Wahyu 20: Kerajaan Seribu Tahun

Waktu membaca: 6 menit

Lebih banyak teori daripada hampir bagian lain mana pun

Kerajaan seribu tahun dalam Wahyu 20 telah menghasilkan lebih banyak teori yang bersaing daripada hampir bagian lain mana pun dalam kitab ini. Alih-alih memulai dari sebuah teori dan membacanya kembali ke dalam teks, marilah kita memulai dari teks itu sendiri dan konteksnya, lalu melihat apa yang muncul.

Beberapa pertanyaan yang layak dipegang sejak awal: siapa yang memerintah, atas siapa, dan di mana? Mengapa teks ini membutuhkan sebuah milenium sama sekali, jika alternatifnya sekadar ciptaan baru yang kekal? Dan di manakah lagi dalam Kitab Suci sebuah kerajaan seribu tahun secara harfiah muncul, di luar bagian ini saja?

Satu bagian konteks membentuk segalanya: bagian ini berada di dalam sebuah kiasme yang lebih besar — sebuah struktur yang mengatur materi secara simetris, bukan secara kronologis ketat. Itu berarti sebuah adegan bisa mengunjungi kembali sebuah tema sebelumnya dari sudut yang baru, alih-alih menggambarkan sebuah peristiwa baru yang lebih belakangan. Peganglah kemungkinan itu tetap terbuka saat kita membaca.

Sebuah kata kecil, sebuah keputusan besar

Pasal 20 dimulai dengan sederhana: “Lalu aku melihat…” Bagaimana engkau membaca satu kata itu membentuk segalanya. Itu bisa berarti “selanjutnya, dalam waktu” — iblis diikat setelah pertempuran terakhir pasal 19, dan segala sesuatu yang menyusul terjadi dalam urutan yang ketat. Atau itu bisa sekadar memperkenalkan sebuah penglihatan baru, tanpa mengklaim apa pun tentang tempatnya dalam waktu relatif terhadap apa yang terjadi sebelumnya.

Melihat bagaimana kata “lalu” berfungsi di sepanjang Kitab Wahyu, sebuah pembacaan temporal adalah pengecualian, bukan aturan — digunakan dengan cara itu hanya sesekali, dan biasanya dijelaskan oleh konteks, bukan oleh kata itu sendiri. Paling sering, “lalu aku melihat” sekadar berpindah ke penglihatan berikutnya.

Dua pertempuran, atau satu diceritakan dua kali?

Ada kesejajaran yang kuat antara pertempuran Yesus dalam Wahyu 19 dan pertempuran melawan Gog dan Magog dalam Wahyu 20:7-10, yang keduanya secara dekat mengikuti kedua penglihatan Yehezkiel tentang Gog dan Magog dalam pasal 38-39. Semua bagian ini berbagi bentuk yang sama: sebuah pengumpulan besar untuk perang, dan kemenangan Allah yang total dan final. Jika kesejajaran-kesejajaran ini berarti seperti yang tampaknya, pertempuran Yesus dalam pasal 19 dan pertempuran Gog-dan-Magog dalam pasal 20 mungkin adalah peristiwa yang persis sama, digambarkan dua kali dari sudut yang berbeda — yang akan berarti seribu tahun itu sesungguhnya mendahului, bukan mengikuti, peristiwa-peristiwa yang sudah dikisahkan dalam pasal 19.

Urutan ketujuh cawan menunjuk ke arah yang sama: cawan-cawan itu secara eksplisit disebut “malapetaka-malapetaka yang terakhir” (Wahyu 15:1), dan pertempuran terakhir digambarkan secara rinci dalam pasal 19. Adegan pertempuran mana pun yang dikisahkan setelah titik itu paling wajar dibaca sebagai mengunjungi kembali peristiwa yang sama dari sudut lain, bukan sebagai sebuah krisis yang sungguh-sungguh terpisah dan lebih belakangan — meskipun perlu jujur bahwa argumen ini, dengan sendirinya, tidak sepenuhnya menyelesaikan pertanyaan itu; ini bersifat menyarankan, bukan menentukan, dan membutuhkan kesejajaran-kesejajaran tekstual lain yang lebih langsung untuk membawa bobot yang sungguh-sungguh.

Pengikatan Setan

Pasal 20 dibuka dengan Setan diikat selama seribu tahun — dan adegan ini secara dekat menyejajarkan catatan pasal 12 tentang kekalahan Setan pada kedatangan pertama Yesus. Keduanya dibuka dengan sebuah adegan surgawi; keduanya menggambarkan sebuah pertempuran melawan Setan; keduanya menggunakan gelar yang identik, “si ular tua, yaitu Iblis atau Satan”; keduanya menggambarkan dia dilemparkan turun dan kuasa penyesatannya dibatasi. Ini sangat menyarankan bahwa ini adalah dua gambaran dari realitas yang sama — Setan dikalahkan dan dibatasi secara pasti di kayu salib — bukan dua momen historis yang terpisah. Kesejajaran itu benar-benar menyarankan, meskipun para pembaca yang lebih memilih pembacaan yang sungguh-sungguh berurutan bisa, dengan hati nurani yang baik, membaca gema itu sebagai sebuah pratanda yang disengaja lintas peristiwa yang berbeda-beda alih-alih peristiwa yang sama dua kali; kasusnya bertumpu pada bobot kesejajaran itu, bukan bukti yang mutlak.

