Wahyu 6: Empat Penunggang Kuda dan Murka Sang Anak Domba
Cerita untuk dibacakan: The Seals
Alkitab: Wahyu 6
Ketika Pihak yang Menang Ternyata Palsu
Kamu mungkin pernah melihat seseorang membangun pengikut di dunia maya dengan menjanjikan sesuatu yang besar — sebuah gaya hidup, jalan pintas menuju kesuksesan, sebuah tujuan yang layak diperjuangkan — dan itu terlihat tak terhentikan sampai akhirnya tidak lagi. Mungkin kamu pernah melihat itu terjadi pada seorang teman: mereka tertarik ke dalam sebuah kelompok, sebuah hubungan, sebuah ideologi yang menjanjikan penerimaan dan kekuatan, dan butuh waktu sebelum ada yang menyadari kehancuran yang ditinggalkannya. Bagian yang menakutkan bukan bahwa penipuan itu jelas-jelas jahat sejak awal. Tapi bahwa itu terlihat seperti sebuah kemenangan.
Wahyu 6 dibuka dengan persis jenis adegan itu, dan itu lebih meresahkan dari yang terlihat pertama kali.
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Yohanes melihat empat penunggang kuda dilepaskan satu per satu, dan yang pertama adalah yang aneh. Dia menunggangi kuda putih, memegang busur, memakai mahkota, dan menunggang keluar “sebagai penakluk yang bertekad menaklukkan.” Putih dan mahkota dan penaklukan terdengar seperti hal-hal baik dalam Wahyu — Yesus menunggangi kuda putih nanti dalam kitab ini, memakai banyak mahkota, dan disebut penakluk juga. Jadi apakah penunggang ini Yesus, atau gambaran injil yang pergi ke seluruh dunia sebelum masa-masa sulit datang?
Lihat lebih dekat dan argumen itu runtuh. Busur dalam Alkitab juga terkait dengan penipuan — busur pertama yang disebutkan dalam Kitab Suci milik skema Yakub untuk mencuri berkat melalui penyamaran. Mahkota bukan eksklusif milik Yesus dalam kitab ini juga; kekuatan-kekuatan jahat memakainya juga. Dan “menaklukkan” di tempat lain dalam Wahyu menggambarkan sang binatang mengalahkan umat Allah, bukan Yesus menyelamatkan mereka. Yang paling menunjukkan, pengajaran Yesus sendiri tentang akhir zaman — dalam Markus, Matius, dan Lukas — dibuka setiap kali dengan peringatan yang sama, di posisi yang sama: “Waspadalah supaya tidak ada yang menyesatkan kamu.” Hanya setelah peringatan itu Dia menyebutkan perang, lalu kelaparan. Itu urutan persis dari tiga penunggang kuda pertama. Penunggang pertama bukan Yesus. Dia adalah tiruan Yesus — berpakaian untuk terlihat seperti kemenangan, dikirim keluar lebih dulu secara khusus untuk menipu.
Penunggang kedua membawa perang. Yang ketiga lebih aneh: dia memegang sepasang timbangan, dan sebuah suara berteriak memberi harga — upah sehari untuk sedikit jatah gandum, tiga kali lipat itu untuk jelai, sementara minyak dan anggur dilindungi dari kerusakan. Itu bukan gambaran kelaparan umum. Barang-barang mewah tetap tidak tersentuh dan bahkan naik nilainya, sementara harga makanan untuk bertahan hidup menjadi menghancurkan bagi orang miskin. Itu ekonomi yang curang untuk melindungi yang nyaman sementara orang biasa tidak mampu makan. Suara itu bukan Allah memerintahkan penderitaan — itu adalah teriakan protes terhadap ketidakadilan itu. Penunggang keempat, Maut, sekadar merangkum ke mana semua ini berujung.
Disatukan: sebuah injil palsu yang menjanjikan kemenangan, didukung oleh kekuatan melawan siapa pun yang tidak mau membelinya, disokong oleh sebuah ekonomi yang menghukum yang miskin untuk melindungi yang kaya — dan semuanya berkumpul menjadi kematian. Itu bukan nubuat tentang sebuah peristiwa masa depan yang jauh saja. Itu gambaran bagaimana penipuan, kekuasaan, dan keserakahan selalu bekerja bersama, dulu dan sekarang.
