Latar Belakang: Perjanjian Allah: Kisah Anugerah yang Luar Biasa

Waktu membaca: 5 menit

Keluarga adalah segalanya

Di dunia kuno, menjadi bagian dari sebuah keluarga berarti kelangsungan hidup itu sendiri — penyediaan, perlindungan, jati diri, segalanya. Menjadi bagian dari keluarga yang kuat dan dihormati berarti lebih dari itu lagi. Banyak dari kita di sini memahami hal ini secara naluriah; keluarga besar dan klan masih membentuk kehidupan sehari-hari di sebagian besar benua kita dengan cara yang bagi banyak pembaca Barat perlu dijelaskan terlebih dahulu.

Tetapi bagaimana jika engkau tidak dilahirkan ke dalam keluarga yang tepat? Kitab Suci mengenal empat pintu masuk ke dalam sebuah keluarga: kelahiran, pernikahan, pengangkatan anak — dan perjanjian. Hari ini kita melihat yang terakhir, karena itulah yang menjelaskan seluruh kisah yang mengalir di balik Kitab Wahyu.

Bagaimana perjanjian kuno bekerja

Di dunia kuno, ada dua jenis persekutuan. Yang satu antara pihak yang setara — dukungan timbal balik, dan para anggotanya bisa disebut “saudara.” Yang lain antara yang kuat dan yang lemah — perjanjian penaklukan, di mana pihak yang lebih kuat disebut “bapak” atau “tuan,” dan yang lebih lemah “anak” atau “hamba.”

Jenis kedua inilah yang paling penting untuk memahami hubungan Israel dengan Allah. Ketika sebuah bangsa yang kuat menaklukkan bangsa yang lebih lemah, pihak yang kuat memerintah atasnya — tetapi juga wajib membelanya, karena pihak yang lebih lemah kini, pada dasarnya, adalah keluarga. Kita melihat dinamika yang persis sama ketika orang Gibeon menipu Yosua agar mengikat perjanjian dengan mereka (Yosua 9): begitu perjanjian itu ada, Yosua terikat untuk membela mereka, bahkan melawan musuh yang sebenarnya lebih ingin ia biarkan berurusan dengan mereka sendiri (Yosua 10:1-14).

Mengikat perjanjian semacam itu secara harfiah disebut “memotong perjanjian” — berasal dari korban yang dipersembahkan pada upacara tersebut. Hewan-hewan dipotong menjadi dua dan diletakkan dalam dua barisan, dan pihak yang lebih lemah berjalan di antara potongan-potongan itu. Pesannya jelas dan tegas: beginilah yang akan terjadi padamu jika engkau mengingkari janjimu.

Allah membalikkan pola itu

Dalam Kejadian 15, Allah membuat perjanjian jenis ini dengan Abraham — korban itu, dipotong menjadi dua, disusun dalam dua barisan. Tetapi inilah detail yang mengejutkan: bukan Abraham, pihak yang lebih lemah, yang berjalan di antara potongan-potongan itu. Allah sendirilah, dalam wujud api, yang melintas di antaranya. Allah mengambil ke atas diri-Nya sendiri kutuk yang seharusnya jatuh atas pihak yang melanggar perjanjian.

Maka kemudian, ketika Abraham benar-benar melanggar perjanjian — memperoleh Ismael melalui Hagar alih-alih mempercayai janji Allah — bukan anak Abraham yang menanggung kutuk itu. Anak Allah sendirilah yang pada akhirnya menanggungnya, di kayu salib.

Perjanjian di Sinai

Perjanjian penaklukan kuno mengikuti pola baku lima bagian: pembukaan yang menyebutkan kebesaran sang penguasa, kata pengantar yang mengisahkan kebaikan yang telah ditunjukkan, daftar tuntutan, berkat bagi ketaatan dan kutuk bagi ketidaktaatan, dan saksi-saksi yang dipanggil untuk menjaminnya.

