Latar Belakang: Hidup di Bawah Pax Romana: Dunia yang Dituliskan Yohanes — dan Dunia Tempat Kita Hidup
Hidup di Bawah Pax Romana
1. Sebuah tawaran yang terdengar adil
Bayangkan seseorang memberimu tawaran ini: keamanan, kemakmuran, kemajuan budaya, hukum dan ketertiban, kehidupan yang stabil tanpa perang di depan pintu rumahmu. Dan yang diminta sebagai imbalannya hanyalah agar engkau mengakui siapa yang menyediakan semua itu — dan agar engkau menunjukkan pengakuan itu secara terbuka, kapan pun diminta.
Itu terdengar hampir masuk akal. Itulah tepatnya tawaran yang dihadapi para pembaca pertama Kitab Wahyu, dan tawaran itu punya nama: Pax Romana, “Damai Roma.” Hari ini saya ingin mengajak kita melihat bahwa banyak dari kita sebenarnya sudah hidup dalam kesepakatan yang sangat serupa — namanya sudah berubah, tetapi tawaran itu, dan keputusan yang dipaksakannya, belum berubah.
2. Apa sebenarnya Pax Romana itu
Dari sekitar tahun 27 SM hingga akhir abad kedua Masehi, Kekaisaran Romawi mengalami masa stabilitas yang panjang: sedikit perang saudara, negara yang kuat dan bersatu, kemakmuran nyata bagi banyak orang, seni dan budaya yang berkembang pesat — berdampingan dengan penganiayaan sporadis terhadap orang Kristen di bawah kaisar-kaisar seperti Nero dan Domitianus, meskipun penganiayaan yang benar-benar sistematis dan mencakup seluruh kekaisaran baru dimulai pada masa Decius tahun 250 M.
Di balik stabilitas ini terdapat sebuah narasi yang koheren dan bersifat semi-religius: para dewa telah memilih Roma; sang kaisar adalah wakil mereka di bumi; setiap berkat — keamanan, kedamaian, keadilan, kemakmuran — mengalir melalui dirinya kepada setiap orang yang tunduk pada kekuasaannya. Karena itu, sang kaisar layak menerima penyembahan, kesetiaan, dan gelar-gelar yang seharusnya hanya milik seorang dewa.
Pesan ini bukanlah sesuatu yang tersembunyi di latar belakang. Pesan ini ada di mana-mana — pada koin, patung, arak-arakan, pertunjukan umum, bahkan pada ucapan bersulang di jamuan makan bersama. Kota-kota di Asia Kecil, tepat di tempat ketujuh jemaat Kitab Wahyu berada, saling bersaing membangun kuil bagi sang kaisar, berharap memperoleh perkenannya atau keringanan pajak.
Dan di balik permukaan yang berkilau emas itu terdapat kebenaran yang lebih keras: “zaman keemasan” ini dibeli dengan kekerasan, penaklukan, dan kepatuhan yang dipaksakan. Zaman itu keemasan terutama bagi mereka yang bersedia tunduk.
3. Dilema nyata bagi orang-orang Kristen mula-mula
Bagi orang Kristen yang hidup di dalam sistem ini, tekanannya bukanlah sesuatu yang abstrak. Yesus adalah raja sejati mereka — bukan sang kaisar. Mereka mempercayai Dia, bukan negara, untuk penyediaan dan perlindungan. Dan mereka tidak bisa, dengan hati nurani yang bersih, memberikan kepada kaisar penghormatan yang hanya layak diberikan kepada Allah.
Yesus sendiri sudah membuat syarat-syaratnya begitu jelas: “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan… Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24) — dan dengan perluasan yang sama, engkau tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Kaisar. Itu menyisakan tiga pilihan nyata:
- Menyangkal iman secara terang-terangan — demi diterima, demi menghindari masalah, demi menjaga kedudukan keluarga tetap utuh.
- Menghidupi iman sepenuhnya dan secara terbuka — dengan risiko dikucilkan secara sosial, kehancuran finansial, dipenjara, bahkan kematian.