Jadi apa sesungguhnya yang digambarkan pasal 20?

Jika ini bukan sebuah zaman masa depan yang terpisah, alur kisahnya tampaknya mengikuti penglihatan empat bagian nabi Yehezkiel sendiri: kebangkitan umat Allah oleh Roh (Yehezkiel 37:1-14, sesuai dengan hari Pentakosta); kerajaan Mesianik, sesuai dengan pemerintahan orang-orang kudus yang digambarkan dalam Wahyu 20:4-6 — yaitu, seluruh zaman gereja, dari kedatangan pertama Kristus hingga kedatangan-Nya yang kedua; pertempuran terakhir Gog dan Magog (Yehezkiel 38-39), sesuai dengan kedatangan kedua Kristus; dan akhirnya bait yang baru dan Yerusalem Baru (Yehezkiel 40-48), sesuai dengan Wahyu 21.

Dibaca dengan cara ini, “seribu tahun” bukanlah sebuah zaman keemasan masa depan yang masih akan datang. Ini adalah sebuah gambaran simbolis dari seluruh zaman gereja yang sedang kita jalani sekarang ini — masa antara kebangkitan Kristus dan kedatangan-Nya kembali.

Memerintah sekarang, lewat kesetiaan

“Mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus selama seribu tahun” (Wahyu 20:4). Dibaca apa adanya, urutannya terdengar aneh — dipenggal, lalu memerintah. Tetapi lihatlah tata bahasanya sendiri: setiap kata kerja berada dalam kala yang sama, tanpa penanda urutan yang jelas, dan bagian ini mengikuti sebuah pola Ibrani yang dikenal yaitu menyebutkan sebuah hasil sebelum penyebabnya (bandingkan Wahyu 3:3, 3:17, 10:9). Dibaca dalam urutan yang benar: mereka memerintah karena mereka menolak menyembah binatang itu, menolak tandanya, dan tetap setia bahkan sampai mati.

Apakah ini berarti hanya para martir secara harfiah yang memerintah bersama Kristus? Tidak — pemenggalan kepala di dunia Romawi dikhususkan bagi orang-orang berpangkat tinggi, sehingga detail itu sendiri membuat sebuah pernyataan yang tajam: orang-orang percaya biasa, yang mati demi iman mereka, mati sebagai kaum bangsawan. Tetapi Kitab Wahyu di tempat lain menggambarkan banyak jenis kesaksian setia selain kemartiran secara harfiah — pengasingan, tekanan ekonomi, sekadar menolak mencintai nyawa sendiri lebih daripada Yesus. Pemerintahan itu milik siapa pun yang setia kepada Kristus, apa pun harga kesetiaan itu ternyata, entah itu menuntut segalanya atau sesuatu yang lebih kecil.

Ini adalah sebuah klaim yang sungguh-sungguh membebaskan: engkau tidak perlu menunggu sebuah zaman keemasan masa depan untuk mulai memerintah bersama Kristus. Jika engkau berpegang teguh pada-Nya sekarang, menolak syarat-syarat dunia untuk keamanan dan keterikatan, engkau sudah memerintah — sekarang ini, di tengah-tengah kehidupan biasa, apa pun rupa keadaanmu yang sesungguhnya.

Penutup

Kerajaan seribu tahun bukanlah sebuah utopia masa depan yang berada di antara sekarang dan kekekalan. Ini adalah sebuah rekap simbolis dari zaman gereja yang sudah kita jalani — bukti bahwa mati dengan setia bagi Yesus, dalam cara-cara besar maupun kecil, itu sendiri sudah adalah memerintah sebagai kaum bangsawan. Apa pun lagi yang dikatakan keadaanmu tentang kedudukan atau pengaruhmu di dunia ini, jika engkau menjadi milik Kristus dan tetap setia kepada-Nya, engkau, sekarang ini, adalah bagian dari sebuah pemerintahan yang baru akan menjadi sepenuhnya kelihatan ketika Ia kembali.

Di manakah dalam hidupmu yang biasa, minggu ini, kesetiaan kepada Yesus — bahkan sesuatu yang kecil dan berharga mahal — bisa sesungguhnya menjadi sebuah wujud dari memerintah bersama-Nya yang belum bisa dilihat dunia di sekitarmu?