Kemudian datang meterai keenam: langit menjadi gelap, dunia berguncang, dan semua orang — raja-raja, jenderal-jenderal, orang kaya, semua orang — bersembunyi di gua-gua memohon gunung-gunung untuk menimpa mereka dan menyembunyikan mereka dari “murka Sang Anak Domba.” Perhatikan apa yang sebenarnya sedang ditunjukkan di sini: bukan Allah mengamuk secara membabi buta, tapi orang-orang ketakutan karena akhirnya mereka melihat apa yang telah mereka bangun dan siapa yang telah mereka sakiti. Kata Yunani untuk murka di sini menggambarkan sesuatu yang berkembang perlahan selama waktu yang lama, bukan sumbu pendek. Itu insting yang sama yang dimiliki Adam dan Hawa — bersembunyi dari Allah setelah mereka tahu mereka telah berbuat salah. Bagian ini tidak pernah benar-benar menunjukkan reaksi Allah. Itu menunjukkan rasa bersalah manusia yang akhirnya menyusul dirinya sendiri.
Di mana Kamu Sudah Kuat
Kamu mungkin punya radar yang lebih tajam dari yang biasanya diakui orang dewasa dalam menemukan yang palsu. Kamu biasanya bisa tahu ketika kepercayaan diri seorang influencer adalah pertunjukan, ketika sebuah “gerakan” yang dihebohkan seseorang sebenarnya cuma skema, ketika orang yang menjanjikan jawaban mudah sedang menjual sesuatu. Insting itu — untuk bertanya “tunggu, apa yang sebenarnya terjadi di sini, di balik kemasannya?” — persis kemampuan yang diminta bagian ini untuk kamu latih dalam skala yang lebih besar.
Ajakan untuk Bertumbuh
Inilah pertanyaan lebih sulit yang diajukan bagian ini kepadamu: murka Allah bisa terasa sulit, bahkan memalukan, untuk dibela di hadapan teman-temanmu. Tapi ketidaknyamanan itu sebagian karena kamu tumbuh di salah satu sudut sejarah manusia yang paling terlindungi dan nyaman. Kebanyakan orang yang pernah hidup telah mengenal perang, kelaparan, perbudakan, atau penganiayaan dari dekat. Ketika kamu mendengar “murka Allah,” coba bayangkan itu bukan seperti amarah, tapi seperti ini: seorang orang tua yang baik yang sudah lama menyaksikan seseorang menyakiti orang-orang yang mereka cintai — dan yang akhirnya bertindak, bukan karena sumbu pendek, tapi karena kerugian nyata bagi korban nyata pada akhirnya harus dijawab. Bertumbuh di sini berarti belajar melihat murka sebagai bagian dari keadilan Allah bagi yang dieksploitasi, bukan sebagai tambahan menyeramkan pada karakter-Nya.
Pertanyaan Diskusi
- Pernahkah kamu melihat sesuatu di dunia maya atau kelompok teman yang terlihat seperti kemenangan pada awalnya — popularitas, kepercayaan diri, sebuah tujuan — tapi ternyata manipulatif setelah kamu melihat lebih dekat? Apa yang membuatmu curiga?
- Menurutmu kenapa Wahyu menunjukkan penunggang Yesus-palsu lebih dulu, sebelum menunjukkan kehancuran yang dia bawa? Apa yang itu katakan tentang bagaimana penipuan biasanya bekerja?
- Apakah memikirkan murka sebagai “keadilan yang berkembang perlahan” alih-alih “amarah mendadak” mengubah perasaanmu tentangnya? Kenapa atau kenapa tidak?
- Siapa di dunia sekarang yang berada dalam posisi korban penunggang kuda ketiga — orang-orang yang tersingkir dari apa yang mereka butuhkan sementara kemewahan tetap terlindungi? Seperti apa rasanya bagimu untuk peduli tentang itu sekarang?
Doa Penutup
Tuhan, berikan kami mata untuk melihat melampaui apa yang cuma terlihat seperti kemenangan, dan kesabaran untuk menunggu keadilan-Mu alih-alih menuntutnya bekerja sesuai jadwal kami. Terima kasih karena Engkau melihat penderitaan orang-orang yang diabaikan dunia. Jauhkan kami dari bersembunyi dari-Mu dalam rasa bersalah, dan sebaliknya tarik kami dengan jujur ke dalam hadirat-Mu. Amin.