Latar Belakang: Simbol atau Harfiah? Belajar Membaca Bahasa Kitab Wahyu

Waktu membaca: 5 menit

Pembuka

Tanyakan kepada kelompok Anda: adakah yang pernah melihat sebuah bagan yang memetakan binatang dari Wahyu 13 kepada seorang politikus tertentu yang masih hidup, atau sebuah sistem kode batang tertentu, atau sebuah pemerintahan dunia tertentu? Sebagian besar kelompok pasti pernah menjumpai setidaknya satu versi dari ini. Jangan meremehkannya — dorongan itu muncul dari keseriusan memperlakukan teks ini, dan itu tepat sekali. Tetapi tanyakan: bagaimana jika teks itu sendiri memberi kita sinyal tentang bagaimana teks ini ingin dibaca, dan sinyal-sinyal itu menunjuk ke arah yang berbeda dari sebuah alat dekode peristiwa terkini? Itulah inti sesi ini: belajar membaca kosakata Wahyu sendiri tentang bagaimana kitab ini memberi tahu kita cara menafsirkannya.

Pengajaran Inti

Versi paling lengkap dari argumen ini ada di expl/background/literature/literally-or-symbolic.md — layak dibaca secara penuh jika kelompok Anda ingin menelusuri argumen bahasa Yunaninya secara rinci.

Tidak ada aturan satu-untuk-semua. Sesuatu bisa bersifat simbolis dan tetap benar-benar terjadi secara harfiah — Sungai Nil yang berubah menjadi darah dalam tulah Keluaran adalah peristiwa fisik yang nyata sekaligus penghakiman simbolis atas Sungai Nil sebagai sumber kehidupan dan penyembahan orang Mesir. Sebuah fakta sejarah yang harfiah juga bisa menjadi simbol abadi dalam dirinya sendiri: kedua belas anak Yakub yang sungguh nyata menjadi simbol yang bertahan lama bagi umat pilihan Allah. Jadi pertanyaan “apakah ini simbol atau harfiah?” seringkali adalah pertanyaan yang keliru. Pertanyaan yang lebih baik adalah: apa yang sedang dilakukan bagian ini, dan petunjuk apa yang ditinggalkan penulisnya bagi kita?

Hubungan dengan Kitab Daniel. Wahyu dengan sengaja menggemakan bahasa yang membingkai Daniel 2 — sebuah penglihatan yang menggambarkan kerajaan-kerajaan secara simbolis, sebagai sebuah patung yang dihancurkan oleh sebuah batu, yang juga merupakan simbol lain. Daniel 2 adalah satu-satunya kitab nubuat yang menggunakan kata “rahasia,” dan kata itu muncul tiga kali juga dalam Wahyu: rahasia jemaat, rahasia Allah, dan rahasia binatang itu (kita akan kembali ke ketiganya dalam sesi 6). Rumusan pembuka Wahyu, “untuk menunjukkan apa yang harus segera terjadi,” secara langsung menggemakan bahasa pembuka dan penutup Daniel sendiri — sebuah sinyal bahwa Yohanes ingin kita membaca kitabnya sebagaimana kita membaca kitab Daniel: secara simbolis, bukan sebagai siaran berita harfiah.

Argumen kunci bahasa asli: deiknumi dan semaino. Wahyu 1:1 mengatakan Allah “memberitahukan (semaino) dengan perantaraan malaikat-Nya” dan memberikannya “untuk menunjukkan (deiknumi) kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi.” Kedua kata kerja Yunani ini membawa bobot yang sesungguhnya.

  • Semaino (σημαίνω) adalah kata yang sama yang digunakan dalam Perjanjian Lama versi Yunani untuk penafsiran sebuah penglihatan simbolis dalam Daniel. Kata ini hanya muncul lima kali dalam seluruh Perjanjian Baru — tiga di antaranya menggambarkan, secara simbolis, hakikat kematian Yesus di kayu salib (Yohanes 12:33, 18:32, 21:19). Perlu dicatat, Yohanes punya kata yang lebih sederhana yang tersedia untuk sekadar “mengumumkan” atau “memberitahukan” — gnorizo — dan ia tidak memakainya. Pilihan kata itu adalah sinyal yang disengaja ke arah komunikasi simbolis, bukan pengumuman langsung.
  • Deiknumi (δείκνυμι) muncul di sepanjang kitab ini dipasangkan dengan penglihatan-penglihatan yang “dilihat” Yohanes dan kemudian ditafsirkan — ruang takhta dalam Wahyu 4:1, sundal itu dalam 17:1, Yerusalem Baru dalam 21:9-10. Ini adalah bahasa penglihatan, bukan bahasa laporan berita.

