Wahyu 4: Penyembahan di Ruang Takhta

Waktu membaca: 5 menit

Penyembahan di Ruang Takhta

Jawaban sebelum pertanyaan-pertanyaan itu

Sebelum satu pun tulah atau sangkakala berbunyi, sebelum Kitab Wahyu menyebut satu pun binatang, Yohanes diperlihatkan sebuah ruang takhta. Pasal 4 dan 5 menempatkan penyembahan yang tak henti-hentinya di pusat kitab ini — bukan sebagai hiasan sebelum “isi sesungguhnya,” melainkan sebagai sumber mata air yang darinya mengalir segala sesuatu yang lain. Setiap penghakiman yang menyusul dalam kitab ini bermula di sini. Pilihan arsitektural itu sendiri adalah sebuah klaim teologis: penyembahan bukanlah satu kegiatan di antara banyak kegiatan yang dilakukan gereja. Itu adalah jawaban atas persoalan- persoalan yang baru saja didiagnosis pada ketujuh jemaat.

Menjawab persoalan-persoalan ketujuh jemaat

Lihat kembali pasal 2–3 dan persoalan-persoalan jemaat itu terbagi ke dalam beberapa kategori: doktrin yang salah menghasilkan perilaku yang salah (Pergamus, Tiatira); penilaian diri yang salah menghasilkan tindakan yang salah (Sardis, Laodikia); prioritas yang salah menghasilkan kehampaan makna (Efesus); dan keadaan yang menekan yang menggoda pada keputusasaan (Smirna, Filadelfia). Untuk setiap satu dari ini, penyembahan adalah jawabannya. Semakin jelas kita mengenal dan menyembah Allah sebagaimana Ia sesungguhnya, semakin sedikit ajaran sesat dapat mengombang-ambingkan kita. Semakin benar kita melihat Allah, semakin akurat kita melihat diri kita sendiri dan di mana kita sesungguhnya membutuhkan-Nya. Ketika Allah dengan benar diutamakan, setiap prioritas lain jatuh pada tempatnya yang semestinya. Dan ketika kepercayaan kita terpaut pada-Nya, kita tidak mudah digoyahkan — kita telah menemukan sesuatu yang tidak dapat digeser.

Teks itu sendiri menarik hubungan ini secara eksplisit: bahasa dan citra dari masing-masing ketujuh surat itu muncul kembali dalam penglihatan ruang takhta — otoritas orang yang menang, jubah putih, mahkota-mahkota, pintu yang terbuka, suara seperti sangkakala yang mengangkat sang pelihat dalam Roh. Ruang takhta bukanlah sebuah subjek baru. Itu adalah penggenapan, dalam bentuk ringkas, dari segala sesuatu yang dijanjikan kepada jemaat-jemaat itu, kini diberikan kepada mereka sebagai sebuah penglihatan untuk dihidupi.

Bentuk liturgis dari adegan ini

Jika kamu beribadah dalam sebuah tata ibadah Lutheran atau Reformed, adegan ini akan terasa kurang seperti sebuah penglihatan yang aneh dan lebih seperti sebuah gambaran pagi hari Minggu. Gerakan liturgis klasik — pengakuan dosa, Firman, dan (di mana dipraktikkan) sakramen, dibingkai di sepanjang isinya oleh pujian — memetakan dengan luar biasa cocok pada apa yang dilihat Yohanes. Adegan ini dibuka dengan kekaguman yang berbentuk pengakuan dosa: perjumpaan pertama Yohanes adalah semata-mata kemuliaan Allah, begitu menggentarkan sehingga tidak dapat dipandang langsung. Ingatlah bahwa ketika Musa meminta melihat kemuliaan Allah, ia tidak dapat melihatnya — Allah malah menunjukkan kepadanya belas kasihan-Nya (Keluaran 33:18–20). Itu berarti kemuliaan Allah sendiri dapat dengan tepat digambarkan sebagai belas kasihan-Nya, dan itu berarti kita harus membaca segala sesuatu yang menyusul — termasuk tulah-tulah itu — melalui lensa belas kasihan, bukan sekadar kuasa mentah.

