Wahyu 4: Penyembahan di Ruang Takhta

Waktu membaca: 5 menit

Penyembahan di Ruang Takhta

Membaca penghakiman secara terbalik

Ada kebiasaan yang patut disebutkan: kebanyakan dari kita, ketika memikirkan adegan-adegan penghakiman dalam Kitab Wahyu — meterai-meterai, sangkakala-sangkakala, cawan-cawan, semua api dan murka itu — membayangkan kita mulai dari seorang Allah yang pendendam, yang akhirnya, hampir sebagai renungan belakangan, sampai juga pada disembah. Urutan itu justru persis terbalik, dan membalikkannya adalah alasan besar mengapa materi penghakiman terasa begitu asing dan mengancam bagi kita. Kitab Wahyu sebenarnya dimulai dengan penyembahan — dua pasal penuh, sesungguhnya, sebelum satu tulah pun jatuh — dan segala sesuatu yang mengikutinya mengalir dari adegan itu, bukan sebaliknya. Jika kita ingin memahami murka dalam kitab ini, kita harus mulai dari tempat kitab ini sendiri memulai: di ruang takhta.

Apa yang sebenarnya dijawab oleh ruang takhta

Pasal 4 dan 5 bukanlah jalan memutar sebelum “aksi sesungguhnya” dimulai. Keduanya adalah engsel tempat seluruh kitab ini berputar. Lihatlah persoalan-persoalan yang disebutkan dalam ketujuh surat tepat sebelum adegan ini: ajaran yang salah membawa pada perilaku yang salah di Pergamus dan Tiatira; penilaian diri yang salah membawa pada tindakan yang salah di Sardis dan Laodikia; prioritas yang salah tempat menguras makna dari Efesus; keadaan yang sungguh sulit menggoda Smirna dan Filadelfia untuk menyerah. Empat persoalan yang sangat berbeda. Satu jawaban, ditawarkan sebelum tulah mana pun dimulai: penyembahan.

Itu bukan kalimat yang asal disisipkan. Logikanya spesifik: semakin jelas kita mengenal dan menyembah Allah sebagaimana Allah sesungguhnya, semakin sedikit ajaran sesat bisa menggerakkan kita; ketika kita benar-benar melihat Allah, kita melihat diri kita sendiri secara akurat, termasuk di mana kita lemah; ketika Allah sungguh-sungguh diutamakan, prioritas-prioritas lain kita jatuh ke tempat yang semestinya alih-alih saling bersaing untuk posisi teratas; dan ketika kepercayaan kita tertambat pada sesuatu yang sungguh-sungguh tak tergoyahkan, keadaan sulit tidak akan mengguncang kita lepas. Setiap persoalan penggembalaan di ketujuh jemaat mendapat resep yang sama, karena pada akarnya semuanya adalah persoalan yang sama: sesuatu selain Allah diam-diam telah menjadi yang utama.

Membaca penghakiman melalui belas kasihan, bukan mengelilinginya

Di sinilah materi sumber menawarkan sesuatu yang sungguh berguna bagi ketidaknyamanan audiens ini terhadap murka: ia memberi tahu kita bagaimana membaca segala sesuatu yang mengikutinya, sebelum itu terjadi. Reaksi pertama Yohanes terhadap ruang takhta adalah tercengang oleh kemuliaan Allah — begitu luar biasa hingga tidak bisa dipandang langsung. Detail itu menggemakan kembali Musa, yang juga meminta melihat kemuliaan Allah secara langsung dan sebagai gantinya diperlihatkan belas kasihan Allah, karena itulah sebenarnya isi kemuliaan Allah. Jika itu benar, maka tulah-tulah yang mengikuti adegan ini perlu dibaca melalui lensa belas kasihan, bukan meskipun ada belas kasihan — bukan sebagai alternatif dari belas kasihan Allah, melainkan sebagai salah satu ungkapannya.