- Menyesuaikan diri secara lahiriah, tetap setia secara batiniah — mengakui kaisar dengan mulut sambil menyimpan Yesus di dalam hati. Nyaman. Dan, sebagaimana ditegaskan Kitab Wahyu, sangat kompromistis.
Pilihan ketiga itu selalu menjadi yang paling menarik, di setiap zaman, dan itu adalah salah satu kepedulian utama Kitab Wahyu sejak halaman pembukanya. Yohanes memperkenalkan dirinya sebagai “saudaramu, dan dalam kesusahan dan Kerajaan dan ketekunan menantikan Yesus, aku pun turut mengambil bagian di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus” (Wahyu 1:9). Ia menulis dari pengasingan — konsekuensi langsung dari penolakannya untuk ikut serta dalam sandiwara itu. Kitab Wahyu sendiri adalah jawabannya: kitab ini menyebutkan siapa sesungguhnya kaisar sejati itu, dan menunjukkan bahwa fasad megah Pax Romana tidak akan bertahan.
4. Bukan sejarah kuno — keputusan minggu ini
Di sinilah sesi ini harus melangkah keluar dari sekadar penceritaan sejarah. Bagi banyak orang yang membaca ini hari ini, pilihan yang persis sama bukanlah barang pameran museum. Ini adalah keputusan nyata, kadang mingguan.
Perhatikan bentuk-bentuk yang diambilnya sekarang ini:
- Perkumpulan yang tidak terdaftar. Beribadah di sebuah rumah alih-alih di tempat yang disetujui negara, di beberapa tempat, sudah merupakan tindakan yang membawa risiko — versi modern dari penolakan membakar dupa di hadapan patung kaisar.
- Formulir yang menanyakan agamamu. Pemeriksaan latar belakang, pendaftaran sekolah, pendaftaran pemerintah yang diam-diam mencatat agama apa yang engkau anut — dan perhitungan kecil yang terus-menerus tentang apa yang harus ditulis, dan apa risikonya nanti.
- Pengawasan yang sudah dianggap biasa. Di beberapa konteks, kamera, sistem yang menyerupai skor sosial, atau pengawasan lingkungan yang tidak resmi menjadikan “kesesuaian lahiriah” bukan lagi momen krisis yang jarang terjadi, melainkan kondisi yang permanen dan mengelilingi kehidupan sehari-hari — Pax Romana sebagai suasana harian, persis seperti yang dialami ketujuh jemaat.
- Perhitungan sebagai kaum minoritas. Dalam konteks di mana orang Kristen adalah minoritas kecil di tengah masyarakat mayoritas Hindu, Buddha, atau Muslim, tekanan untuk berbaur — untuk menghindari rasa malu keluarga akibat pindah agama, untuk diam saja saat perayaan umum, untuk membiarkan sebuah perbedaan berlalu tanpa disebutkan — bukanlah hal yang sesekali terjadi. Itu adalah tekstur kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan sejati Pax Romana tidak pernah “apakah ini baik?” Orang bisa saja dengan wajar menjawab ya untuk kedamaian, kemakmuran, dan ketertiban. Pertanyaan sejatinya adalah: kepada siapa sesungguhnya engkau memberi penghargaan atas semua ini, dan apa yang dituntutnya darimu? Pertanyaan itu tidak pernah hilang. Ia hanya berganti pakaian.
5. Katak dalam air yang perlahan memanas
Mungkin engkau tahu gambaran lama tentang katak yang dijatuhkan ke dalam air mendidih — ia langsung melompat keluar. Tetapi letakkan ia dalam air dingin dan panaskan perlahan-lahan, dan ia mungkin tidak menyadari bahaya itu sampai terlambat. Secara biologis, ini tidak sepenuhnya akurat, tetapi sebagai gambaran, ia menangkap sesuatu yang nyata: bagi kebanyakan orang percaya, Pax Romana bukanlah satu momen ujian yang dramatis. Ia adalah sebuah suasana — terus-menerus, nyaman, tidak mencolok. Justru itulah yang membuatnya begitu efektif.