Pelangi di sekeliling takhta (4:3) mengingatkan pada perjanjian Allah dengan Nuh, sebuah perjanjian tanpa tuntutan yang melekat, sebuah janji murni untuk tidak lagi pernah membinasakan bumi dengan air bah. Kehadirannya di sini memberikan cahayanya sendiri pada penghakiman-penghakiman yang akan segera terjadi: betapapun beratnya, mereka beroperasi dalam batas-batas yang ditetapkan oleh seorang Allah yang memegang perjanjian. Lautan kaca di hadapan takhta (4:6) menyatukan beberapa benang: laut sebagai tempat yang diasosiasikan dengan kekacauan dan kejahatan di tempat lain dalam Alkitab, dan laut penyeberangan Keluaran, dan laut tembaga bait Salomo yang dipakai untuk penyucian imamat. Di sini laut itu tampil “seperti kaca” — mengeras, tenang, dibuat aman. Secara keseluruhan ini menandakan bahwa Allah dekat dengan umat-Nya dan melindungi mereka: orang-orang kudus akan tetap hidup melalui apa yang menyusul, tetapi Allah hadir bersama mereka melewatinya, sebagaimana sebuah jemaat bergerak melalui pengakuan dosa menuju pengampunan dan Firman, bukan melewatinya begitu saja.

Penyembahan itu sendiri

Di dunia kuno, bait Allah mewakili seluruh tatanan ciptaan dalam bentuk ringkas, dengan Allah di pusatnya dan segala sesuatu yang lain menemukan tempatnya dalam kaitan dengan-Nya. Keempat makhluk hidup (4:7) mewakili ciptaan itu sendiri, menggemakan penglihatan Yehezkiel: singa, penguasa binatang liar; lembu, yang terkuat di antara binatang peliharaan; manusia, penguasa ciptaan; dan rajawali, penguasa udara. Bergabung dengan mereka adalah dua puluh empat tua-tua (4:4), menggemakan dua puluh empat divisi imamat dan dua puluh empat pemimpin ibadah tetap yang ditetapkan Daud bagi bait Allah — tetapi juga, secara ganda, kedua belas suku dan kedua belas rasul, Israel dan gereja sebagai satu tubuh yang menyembah. Pada intinya yang paling dalam, gereja didefinisikan di sini sebagai sebuah jemaat yang menyembah — bukan pertama-tama sebuah institusi, sebuah gerakan, atau sebuah blok suara, melainkan sebuah umat yang berkumpul yang tindakan mendasarnya adalah pujian.

Memandang ke depan

Segala sesuatu yang menyusul dalam kitab ini mengalir keluar dari ruang takhta ini: meterai-meterai yang menyingkapkan karakter sejati Iblis sekalipun mereka mendatangkan kesulitan yang nyata, ditujukan untuk menarik sebanyak mungkin orang kepada pertobatan; sangkakala-sangkakala yang mengoyak keamanan-keamanan palsu yang dipegang erat orang-orang; cawan-cawan yang menelanjangi segala sesuatu sebagai sebuah peringatan terakhir sebelum akhir. Tidak satu pun darinya bermula dari tempat lain selain di sini — justru itulah sebabnya memahami adegan ini dengan benar begitu penting bagi membaca segala sesuatu yang menyusul.

Pertanyaan untuk perenungan atau diskusi

  • Bagaimana mendengar bahwa “kemuliaan Allah adalah belas kasihan-Nya” mengubah cara kamu membaca adegan-adegan penghakiman yang menyusul dalam Kitab Wahyu?
  • Di manakah kamu melihat bentuk liturgi jemaatmu sendiri — pengakuan dosa, Firman, sakramen, semuanya dibingkai oleh pujian — tercermin dalam penglihatan ini?
  • Ruang takhta menjawab setiap persoalan yang disebutkan dalam ketujuh surat dengan resep yang sama: penyembahan. Persoalan spesifik mana dari Efesus, Sardis, atau Laodikia yang paling kamu kenali dalam kehidupan rohanimu sendiri saat ini?
  • Apa artinya bahwa jati diri paling mendasar gereja, menurut penglihatan ini, bukanlah aktivisme atau institusi melainkan penyembahan?