dupa itu terbuat dari doa-doa.

Apa yang kamu rasakan — apakah hangat? Apakah lantainya kokoh? Apakah ada angin?

Sekarang lihat tanganmu sendiri. Apakah kamu sedang memegang sesuatu yang tidak ingin kamu lepaskan?

7. Doa

Bapa, terima kasih karena di pusat segala sesuatu ada nyanyian, bukan ketakutan. Yesus, terima kasih karena Engkau menang dengan memberikan diri-Mu. Amin.

Lampiran: Ide untuk pengajar

Pembuka: Pertanyaan tentang ruangan terpenting. Bandingkan dengan ruang takhta.

Ide kerajinan: Gambar takhta dengan pelangi, dan anak-anak menempel diri mereka di antara yang menyanyi.

Pertanyaan:

  1. Mengapa Yohanes menangis?
  2. Mengapa mengejutkan bahwa singa itu ternyata Anak Domba?
  3. Apa artinya bahwa ruangan terpenting di alam semesta penuh nyanyian?

Usulan lagu: Lagu penyembahan yang benar-benar dinyanyikan bersama — biarkan pelajaran ini menjadi pelajaran yang bernyanyi.

Catatan persiapan: Momen singa-menjadi-Anak-Domba di 5,5-6 layak dijeda. Bacakan dua ayat itu berturut-turut dan tanyakan apa yang mereka perhatikan.