Digabungkan, kedua kata kerja ini menunjuk pada sebuah asumsi dasar: bacalah Wahyu secara simbolis di mana pun teks itu tidak jelas-jelas berbicara tentang sebuah peristiwa harfiah yang biasa. Dan memang kitab ini penuh dengan hal-hal yang jelas dimaksudkan sebagai simbol — seekor anak domba, seekor naga, seekor binatang dengan kepala dan tanduk, sebilah pedang yang keluar dari mulut. Tidak seorang pun di kelompok Anda mengira Yesus secara harfiah memiliki pedang yang menjulur dari wajah-Nya; kita secara naluriah sudah membaca itu secara simbolis. Undangannya adalah memperluas naluri yang sama itu secara konsisten di seluruh kitab, alih-alih beralih ke pembacaan harfiah setiap kali sebuah simbol tampak cocok dengan sesuatu yang kita kenali di zaman kita sendiri.

Sebuah tempat di mana sumber aslinya memerlukan sedikit koreksi. Salah satu contoh dalam artikel asli, yang menghubungkan pemberian makan lima ribu orang dengan “makanan rohani,” mengutip Matius 16:5-12 — tetapi bagian itu sebenarnya adalah peringatan Yesus yang belakangan tentang “ragi orang Farisi,” yang hanya menyinggung mukjizat pemberian makan itu secara sekilas. Narasi pemberian makan itu sendiri, dan tema “roti hidup” yang dikembangkannya, lebih tepat ditemukan dalam Matius 14:13-21 atau, lebih lengkap lagi, dalam Yohanes 6. Koreksi kecil, tetapi layak dicontohkan bagi kelompok Anda: bahkan materi yang cermat dan bersumber baik pun mendapat manfaat dari memeriksa ulang kutipan terhadap teksnya sendiri — kebiasaan itu adalah bagian dari tujuan format pendalaman ini.

Mengapa ini penting secara praktis. Jika Wahyu secara default membaca secara simbolis yang berlabuh pada dunia abad pertamanya sendiri (Roma, kultus kaisar, pergumulan nyata ketujuh jemaat), maka godaan untuk mencocokkan simbol-simbolnya dengan sebuah bangsa modern, seorang pemimpin modern, atau sebuah teknologi modern bukan sekadar kekeliruan kecil — godaan itu langsung bertentangan dengan arah tujuan yang dinyatakan kitab ini sendiri. Itu tidak mengurangi relevansi Wahyu bagi kita; justru sebaliknya, itu berarti pesannya lebih tahan lama, karena tidak terikat pada tebakan abad mana yang mendapat giliran menjadi “sang” penggenapan.

Pertanyaan Diskusi

Memahami teks:

  1. Mengapa pilihan penulis memakai semaino alih-alih gnorizo yang lebih sederhana berfungsi sebagai bukti untuk sebuah pembacaan simbolis?
  2. Bagaimana tulah Sungai Nil menjadi darah memberi teladan bahwa sesuatu bisa menjadi peristiwa sejarah yang nyata sekaligus sebuah simbol pada saat yang sama?
  3. Apa artinya bahwa “rahasia” muncul dalam Wahyu tepat tiga kali, menggemakan penggunaan unik istilah yang sama dalam Daniel 2?

Lalu bagaimana bagi kita: 4. Pernahkah Anda menjumpai (atau membuat) sebuah klaim yakin yang mencocokkan sebuah simbol Wahyu dengan sebuah peristiwa terkini atau tokoh publik? Apa yang terjadi ketika ramalan itu tidak terbukti? 5. Jika pembacaan defaultnya adalah simbolis-namun-berlabuh-secara-historis, bagaimana seharusnya itu mengubah reaksi Anda saat berikutnya seseorang mengklaim telah mengidentifikasi “sang” Antikristus dalam berita? 6. Seperti apa wujudnya bagi kelompok Anda untuk memegang gambaran-gambaran Wahyu dengan keyakinan yang nyata sekaligus kerendahan hati yang nyata — memperlakukannya dengan serius tanpa perlu memakukannya pada sebuah judul berita?

Prompt Doa Penutup

Mintalah kepada Allah kepekaan untuk membaca simbol-simbol Wahyu sebagaimana para pembaca pertamanya akan membacanya — dengan serius, secara rohani, dan berakar pada teks yang sesungguhnya — alih-alih sebagai sebuah teka-teki yang harus dipecahkan melawan berita minggu ini. Berdoalah untuk kebebasan dari kecemasan yang sering dihasilkan oleh penafsiran koran, dan untuk kepercayaan yang lebih dalam bahwa kendali Allah atas sejarah tidak bergantung pada ketepatan tebakan kita atas jadwal waktunya.