Proses lambat yang sama beroperasi hari ini. Tidak ada orang yang bangun pagi lalu secara resmi menyangkal Yesus. Itu terjadi sedikit demi sedikit: sebuah pendapat yang diam-diam disimpan sendiri, sebuah formulir yang diisi dengan cara yang hati-hati alih-alih jujur, keputusan untuk membiarkan iman anak-anaknya tetap tidak disebutkan di sekolah “untuk sementara ini saja.” Pada akhirnya, seseorang mungkin masih berkumpul, masih berdoa — tetapi penguasa sejati atas keputusan sehari-harinya sudah bergeser diam-diam, tanpa siapa pun pernah benar-benar “memutuskan” hal itu.
6. Apa yang ditawarkan Kitab Wahyu sebagai gantinya
Yang luar biasa dari jawaban Kitab Wahyu adalah bahwa jawaban itu tidak terutama memanggil orang percaya untuk menarik diri dari dunia. Kitab ini memanggil mereka untuk beribadah — ibadah yang jernih pandangannya, tanpa kompromi. Sebelum satu pun malapetaka atau penghakiman muncul dalam kitab ini, Yohanes diperlihatkan sebuah ruang takhta pada pasal 4 dan 5, tempat Allah dan Anak Domba disembah tanpa henti. Itulah jawaban Kitab Wahyu untuk setiap Pax Romana, baik kuno maupun modern: bukan pelarian, melainkan kepastian tentang siapa yang sesungguhnya duduk di atas takhta hidupmu.
Dan kitab ini jujur bahwa “jalan ketiga” — kepatuhan lahiriah, iman batiniah — tidak pernah disajikan sebagai solusi yang layak dan saleh. Jalan itu dibongkar kedoknya untuk menunjukkan apa sesungguhnya: setengah hati. Itulah persis yang kemudian dikatakan Yesus kepada jemaat di Laodikia — tidak dingin dan tidak panas.
7. Penutup dan penerapan
Orang-orang percaya di Asia Kecil harus memutuskan siapa yang benar-benar mereka layani: sang kaisar, yang menjanjikan keamanan dan kemakmuran, atau Yesus yang disalibkan dan bangkit, yang menjanjikan penderitaan lebih dulu dan hidup kekal sesudahnya. Banyak dari kalian diminta, dalam cara yang lebih kecil atau lebih besar, untuk menjawab pertanyaan yang sama itu — minggu ini, bukan suatu saat nanti.
Beberapa pertanyaan untuk kalian bawa pulang, ditanyakan dengan sengaja secara terus terang:
- Dari mana sesungguhnya kamu mengharapkan solusi bagi masalah-masalahmu — dari Allah, atau dari status pendaftaranmu, kedudukanmu di hadapan penguasa, restu keluargamu, kebaikan hati pemerintahmu?
- Di manakah kamu mengatakan atau menandatangani sesuatu secara terbuka yang sesungguhnya tidak sepenuhnya kamu percayai di dalam hati, hanya demi tetap aman atau tetap diterima?
- Jika keyakinanmu menuntut sesuatu yang nyata darimu tahun ini — sebuah hubungan, sebuah status, keselamatanmu — apakah kamu akan tetap berpegang teguh padanya? Seperti apa sesungguhnya bentuknya dalam praktik, bagimu, secara spesifik?
Pax Romana telah lama berakhir. Godaan yang diwakilinya belum berakhir — ia hanya berganti nama dan seragamnya. Kabar baik Kitab Wahyu adalah bahwa Raja yang sejati sudah duduk di atas takhta. Dia tidak meminta penyembahan yang basa-basi. Dia mengundangmu ke dalam penyembahan yang utuh dan tak terbagi — dan Raja itu sudah menang, bukan melalui kekuatan, melainkan melalui kasih yang setia dan berharga mahal.