Wahyu Hari Ini: Sebuah Paket Regional Asia
Selamat Datang
Seri ini menelusuri kitab Wahyu untuk gereja-gereja di seluruh Asia Timur, Selatan, dan Tenggara — gereja rumah yang berkumpul dengan tenang di balik pintu-pintu apartemen biasa, jemaat-jemaat terdaftar yang menavigasi sebuah negara yang waspada, dan jemaat-jemaat minoritas yang berkumpul sebagai cahaya kecil di dalam komunitas Hindu, Buddha, atau Muslim yang jauh lebih besar. Seri ini memanfaatkan materi studi dasar yang sama dengan seluruh proyek “Wahyu Hari Ini” lainnya, tetapi seri ini dimulai dari situasi kalian, bukan memperlakukannya sebagai renungan tambahan belaka.
Itu penting, karena bagi banyak pembaca paket ini, Wahyu bukanlah sejarah kuno. Dilema inti kitab ini — apakah kalian akan menyesuaikan diri secara lahiriah dengan sebuah sistem yang menuntut kesetiaan mutlak, atau apakah kalian akan berpegang teguh pada Yesus bahkan ketika itu membuat kalian membayar sesuatu yang nyata — bukanlah sebuah keingintahuan dari abad pertama yang perlu dijelaskan. Ini adalah sebuah keputusan yang diam-diam diambil kembali oleh sebagian dari kalian minggu ini: apa yang harus dikatakan jika ditanya secara langsung, apa yang harus ditulis di sebuah formulir, apakah akan mendaftar, apakah akan berkumpul, apakah akan menjelaskan ketidakhadiran dari sebuah altar keluarga. Kami ingin menyebutkan itu secara terang-terangan, bukan membicarakannya secara berputar-putar. Kitab Wahyu ditulis oleh seorang gembala dalam pembuangan, kepada jemaat-jemaat nyata yang menghadapi kultus kaisar yang nyata, dan ditulis untuk menguatkan justru kesetiaan yang mahal dan biasa seperti ini.
Ada tiga hal tentang para pembaca ini yang layak dikatakan dengan jelas, dalam rasa syukur bukan sekadar sebagai latar belakang. Pertama, kesetiaan kalian sering kali mahal dengan cara-cara yang jarang harus dipertimbangkan oleh orang Kristen yang nyaman di tempat lain — entah itu risiko diam-diam dari sebuah pertemuan yang tidak terdaftar, biaya sosial menjadi satu-satunya orang percaya dalam keluarga besar, atau biaya profesional dari pemeriksaan latar belakang yang mencatat agama kalian. Wahyu ditulis justru untuk jenis ketekunan seperti ini, dan ia memiliki berita nyata bagi kalian: surat-surat kepada Smirna dan Filadelfia, dua dari tujuh jemaat yang paling miskin dan paling tertekan, adalah satu-satunya dua yang sama sekali tidak menerima teguran. Kedua, banyak dari kalian membawa iman komunal dan keluarga yang sangat dalam — pemuridan kalian jarang menjadi transaksi pribadi, individual, melainkan sesuatu yang dijalani di dalam sebuah rumah tangga, keluarga besar, dan komunitas orang percaya yang terikat erat yang mungkin berkumpul, berdoa, dan menderita bersama. Ketiga, disiplin dan ketekunan kalian — hadir, tetap setia, terus berkumpul, terus berdoa — selama bertahun-tahun tekanan nyata bukanlah bentuk iman yang lebih rendah daripada kesaksian yang dramatis. Itu justru “ketekunan yang sabar” yang diminta dan dipuji oleh Wahyu.
Kami juga ingin menyebutkan, dengan hangat dan tanpa penghakiman, beberapa ketegangan nyata yang tidak akan dipura-purakan tidak ada oleh seri ini. Surat-surat Wahyu kepada tujuh jemaat menggunakan bahasa langsung dan terbuka untuk menyebutkan kegagalan spesifik sebuah jemaat — bahasa yang ditulis ke dalam sebuah budaya dengan rasa kehormatan dan rasa malunya sendiri, tetapi yang dapat berdampak sangat berbeda dalam budaya-budaya di mana rasa malu di depan umum membawa beban sosial yang unik dan berat. Jadi dalam sesi-sesi tentang tujuh surat dan tentang Laodikia, kami dengan sengaja telah mengalihkan penekanan ke arah refleksi pribadi dan personal, bukan penyebutan di depan umum — sebuah kartu yang kalian isi sendirian, bukan sebuah pengakuan yang diminta untuk dibagikan dengan suara keras. Kami juga menanggapi dengan serius, sebagai sebuah pertanyaan pastoral yang terbuka bukan yang tertutup, bagaimana penyembahan eksklusif kepada Anak Domba berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan nyata dan belum terselesaikan yang dibawa banyak dari kalian tentang menghormati orang tua dan leluhur — teks itu sendiri tidak memberi kita jawaban yang rapi, dan kami pun tidak akan melakukannya.
Semoga seri ini menegaskan apa yang sudah diketahui gereja-gereja kalian di dalam hati kalian: bahwa kesetiaan di bawah tekanan bukanlah sebuah beban untuk bertahan hidup, melainkan sebuah bentuk memerintah bersama Kristus, sekarang juga, di tengah-tengah kisah ini.