Wahyu 11: Kedua Saksi Itu

Waktu membaca: 5 menit

Kedua Saksi Itu

1. Sebuah penglihatan yang berharga mahal dan diperdebatkan

Wahyu pasal 11 memperkenalkan dua saksi yang identitasnya telah diperdebatkan selama berabad-abad. Kita tidak akan sepenuhnya menyelesaikan setiap detail di sini, tetapi perdebatan itu sendiri menyingkapkan sebuah pelajaran yang jelas dan menyelidik bagi siapa pun yang berusaha tetap setia di bawah tekanan yang nyata — yang, bagi banyak pembaca, bukanlah sebuah hipotesis.

2. Mengukur apa yang penting

Pasal ini dibuka dengan pengukuran bait Allah, tempat historis kehadiran dan pengorbanan Allah — sebuah peran yang kini digenapi sekali untuk selamanya dalam diri Yesus. Penglihatan ini menyempit secara bertahap: bait Allah, mezbah, para penyembah — dari ruang terbesar hingga ke orang-orangnya sendiri, menunjukkan bahwa yang sesungguhnya penting adalah hubungan antara Allah dan mereka yang menyembah-Nya. Rujukan kepada mezbah itu mengingatkan pada jiwa-jiwa para martir yang berseru di bawahnya dalam pasal 6 — sehingga penyembahan yang dimaksud di sini adalah penyembahan yang mungkin berharga segalanya.

3. Siapakah kedua saksi itu?

Teks itu memberikan petunjuknya sendiri: mereka adalah “kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam” (11:4) — sebuah rujukan langsung ke penglihatan Zakharia tentang imam besar Yosua dan bupati Zerubabel, tetapi juga kepada ketujuh jemaat, yang sudah diidentifikasikan dengan kaki dian sebelumnya dalam Kitab Wahyu (1:20). Dipadukan dengan 3,5 tahun yang disebutkan dalam pasal ini — yang dibaca di tempat lain dalam seri ini sebagai bahasa simbolis untuk seluruh rentang antara kedatangan pertama dan kedua Yesus — ini menunjukkan bahwa kedua saksi itu bukanlah tokoh historis tunggal mana pun, melainkan gereja itu sendiri, digambarkan di bawah citra keduanya.

Karakter mereka sangat bergema dengan Musa dan Elia: api yang jatuh atas musuh-musuh mereka mengingatkan pada Elia yang menurunkan api di Gunung Karmel (1 Raja-Raja 18:36–38); menghentikan hujan mengingatkan pada kekeringan Elia (Yakobus 5:17); mengubah air menjadi darah mengingatkan pada tulah pertama di bawah Musa (Keluaran 7:14–24). Tetapi perhatikan bahwa mereka bertindak sebagai satu saksi, bukan dua individu yang bekerja berdampingan — karena hanya gereja yang membentang seumur hidup selama “3,5 tahun” yang digambarkan itu. Jadi mengapa dua, bukan satu? Karena dalam Perjanjian Lama, satu saksi tunggal tidak memiliki kedudukan hukum (Ulangan 19:15); dua saksi yang sepenuhnya sepakat berfungsi sebagai satu kesaksian tunggal yang sah.

4. Berpakaian untuk berkabung, bukan untuk kemenangan

Ada satu detail yang mudah terlewatkan: kedua saksi itu berpakaian kain kabung (11:3) — tanda kuno untuk perkabungan, kesusahan nasional, ketundukan yang rendah hati dalam doa, dan pertobatan. Para nabi mengenakannya untuk menandakan penghakiman yang akan datang. Semua ini bersama-sama memberi tahu kita: kedua saksi ini datang bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk memanggil sebuah dunia yang menolak kepada pertobatan, bahkan sementara mereka sendiri ditandai dengan kedukaan.

5. Kekalahan yang tampak, kemenangan yang nyata

Setelah menyelesaikan kesaksian mereka, kedua saksi itu dibunuh oleh binatang itu (11:7). Bagaimana ini bisa terjadi, jika Yesus menjanjikan bahwa gereja tidak akan pernah dapat dikalahkan (Matius 16:18)? Kedua pernyataan ini sesungguhnya tidak bertentangan — kata Yunani yang berbeda digunakan dalam masing-masing kasus; Matius menjanjikan bahwa gereja tidak dapat digulingkan secara permanen, sementara Kitab Wahyu menggambarkan sebuah kekalahan yang nyata, tetapi sementara.

