Latar Belakang: Perjanjian Allah: Kisah Anugerah yang Menakjubkan

Waktu membaca: 5 menit

Perjanjian Allah: Kisah Anugerah yang Menakjubkan

1. Keluarga adalah segalanya

Di dunia kuno, menjadi bagian dari sebuah keluarga bukanlah persoalan sentimental — itu adalah kelangsungan hidup itu sendiri: penyediaan, perlindungan, identitas, kedudukan dalam masyarakat. Banyak dari kalian sudah memahami ini secara naluriah, dengan cara yang sering tidak dipahami oleh individualisme Barat modern: keluargamu bukanlah sebuah kesepakatan pribadi yang bisa kamu tinggalkan begitu saja. Itu adalah jalinan yang menyatukan hidupmu.

Jadi bagaimana seseorang di luar keluarga yang tepat bisa memperoleh akses ke jaring pengaman itu? Alkitab mengenali empat pintu: kelahiran, pernikahan, pengangkatan anak, dan perjanjian. Hari ini kita melihat yang terakhir — perjanjian — karena itulah pintu tempat Allah membawa masuk umat-Nya, dan itu membingkai ulang apa yang sesungguhnya dimaksud dengan keluarga, kesetiaan, dan keanggotaan.

2. Bagaimana perjanjian biasanya bekerja

Secara historis, perjanjian-perjanjian kuno hadir dalam dua bentuk. Perjanjian antara pihak yang setara berfungsi seperti aliansi antar saudara — dukungan timbal balik, kedudukan yang sama. Perjanjian antara yang kuat dan yang lemah, sebaliknya, bekerja lebih seperti perjanjian penaklukan: pihak yang lebih kuat adalah “bapak” atau “tuan,” pihak yang lebih lemah adalah “anak” atau “hamba.” Bangsa yang lebih kuat memiliki otoritas nyata atas bangsa yang lebih lemah, tetapi — yang terpenting — juga berkewajiban untuk membelanya, justru karena pihak yang lebih lemah kini diperlakukan sebagai keluarga. Kamu tidak meninggalkan rumah tanggamu sendiri.

Perjanjian penaklukan biasanya memiliki lima bagian: sebuah pembukaan yang menyebutkan gelar-gelar pihak yang lebih besar; sebuah pengantar yang mengisahkan kebaikan masa lalu pihak yang lebih besar; tuntutan-tuntutan yang dibebankan pada pihak yang lebih lemah; berkat bagi ketaatan dan kutuk bagi pemberontakan; dan saksi-saksi yang dipanggil untuk menjamin seluruh kesepakatan itu. Pihak yang lebih lemah tidak bisa membuat perjanjian saingan dengan siapa pun yang lain — kamu hanya bisa punya satu bapak.

3. Allah membalikkan naskahnya

Ketika Allah membuat perjanjian-Nya dengan Abraham dalam Kejadian 15, upacara pengorbanannya mengikuti bentuk yang diharapkan: hewan-hewan dibelah dua, disusun dalam dua barisan, dengan pihak yang berkewajiban diharapkan berjalan di antara potongan-potongan itu sebagai peringatan bergambar tentang apa yang akan terjadi jika perjanjian itu dilanggar. Tetapi inilah kejutannya: bukan Abraham, pihak yang lebih lemah, yang berjalan di antara potongan-potongan itu. Allah sendirilah, digambarkan sebagai api, yang lewat — mengambil alih kutuk pelanggaran perjanjian atas diri-Nya sendiri, terlebih dahulu, demi Abraham.

Pola yang sama muncul, dalam bentuk lengkap, pada perjanjian Allah dengan Israel di Sinai: pembukaan (“Akulah Tuhan, Allahmu”), pengantar (“yang membawamu keluar dari Mesir” — sebuah pengisahan anugerah yang sudah ditunjukkan), tuntutan-tuntutan (dimulai dengan perintah untuk tidak memiliki allah lain), berkat dan kutuk (Ulangan 28), dan saksi-saksi (langit dan bumi sendiri). Dan tidak seperti begitu banyak perjanjian manusia yang dirancang untuk menjebak pihak yang lebih lemah agar gagal, syarat-syarat Allah tidak pernah mustahil. Israel bisa saja menaatinya. Mereka hanya memilih untuk tidak melakukannya — berulang kali.

