Latar Belakang: Babel dan Bileam: Dua Peringatan Kuno
Sebuah pertanyaan yang layak diajukan secara terbuka
Sesi ini tidak termasuk dalam garis besar standar 52 bagian dari khotbah-khotbah Kitab Wahyu — sesi ini ditambahkan secara khusus untuk paket ini, karena dua kisah yang sangat tua dari Perjanjian Lama berbicara dengan ketepatan yang luar biasa ke dalam sebuah pertanyaan hidup yang dibawa banyak dari kita: bagaimana kita menghormati keluarga, leluhur, dan warisan budaya, sambil tetap memberikan kepada Yesus penyembahan eksklusif yang Ia minta? Itulah pertanyaan yang dibuka sesi ini — sebagai sebuah pertanyaan, diajukan dengan hormat, bukan sebagai tuduhan terhadap keluarga, budaya, atau leluhur siapa pun.
Babel: membangun sebuah nama terlepas dari Allah
Setelah air bah, umat manusia menetap di Sinear dan memutuskan untuk membangun sebuah menara besar yang mencapai langit, dengan dua alasan yang dinyatakan: untuk membuat nama bagi diri mereka sendiri, dan untuk memiliki sebuah titik kumpul pusat agar mereka tidak terserak (Kejadian 11:1-9). Ini adalah sebuah usaha yang sangat besar — dan kemudian Allah turun untuk melihatnya, dalam sebuah tindakan yang dengan lembut mengejek baik usaha mereka maupun ancaman di baliknya. Yang mengganggu Allah adalah bahwa mereka telah meyakinkan diri mereka sendiri bahwa tidak ada lagi yang mustahil bagi mereka, terlepas dari-Nya.
Tidak satu pun dari kedua tujuan itu tercapai. Mereka ingin membuat nama bagi diri mereka sendiri — itu tidak pernah terjadi bagi mereka, tetapi Allah kemudian membuat sebuah nama dari Abraham sebagai gantinya. Mereka ingin menghindari keterserakan — keterserakan itu tepatnya yang terjadi, ketika Allah mengacaubalaukan bahasa mereka, sebuah akibat yang baru dibalikkan berabad-abad kemudian pada hari Pentakosta.
Ketika Israel kemudian pergi ke pembuangan, teks mencatat bahwa Babel berdiri di wilayah yang persis sama dengan menara asli itu — Sinear (Kejadian 10:10; Daniel 1:2). Hubungan itu disengaja: kesombongan adalah benang merah yang sama, dan kedua kekaisaran itu dipotong pendek secara brutal — Babel pada zaman Daniel bertahan kurang dari satu abad sebelum Koresh, yang dibangkitkan Allah sendiri, meruntuhkannya. Babel dalam Kitab Wahyu membawa ciri-ciri yang sama ke depan: kesombongan, kejatuhan yang tiba-tiba, dan umat Allah yang hidup sebagai orang buangan di tengah-tengahnya.
Bileam: diserang lewat rayuan, bukan perlawanan
Kisah Bileam adalah salah satu kisah paling mengajar dalam Perjanjian Lama, dan Kitab Wahyu sendiri mengutipnya secara langsung: Yesus menegur jemaat di Pergamus karena “engkau mempunyai penganut-penganut ajaran Bileam, yang mengajarkan Balak supaya menyesatkan orang-orang Israel, sehingga mereka makan makanan persembahan berhala dan berbuat zinah” (Wahyu 2:14).
Sejarahnya: setelah kemenangan-kemenangan Israel atas orang Amori dan Kanaan (Bilangan 21), Moab dan Midian menjadi takut, sekalipun tak satu pun dari mereka memiliki alasan nyata untuk takut akan invasi — Moab memiliki janji keselamatan (Ulangan 2:8-9), dan Midian memiliki ikatan keluarga yang dekat dengan Musa sendiri. Ketakutan mengalahkan semuanya itu. Balak, raja Moab, menyewa nabi Bileam untuk mengutuk Israel. Allah melarangnya, dua kali — namun Bileam terus bertanya, seolah-olah ia bisa membujuk Allah untuk mengubah jawaban-Nya. Akhirnya Allah mengizinkannya pergi, dengan konsekuensi nyata di sepanjang jalan (kisah terkenal tentang keledainya, Bilangan 22:22-35). Pada akhirnya, Bileam tidak bisa mengutuk Israel — ia hanya bisa memberkati mereka, membuat Balak murka.
Tetapi kisahnya tidak berakhir di situ. Segera setelahnya, para perempuan Moab dan Midian mengundang Israel ke sebuah perjamuan, dan itu langsung membawa kepada perbuatan zinah dan penyembahan berhala (Bilangan 25:1-2). Sebuah tulah membunuh ribuan orang Israel sebelum dihentikan. Barulah kemudian kita belajar apa yang sesungguhnya terjadi: Bileam, yang tidak mampu mengutuk Israel secara langsung, telah menasihati Balak tepat dengan strategi ini sebagai gantinya (Bilangan 31:16) — dan Bileam akhirnya ditemukan di antara orang-orang yang sama yang telah dinasihatinya, dibunuh di sana juga (Bilangan 31:8).
