Latar Belakang: Kitab Macam Apa Ini? Surat, Nubuat, Apokalips
Kitab Macam Apa Ini? Surat, Nubuat, Apokalips
Pembuka: Tiga Cara Menyampaikan Sesuatu yang Penting
Andaikan seseorang perlu menyampaikan sesuatu yang mendesak kepada Anda. Ia bisa menulis surat kepada Anda. Ia bisa berdiri di sudut jalan dan memperingatkan Anda dengan jelas untuk berubah haluan sebelum terlambat. Atau ia bisa memberikan Anda kartun politik — misalnya seekor naga raksasa yang melahap sebuah kota — percaya bahwa Anda akan langsung menangkap maksudnya tanpa mengira naga itu sebagai foto sungguhan.
Wahyu, secara mengagumkan, melakukan ketiganya sekaligus. Ia adalah surat, nubuat, dan apokalips, terlipat menjadi satu kitab. Sebagian besar kebingungan tentang cara membaca Wahyu berasal dari memilih hanya satu dari ketiga lensa ini dan memaksakan seluruh kitab melaluinya.
Ia Adalah Surat
Wahyu dibuka dengan salam baku dan ditutup dengan penutup surat baku, dialamatkan secara eksplisit kepada tujuh jemaat nyata di Asia Kecil. Kerangka ini sangat penting. Artinya, sebagian besar kitab ini ditulis untuk membantu ketujuh jemaat itu menghadapi persoalan konkret abad pertama yang benar-benar mereka hadapi — beberapa tulahnya membawa rujukan historis khusus yang akan langsung dikenali oleh pembaca pertamanya. Jika kita memperlakukan Wahyu seolah-olah ia hanya berbicara kepada suatu generasi yang jauh di masa depan, kita sudah melewatkan sinyal paling dasarnya. Itu tidak berarti kitab ini tidak punya sesuatu untuk disampaikan kepada kita; itu berarti ia berbicara kepada mereka terlebih dahulu, dan kita memahaminya dengan memahami hal itu.
Ia Adalah Nubuat
Nubuat dalam Kitab Suci pertama-tama bukan tentang meramalkan peristiwa yang jauh di masa depan. Nubuat ada untuk mendorong dan memotivasi umat Allah agar melawan kejahatan, untuk memanggil mereka kembali kepada kesetiaan sekarang. Diterapkan pada Wahyu, ini berarti kitab ini tidak terikat pada garis waktu literal satu generasi masa depan saja. Ia mengambil pola-pola historis — kekaisaran, penyembahan berhala, penganiayaan, kompromi — dan membentuknya menjadi bentuk simbolis yang berulang, sehingga pesannya berlaku sepanjang seluruh zaman antara kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua, bukan hanya pada akhirnya saja.
Ia Adalah Apokalips
Inilah genre yang paling tidak dikenali oleh pembaca modern, karena kita jarang menjumpainya di luar kitab ini. Apokalips ingin memicu sebuah keputusan. Ia menggunakan gambaran yang keras, hidup, kadang mengejutkan — seekor naga, seekor binatang dengan kepala dan tanduk, seorang perempuan yang berselubungkan matahari — untuk menimbulkan reaksi dalam diri pembaca, dan bahasa simbolis untuk menggambarkan realitas rohani yang sebaliknya tidak bisa kita lihat. Anda tidak bertanya apakah naga kartun itu benar-benar ada; Anda langsung menangkap maksudnya. Wahyu menuntut jenis pembacaan yang sama.
Kerangka Daniel
Wahyu memberi sinyal genrenya sendiri dengan cara yang mencolok: pembukaan dan penutupnya secara sengaja menggemakan bahasa yang membingkai Daniel pasal 2. Kata-kata seperti “rahasia” dan “apa yang harus segera terjadi” muncul kembali di Wahyu 1:1, 1:19, 4:1, dan 22:6, menggemakan Daniel 2:28-45 dan 2:45. Daniel 2, ingatlah, menggambarkan kerajaan-kerajaan secara simbolis — sebuah patung menjulang yang dihancurkan menjadi kepingan oleh satu batu. Gema yang disengaja itu memberi tahu kita bahwa Wahyu bermaksud dibaca dengan cara yang sama: secara simbolis, dan secara benar, sekaligus.
Ayat pembuka kitab ini menguatkan hal itu dengan pilihan kata kerja Yunani yang cermat. Allah memberikan Kristus wahyu ini “untuk menunjukkan” (deiknumi) kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi; Ia “memberitahukannya” (semaino) dengan mengutus malaikat-Nya kepada Yohanes (Wahyu 1:1). Kata kerja kedua itu, semaino, adalah kata yang sama yang digunakan dalam teks Yunani Daniel untuk menafsirkan penglihatan simbolis, dan muncul di tempat lain dalam Perjanjian Baru untuk makna-makna simbolis — termasuk, dalam Injil Yohanes, untuk makna kematian Yesus sendiri (Yohanes 12, 18, 21). Yohanes punya kata yang lebih sederhana yang tersedia jika ia sekadar bermaksud “mengumumkan” (gnorizo) — dan ia tidak menggunakannya. Itu adalah sinyal yang disengaja ke arah simbolisme. Dan deiknumi, “menunjukkan,” muncul berulang-ulang sepanjang kitab ini tepat di tempat-tempat penglihatan simbolis disampaikan oleh seorang malaikat: ruang takhta di pasal 4, penglihatan tentang perempuan sundal di pasal 17, Mempelai dan Yerusalem Baru di pasal 21, sungai kehidupan di pasal 22.