Pola yang persis sama muncul di Sinai. Pembukaannya: “Akulah TUHAN, Allahmu” (Keluaran 20:2). Kata pengantar langsung menyusul: “yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” — lihatlah semua yang telah Kulakukan bagimu. Tuntutan-tuntutan dimulai dengan yang paling mendasar: jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (Keluaran 20:3-6), yang menjadi sumber bagi Kesepuluh Firman selanjutnya. Berkat dan kutuk muncul dalam Ulangan 28. Dan saksi-saksi yang dipanggil adalah langit dan bumi sendiri (Ulangan 30:19).

Yang terpenting: syarat-syarat perjanjian Allah tidak pernah mustahil untuk dipenuhi, tidak seperti begitu banyak perjanjian manusia yang dirancang untuk menjebak pihak yang lemah agar gagal. Israel sebenarnya bisa memelihara perjanjian itu. Mereka hanya memilih untuk tidak melakukannya.

Sepanjang semuanya itu, Allah menyebut diri-Nya Bapa Israel (Keluaran 3:6) — seorang Bapa yang, sekalipun terikat oleh syarat-syarat perjanjian, tetap penuh belas kasihan. Kitab Suci memiliki satu kata untuk perpaduan itu: hesed, biasanya diterjemahkan “kesetiaan perjanjian” atau “kasih setia” — kaya maknanya sehingga sekaligus berarti kasih, kebaikan, belas kasihan, dan kesetiaan.

Mengapa hal ini penting untuk membaca Kitab Wahyu

Kitab Wahyu sering dibaca sebagai kitab ancaman dan bencana. Tetapi di balik setiap peringatan terdapat logika perjanjian ini: seorang Bapa yang mengikat diri-Nya sendiri kepada umat-Nya dengan sumpah yang dimeteraikan dengan darah-Nya sendiri, jauh sebelum mereka pernah membuktikan diri layak menerimanya. Surat-surat kepada ketujuh jemaat, malapetaka-malapetaka, panggilan untuk bertekun — semuanya tidak masuk akal di luar kerangka perjanjian ini. Allah bukanlah hakim yang jauh yang mencari alasan untuk menghukum. Ia adalah Bapa yang telah membayar sendiri kutuk perjanjian itu, di dalam Yesus, dan yang kini memanggil keluarga perjanjian-Nya untuk tetap setia sebagai balasannya — bukan untuk memperoleh kasih-Nya, melainkan karena kasih itu telah diberikan dengan begitu berlimpah.

Sepatah kata tentang keluarga dan perjanjian di sini

Bagi banyak dari kita, keluarga, klan, dan silsilah keturunan membawa bobot yang amat besar — siapa ayahmu, apa yang dikenal dari keluargamu, siapa yang akan menjamin dirimu. Naluri itu tidak salah; Kitab Suci juga memandang serius keluarga. Tetapi logika perjanjian dalam Kitab Wahyu mendorong lebih jauh lagi: melalui Kristus, kita telah dibawa masuk ke dalam keluarga Allah sendiri, dimeteraikan oleh sebuah perjanjian yang tidak dapat ditandingi oleh ikatan keluarga manusia mana pun — perjanjian yang menghabiskan segalanya bagi Allah dan tidak menuntut apa pun dari kita selain kesetiaan sebagai balasannya. Ke keluarga apa pun kita dilahirkan, kini kita pertama-tama menjadi milik keluarga ini.

Pertanyaan untuk kau bawa pulang

Di manakah engkau masih merasa harus “mendapatkan” jalan masuk ke dalam keluarga Allah, alih-alih mempercayai bahwa Kristus telah membayar harganya? Seperti apa rasanya memperlakukan perjanjianmu dengan Allah dengan keseriusan yang sama seperti yang sudah diberikan budayamu kepada ikatan dan kewajiban keluarga? Siapa di sekitarmu yang perlu mendengar bahwa kesetiaan perjanjian Allah — hesed-Nya — tidak bergantung pada kelayakan mereka, hanya pada janji-Nya?