Yang terpenting, mereka dibunuh hanya “setelah mereka menyelesaikan kesaksian mereka” (11:7) — misi mereka telah diselesaikan, bukan dipotong sebelum waktunya. Dunia merayakan pembungkaman mereka yang tampak, bahkan membiarkan mayat mereka tidak dikuburkan di jalan sebagai tindakan penghinaan yang disengaja (11:9). Tetapi setelah tiga setengah hari — yang secara sengaja bergema dengan tiga setengah tahun itu — mereka dibangkitkan dan diangkat ke surga di hadapan mata musuh-musuh mereka, persis seperti Yesus.

Kisah ini juga merupakan sebuah pembalikan yang tajam dari kisah Ester: di sana, umat Allah yang terancam diizinkan untuk melawan dan menang, dan musuh-musuh mereka saling mengirim hadiah untuk mengenang kekalahan itu. Dalam Kitab Wahyu, tidak ada pertolongan semacam itu melalui kekerasan — kedua saksi itu dibunuh, dan justru musuh-musuh merekalah yang, sebentar, merayakan dan saling bertukar hadiah (11:10). Tetapi pembalikan itu tidak berhenti di situ. Di mana pola Perjanjian Lama biasanya melindungi sebuah sisa umat sementara penghakiman jatuh atas mayoritas, di sini itu dibalikkan lagi: hanya sepersepuluh kota yang runtuh dalam gempa bumi yang menyusul, dan sembilan puluh persen yang tersisa memberikan kemuliaan kepada Allah (11:13) — sebuah tanda, di sepanjang Kitab Wahyu, dari penyembahan yang sejati. Dalam kisah Ester, kemenangan berarti musuh-musuh itu mati. Dalam Kitab Wahyu, kemenangan berarti banyak dari musuh-musuh itu berpaling kepada Allah.

6. Mengapa ini penting di sini

Pasal ini bukanlah analisis sastra yang abstrak bagi banyak dari kalian. Bagi komunitas Kristen minoritas yang hidup di bawah populasi mayoritas Hindu, Buddha, atau Muslim, dan bagi orang-orang percaya di jemaat-jemaat yang tidak terdaftar atau bawah tanah yang menghadapi tekanan negara yang nyata, kemartiran yang digambarkan pasal ini sangat dekat dengan realitas yang dihidupi, bukan alat sastra yang jauh. Itu layak disebutkan dengan jujur alih-alih dilunakkan menjadi sekadar latihan simbolis.

Apa yang ditawarkan pasal ini kepada pembaca semacam itu bukanlah sebuah janji bahwa kesetiaan menjamin pertolongan dari penderitaan — tidak, dan kedua saksi itu sungguh-sungguh dibunuh. Yang ditawarkannya adalah ini: kesaksianmu tidak sia-sia bahkan ketika, dari luar, tampak telah gagal sepenuhnya. Pelayanan tanda-tanda dan mukjizat kedua saksi itu sendiri tidak mengubah apa pun. Kematian setia merekalah, yang mengikuti pola kematian Yesus sendiri, yang menjadi titik balik — saat dunia yang menyaksikan dihadapkan pada kebenaran, dan sebagian dari mereka berpaling kepada Allah karenanya.

7. Refleksi penutup

Kedua saksi itu dan binatang dari pasal 13 sama-sama mengklaim mewakili kekuasaan mutlak, tetapi segala sesuatu tentang cara mereka beroperasi sangat berbeda: kedua binatang itu memerintah melalui ketakutan, kekerasan, dan manipulasi dan tidak pernah menunjukkan kelemahan; kedua saksi itu datang dalam kerendahan hati, membiarkan diri mereka dikalahkan, dan bertindak tanpa kepanikan, karena mereka tahu bahwa ketika waktu mereka tiba, pekerjaan mereka telah selesai.

  • Jika kesaksianmu, seperti kedua saksi itu, tampak berakhir dalam kekalahan yang tampak alih-alih keberhasilan yang terlihat, dapatkah kamu tetap percaya bahwa itu telah mencapai apa yang dimaksudkan Allah?
  • Di manakah kamu merasakan dorongan untuk meniru metode-metode binatang itu — kekerasan, ketakutan, manipulasi — bahkan dalam mengejar sesuatu yang kamu yakini baik, alih-alih memercayakan hasilnya kepada Allah?
  • Apa artinya minggu ini untuk memegang panggilanmu sebagaimana kedua saksi itu memegang panggilan mereka — tanpa kepanikan, karena pekerjaan itu sudah selesai di tangan Allah, apa pun hasil yang terlihat?