4. Sang Bapa yang tetap penuh belas kasihan

Sepanjang kisah ini, Allah menyebut diri-Nya Bapa Israel (Keluaran 3:6) — Bapa yang, bahkan sambil terikat oleh syarat-syarat perjanjian-Nya sendiri, tetap berkomitmen pada belas kasihan. Alkitab menangkap ini dalam kata yang kaya makna hesed: kesetiaan perjanjian, kasih, kebaikan, kesetiaan — semuanya sekaligus. Allah tidak sekadar menoleransi keluarga perjanjian-Nya. Dia terikat pada mereka, atas pilihan-Nya sendiri, dengan cara yang menjamin pemeliharaan-Nya yang terus-menerus bahkan ketika mereka mengecewakan-Nya.

5. Mengapa ini penting di sini

Ini memiliki bobot langsung bagi banyak dari kalian yang hidup dalam budaya di mana kesetiaan keluarga, kewajiban berbakti, dan penghormatan kepada orang tua dan yang lebih tua bukanlah pilihan tambahan, melainkan tata bahasa dari kehidupan yang baik itu sendiri. Sebagian dari kalian mungkin telah memasuki sebuah keluarga rohani yang baru melalui iman kepada Kristus dengan risiko nyata terhadap kedudukan kalian dalam keluarga kelahiran kalian — mungkin penolakan terang-terangan, mungkin kedinginan yang lebih diam-diam dan terus-menerus. Allah dalam Kitab Wahyu tidak menganggap remeh pengorbanan itu. Bahasa perjanjian dalam Alkitab memperlakukan ikatan keluarga dengan keseriusan penuh — bahasa itu tidak meremehkan nilai keluarga, kehormatan, dan kesetiaan; bahasa itu memindahkan pemenuhan terdalamnya kepada satu-satunya Bapa yang mengambil kutuk itu atas diri-Nya sendiri agar kamu tidak akan pernah benar-benar tanpa keluarga lagi.

Ini juga membingkai ulang apa sesungguhnya yang dimaksud “menjadi milik” Allah. Itu bukan sebuah transaksi, sebuah kartu keanggotaan, atau kepatuhan lahiriah yang kamu lakukan di bawah tekanan — tema-tema yang akan kembali muncul saat kita membahas Pax Romana dan ketujuh jemaat. Itu adalah dibawa masuk ke dalam sebuah keluarga yang terikat oleh perjanjian, di mana pihak yang lebih kuat sudah mengambil tempatmu di bawah kutuk itu.

6. Tuntutan yang berkelanjutan

Perjanjian Allah dengan Israel juga datang dengan sebuah ritme: perjanjian itu harus dibacakan berulang-ulang kali — pada penobatan raja, setiap tujuh tahun kepada seluruh umat, selalu disertai jamuan makan bersama. Setiap pihak memegang salinan syarat-syaratnya, dan keduanya, secara mengagumkan, akhirnya disimpan bersama di tempat yang sama, yaitu bait Allah. Kesetiaan perjanjian tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi hal yang privat dan mudah dilupakan. Itu dilatih ulang, diingat, dan dihidupi dalam komunitas — sekali lagi, sebuah ritme yang sudah dipahami banyak dari kalian secara naluriah melalui ibadah bersama, pengabdian keluarga, dan disiplin untuk terus-menerus kembali kepada firman Allah bersama-sama.

7. Refleksi penutup

Allah yang membuat perjanjian ini adalah Allah yang sama, yang dalam Kitab Wahyu, memanggil jemaat-Nya kepada kesetiaan yang berharga mahal di bawah tekanan — dan Dia tidak meminta kesetiaan yang belum Dia buktikan sendiri. Dia berjalan di antara potongan-potongan itu terlebih dahulu. Dia mengambil kutuk yang seharusnya menjadi milikmu.

Beberapa pertanyaan untuk direnungkan:

  • Di manakah dalam hidupmu kamu masih memperlakukan Allah sebagai sebuah transaksi — berusaha memperoleh atau mempertahankan tempatmu — alih-alih beristirahat dalam sebuah perjanjian yang sudah dijamin Allah bagimu?
  • Jika mengikut Kristus telah menghabiskan kedudukanmu dalam keluarga kelahiranmu, bagaimana mengetahui hesed Allah sendiri — kesetiaan perjanjian-Nya kepadamu — berbicara ke dalam kehilangan itu?
  • Seperti apa bentuknya, secara praktis, bagi rumah tanggamu atau komunitasmu untuk “membacakan perjanjian itu bersama-sama” — untuk terus melatih ulang dan mengingat kesetiaan Allah alih-alih membiarkannya menjauh?