Wahyu Hari Ini: Sebuah Adaptasi untuk Kalangan Liberal / Progresif Arus Utama Barat
Selamat Datang
Jika Anda berasal dari tradisi yang secara teologis progresif dan arus utama, ada kemungkinan besar bahwa Kitab Wahyu selama ini berfungsi dalam hidup Anda sebagai sebuah kitab yang dengan sopan Anda hindari. Mungkin Anda lebih sering mendengarnya dikutip oleh orang-orang yang tidak Anda sepakati daripada oleh mimbar gereja Anda sendiri. Mungkin cawan-cawan murka, lautan api, dan garis tegas antara yang diselamatkan dan yang binasa terasa begitu janggal berhadapan dengan segala sesuatu yang Anda yakini tentang kasih Allah yang luas dan inklusif, sehingga rasanya lebih aman membiarkan kitab ini berdebu di antara Kitab Yudas dan buku nyanyian.
Seri ini dibuat untuk Anda, dan bukan untuk membujuk Anda meninggalkan naluri Anda. Seri ini dibangun di atas keyakinan bahwa kalangan pembaca ini justru membawa kekuatan nyata dalam membaca Kitab Wahyu — kekuatan yang benar-benar dibutuhkan kitab ini. Anda sudah sungguh-sungguh meyakini bahwa kepedulian Allah menjangkau sampai ke pinggiran, kepada orang miskin, yang dianiaya, yang dieksploitasi secara ekonomi — dan justru merekalah yang menjadi tujuan dan sasaran Kitab Wahyu ditulis. Anda bersedia melakukan kerja keras kajian historis-kritis, bertanya apa arti sebuah teks bagi pendengar pertamanya sebelum bertanya apa artinya bagi kita — dan Kitab Wahyu, jika dibaca dengan cara itu, ternyata jauh lebih tidak aneh dan jauh lebih mendesak daripada reputasinya. Dan komitmen Anda terhadap keadilan bagi yang tertindas hampir persis sejalan dengan tema besar kitab ini sendiri: bahwa “murka Sang Anak Domba” bukanlah keisengan, melainkan perhitungan yang sudah lama tertunda demi korban-korban nyata dari kerajaan-kerajaan nyata.
Jadi seri ini tidak akan meminta Anda berhenti menjadi diri Anda secara teologis. Seri ini akan meminta Anda untuk benar-benar membuka kitab ini.
Di mana ini menjadi lebih sulit
Ada dua tantangan jujur yang patut disebutkan sejak awal, karena menghindarinya justru akan menjadi bentuk ketidakjujuran tersendiri.
Yang pertama adalah kebiasaan membaca melewati dua pertiga bagian sulit dari kitab ini — memperlakukan meterai-meterai, sangkakala-sangkakala, cawan-cawan, binatang-binatang, dan sang pelacur sebagai peninggalan kuno yang memalukan, yang cukup dijelaskan sebagai “sekadar” mekanisme bertahan bagi minoritas yang dianiaya, alih-alih sebagai pesan yang masih memiliki klaim atas diri kita. Apokaliptik adalah sebuah genre, dan genre memiliki aturan-aturannya sendiri, tetapi memiliki aturan tidak sama dengan tidak memiliki otoritas. Kita akan menyikapi pertanyaan genre ini dengan serius pada sesi 1, dan kita akan terus kembali kepadanya, karena melewati ketidaknyamanan bukanlah hal yang sama dengan menyelesaikannya.
Yang kedua adalah Laodikia — bisa dibilang cermin tunggal paling penting yang diangkat oleh seluruh seri ini. Laodikia adalah yang paling kaya, paling terhormat, paling puas diri di antara ketujuh jemaat, dan hanya jemaat inilah yang tidak mendapat satu pun kata baik dari Yesus. Bukan karena ia dianiaya dan gagal di bawah tekanan, seperti beberapa jemaat lain, melainkan karena ia tidak pernah menghadapi tekanan yang berarti sama sekali, dan justru salah mengira kenyamanan sebagai kesetiaan. Itu patut direnungkan dengan jujur, sebagai sebuah undangan dan bukan tuduhan, khususnya bagi kita yang berasal dari tradisi-tradisi yang, secara umum, nyaman dan mapan, bukan terkepung dan terpinggirkan.
Tiga belas sesi akan menyusul — untuk orang dewasa dan, dalam bentuk yang lebih ringkas, untuk anak-anak — menelusuri alur argumen sesungguhnya dari Kitab Wahyu: penyembahan yang lebih dahulu, penghakiman sebagai keadilan, kerajaan yang dibongkar kedoknya, dan pengharapan yang cukup teguh untuk bertahan menghadapi pertanyaan-pertanyaan jujur. Datanglah dengan apa yang sudah Anda yakini tentang Allah. Bawa juga pertanyaan-pertanyaan Anda tentang murka dan penghakiman — di sini semuanya disikapi dengan serius, bukan dilewati begitu saja.