Kesimpulan yang mengarah dari ini: secara bawaan, bacalah secara simbolis di mana pun teksnya tidak jelas-jelas literal. Kitab ini penuh dengan gambaran yang jelas simbolis — Anak Domba, naga, binatang dengan kepala dan tanduknya, gulungan kitab yang dimeteraikan dengan tujuh meterai, pedang dari mulut Kristus. Tak satu pun dari ini berarti gambaran-gambaran itu kurang nyata. Sesuatu bisa bersifat simbolis dan nyata sekaligus — sebagaimana Sungai Nil yang berubah menjadi darah dalam kitab Keluaran adalah peristiwa historis yang sungguh nyata sekaligus secara simbolis menghakimi dewa sungai Mesir. Gambaran-gambaran Wahyu bekerja dengan cara yang sama: berakar dalam sejarah nyata, dan menunjuk pada realitas rohani dan masa depan yang nyata, melalui simbol.
Naluri yang Sudah Lama Dipraktikkan dalam Tradisi Kita Sendiri
Di sini, tradisi Katolik menawarkan sesuatu yang menguatkan pembacaan ini, bukan berdiri terpisah darinya. Sejak abad-abad paling awal, para Bapa Gereja mendekati teks-teks apokaliptik dengan kehati-hatian yang nyata terhadap penafsiran yang terlalu literal dan mengejar tajuk-tajuk berita. Agustinus, antara lain, memperingatkan terhadap penetapan tanggal yang penuh percaya diri dan terhadap membaca angka-angka apokaliptik sebagai kode yang menunggu untuk dipecahkan demi tahun kalender tertentu. Kehati-hatian itu tidak pernah menjadi cara untuk menghindari kitab ini — para Bapa Gereja menggumuli citra Wahyu dengan sungguh-sungguh, membaca penglihatan-penglihatannya sebagai penggambaran realitas rohani dan kehidupan Gereja yang terus berlangsung sepanjang sejarah, bukan sebuah berita masa depan yang sudah dikodekan lebih dahulu.
“Hermeneutika kehati-hatian” ini adalah benang yang sudah lama ada dalam penafsiran Alkitab Katolik, yang layak disebut sebagai kekuatan sejati, bukan keterbatasan. Naluri yang sama, sabar dan tidak sensasional, yang telah menjaga Gereja agar tidak memetakan simbol-simbol Wahyu ke berita minggu ini selama dua ribu tahun, justru adalah naluri yang memang dirancang untuk dihargai oleh teks itu sendiri. Kita tidak sedang menambahkan pengecekan atas pembacaan simbolis yang diuraikan di atas — kita sedang menyadari bahwa tradisi kita sendiri telah diam-diam mempraktikkannya sepanjang waktu.
Kesetiaan Total, Tanpa Ruang Netral
Apa pun lensa genre yang kita pakai, satu tuntutan tetap konstan: kitab ini tidak memberi ruang tengah yang nyaman. Ia menuntut kesetiaan total kepada Kristus, yang diungkapkan bukan sebagai satu keputusan dramatis yang diambil sekali, melainkan sebagai cara membaca — dan cara hidup — yang dipertahankan sepanjang seumur hidup.
Pertanyaan untuk Refleksi
Di manakah Anda pernah tergoda untuk memperlakukan Wahyu sebagai teka-teki yang harus dipecahkan, mencocokkan simbol-simbolnya dengan tajuk berita hari ini alih-alih mendengar apa yang dituntutnya dari Anda sekarang? Di manakah “membacanya secara simbolis” secara diam-diam menjadi alasan untuk menghindari tuntutan sesungguhnya dari kitab ini — kesetiaan, penyembahan, perlawanan terhadap kompromi? Seperti apa rupanya memegang, pada saat yang sama, kerendahan hati penafsiran yang nyata tentang detail suatu gambar dan kepastian yang nyata tentang untuk apa kitab ini secara keseluruhan?
Penutup
Bacalah Wahyu sebagaimana Gereja telah membacanya selama berabad-abad: bukan sebagai jadwal waktu yang harus dipecahkan dari jarak aman, melainkan sebagai sebuah penyingkapan — tentang pemerintahan Kristus yang kini berlaku, tentang harga sesungguhnya dari penyembahan berhala, tentang sebuah realitas yang berdiri di balik setiap tajuk berita tanpa bisa direduksi menjadi salah satu darinya. Itulah pertanyaan yang lebih sulit dan lebih setia yang selalu diajukan kitab ini kepada Gereja, jauh sebelum salah seorang dari kita mencoba mengubahnya menjadi kalender.
Untuk Persiapan
Pertanyaan diskusi:
- Mengapa penting bahwa pembukaan dan penutup Wahyu secara sengaja menggemakan bahasa Daniel 2 tentang “rahasia” dan “apa yang harus segera terjadi”?
- Apa makna pilihan Yohanes menggunakan semaino dibanding gnorizo yang lebih sederhana dalam Wahyu 1:1? Apa yang diberitahukan pilihan kata itu kepada kita tentang cara membaca seluruh kitab ini?
- Dengan cara apa sesuatu bisa bersifat simbolis dan secara historis nyata pada saat yang sama? Apakah Sungai Nil yang berubah menjadi darah membantu memperjelas ini untuk citra Wahyu sendiri?
- Bagaimana kehati-hatian Agustinus terhadap penetapan tanggal yang penuh percaya diri selaras, bukan bertentangan, dengan argumen bahwa Wahyu dimaksudkan untuk dibaca secara simbolis?
Saran lagu/nyanyian: “Ye Watchers and Ye Holy Ones”; “Holy God, We Praise Thy Name”; pertimbangkan membuka sesi dengan sesaat refleksi hening di hadapan sebuah ikon atau gambar Kristus yang bertakhta, membiarkan kelompok duduk bersama simbol sebelum beralih ke analisis.