Dua detail lagi dalam penglihatan ini memperkuat hal ini. Pertama, pelangi yang melengkung di atas takhta — gema yang tak terbantahkan dari perjanjian dengan Nuh, janji Allah untuk tidak pernah lagi menghancurkan bumi dengan air bah, sebuah perjanjian yang tidak menuntut apa pun dari Nuh sebagai balasannya. Ditempatkan di sini, tepat pada pengantar segala sesuatu yang mengikutinya, itu menandakan bahwa penghakiman apa pun yang akan datang, semuanya terbatas, bukan tak terbatas. Kedua, lautan kaca di hadapan takhta — di tempat lain dalam Kitab Suci, laut secara konsisten diasosiasikan dengan tempat kekacauan dan kejahatan. Di sini laut itu diubah menjadi kaca: membeku, tenang, tidak lagi bisa bergolak dan mengancam. Bersama-sama, detail-detail ini memberi tahu kita: Allah dekat dengan umat-Nya dan melindungi mereka, bahkan ketika penghakiman-penghakiman berjalan menempuh jalannya. Tujuan tulah-tulah yang mengikutinya tidak pernah berupa pengabaian. Itu adalah pembongkaran kejahatan, jendela pertobatan yang menyempit, dan perlindungan bagi orang-orang setia yang berjalan di baliknya — bukan kehancuran membabi buta.

Penyembahan sebagai pusat sesungguhnya

Ada satu detail yang layak direnungkan di sini khususnya bagi audiens progresif: kedua puluh empat tua-tua yang mengelilingi takhta menggemakan baik kedua belas suku Israel maupun kedua belas rasul — dua komunitas dalam ketegangan historis yang nyata satu sama lain, digambarkan di sini sebagai satu tubuh penyembahan yang bersatu. Keempat makhluk hidup mewakili keseluruhan ciptaan — setiap ranahnya, daratan, hewan peliharaan, umat manusia, langit — berkumpul di sekeliling takhta. Ini bukan penglihatan tentang klub eksklusif. Ini adalah penglihatan tentang keseluruhan tatanan ciptaan dan keseluruhan umat Allah yang telah didamaikan, bersama-sama, berorientasi pada satu pusat.

Itulah argumen sesungguhnya yang dibuat sesi ini: penyembahan bukanlah formalitas pendahuluan sebelum urusan “serius” penghakiman dimulai. Itu adalah substansi di balik segala sesuatu yang akan dikatakan kitab ini selanjutnya tentang keadilan, penghakiman, dan pengharapan. Pahami ruang takhta dengan benar, dan segala sesuatu setelahnya — termasuk materi yang paling membuat kita tidak nyaman — harus dibaca dalam cahayanya, bukan sebagai suara terpisah yang lebih keras yang berbicara di atasnya.

Mengapa ini penting bagi apa yang akan datang

Kita akan segera menghabiskan beberapa sesi dengan materi yang sungguh sulit bagi audiens ini: keempat penunggang kuda, murka Sang Anak Domba, cawan-cawan yang ditumpahkan ke bumi. Akan mudah untuk memperlakukan sesi-sesi itu sebagai penyimpangan dari apa yang baru saja kita lihat di sini — seolah-olah penyembahan adalah bagian “menyenangkan” dari Kitab Wahyu dan penghakiman adalah bagian yang harus kita tahan dengan gigi terkatup. Bukan begitu kitab ini dibangun. Setiap tulah, setiap sangkakala, setiap cawan dalam pasal-pasal yang akan datang berasal dari ruang takhta yang sama ini, dari Allah yang sama ini yang kemuliaan-Nya adalah belas kasihan, di bawah pelangi pembatas yang sama ini. Apa pun yang kita simpulkan dari materi penghakiman, kita dituntut untuk menyimpulkannya sambil tetap berdiri di ruangan ini — bukan di tempat lain.

Pertanyaan untuk refleksi atau diskusi

  • Apa artinya, secara praktis, membiarkan penyembahan — bukan ketakutan, kewajiban, atau usaha menyelesaikan masalah sendiri — menjadi jawaban sesungguhnya atas apa pun yang sedang bergejolak dalam hidup Anda sekarang?
  • Penglihatan ini bersikeras bahwa kemuliaan Allah adalah belas kasihan. Apakah deskripsi itu cocok dengan gambaran mental yang Anda pegang tentang Allah ketika Anda membayangkan penghakiman Allah? Jika tidak, dari mana gambaran lain itu berasal?
  • Lautan kaca menunjukkan bahwa kekacauan, di hadirat Allah, telah ditenangkan, bukan dihilangkan dengan kekerasan. Apa bedanya perbedaan itu bagi Anda?