Pelajarannya menyadarkan kita: serangan paling berbahaya terhadap umat Allah tidak selalu datang sebagai perlawanan terbuka. Serangan itu datang sebagai undangan — sebuah perjamuan, sebuah hubungan, sebuah pembauran — yang diam-diam menarik orang menuju kompromi dengan apa yang telah dilarang Allah, tanpa pernah mengumumkan dirinya sebagai serangan sama sekali.
Mengapa kedua kisah ini termasuk bersama di sini
Babel adalah tentang kemandirian diri — membangun sesuatu untuk mengamankan nama kita sendiri, masa depan kita sendiri, tanpa merujuk kepada Allah. Bileam adalah tentang rayuan menuju kompromi — ditarik, secara lembut dan tanpa konfrontasi dramatis apa pun, ke arah praktik-praktik yang diam-diam membelah kesetiaan kita. Kitab Wahyu menenun kedua benang ini di sepanjang seluruh kitabnya: Babel yang besar sebagai Babel yang puncak, dan jemaat di Pergamus serta Tiatira diperingatkan secara khusus terhadap “ajaran Bileam” dan “ajaran Izebel” — keduanya menggambarkan tepat bahaya yang sama, kompromi yang menyamar sebagai keterikatan.
Pertanyaan yang ditimbulkan ini bagi kita, secara jujur
Di sinilah hal ini menyentuh sesuatu yang nyata dan belum terselesaikan bagi banyak orang percaya di seluruh benua kita. Menghormati leluhur, memelihara hubungan dengan keluarga yang telah meninggal, menjalankan praktik-praktik tradisional yang terkait dengan garis keturunan, tanah, dan warisan — ini bukanlah masalah pinggiran. Semuanya berada di pusat dari apa artinya menjadi bagian dari sebuah keluarga dan sebuah bangsa. Dan Kitab Suci sendiri memandang serius keluarga, garis keturunan, dan penghormatan kepada para leluhur kita — hukum kelima memanggil kita untuk menghormati ayah dan ibu, dan iman Israel sendiri diwariskan dan dirayakan dari generasi ke generasi sebagai sebuah warisan yang berharga, bukan sesuatu yang dibuang begitu saja.
Pertanyaan yang jujur dan terbuka yang ditimbulkan kisah Bileam adalah ini: pada titik manakah menghormati keluarga dan warisan bergeser menjadi semacam kesetiaan yang bersaing dengan penyembahan eksklusif yang diminta Yesus? Perjamuan Baal-Peor bukanlah sebuah invasi yang bermusuhan — itu adalah santapan bersama dengan orang-orang yang memang secara wajar, bahkan bisa dimengerti, disukai Israel. Itulah tepatnya yang membuatnya berbahaya: bukan kekerasan, melainkan keakraban.
Ini bukan sebuah pertanyaan dengan satu jawaban rapi yang berlaku sama persis di setiap rumah, setiap desa, setiap keadaan keluarga. Ini adalah sebuah pertanyaan yang layak diajukan dengan jujur, bersama-sama, tanpa rasa malu dan tanpa putusan sepihak yang dijatuhkan dari luar konteksmu sendiri: apakah praktik ini menarikku ke arah memperlakukan sesuatu atau seseorang selain Anak Domba sebagai yang paling layak menerima kesetiaanku, ketakutanku, atau harapanku — bahkan jika itu datang terbungkus dalam kasih bagi keluarga dan penghormatan bagi mereka yang telah mendahului kita? Ataukah ini sekadar sebuah ungkapan peringatan dan penghormatan yang sama sekali tidak bersaing dengan penyembahan?
Orang-orang percaya yang berbeda, para pendeta yang berbeda, dan tradisi-tradisi yang berbeda di dalam gereja Afrika yang lebih luas telah menjawab ini dengan cara-cara yang berbeda, dengan hati nurani yang baik, dan sesi ini tidak berpura-pura menyelesaikan perdebatan itu untukmu. Yang ditekankan sesi ini, baik dari Babel maupun Bileam, adalah ini: bahayanya jarang berupa serangan yang dramatis dan jelas. Biasanya itu adalah sebuah undangan dari orang-orang yang kita kasihi, ke dalam sesuatu yang terasa sepenuhnya wajar — dan nasihat Kitab Suci adalah membawa pertanyaan itu dengan jujur ke hadapan Allah dan para pemimpin rohani yang dipercaya, alih-alih baik menepisnya sama sekali maupun menyelesaikannya secara defensif tanpa refleksi yang sungguh-sungguh.
Penutup
Babel memperingatkan kita agar tidak membangun keamanan kita terlepas dari Allah. Bileam memperingatkan kita bahwa kompromi biasanya datang menyamar sebagai keterikatan, bukan sebagai serangan. Bersama-sama, keduanya meninggalkan kita dengan sebuah pertanyaan pastoral yang terbuka, layak dibawa dengan jujur ke dalam keluarga dan komunitas kita sendiri: bagaimana kita memegang bersama-sama kasih dan penghormatan yang nyata bagi keluarga, leluhur, dan warisan kita, dengan penyembahan yang sepenuh hati dan tak terbagi yang hanya layak diterima Anak Domba?
Di manakah dalam hidup atau keluargamu sendiri pertanyaan ini pernah muncul secara jujur? Dengan siapa engkau bisa berbicara — seorang pendeta, seorang tua-tua, seorang sahabat yang dipercaya — untuk memikirkannya dengan hikmat, bukan dengan ketakutan maupun sikap defensif?