Wahyu 5: Gulungan Kitab yang Tidak Ada yang Sanggup Membukanya

Waktu membaca: 5 menit

Gulungan Kitab yang Tidak Ada yang Sanggup Membukanya

Pembuka: Sebuah ungkapan yang melampaui maknanya sendiri

Kita menggunakan ungkapan “itu kitab dengan tujuh meterai” untuk berarti sebuah misteri yang tidak dapat ditembus. Kebanyakan orang yang mengucapkannya tidak tahu bahwa ungkapan itu berasal dari Wahyu 5 — dan lebih sedikit lagi yang tahu bahwa dalam konteks aslinya, gulungan kitab itu bukanlah misteri yang tetap termeterai. Ini adalah dokumen yang akhirnya dibuka, di hadapan semua orang, oleh satu-satunya pribadi yang layak membukanya. Sesi ini membahas apa itu gulungan kitab tersebut, mengapa tidak ada orang lain yang dapat menyentuhnya, dan apa artinya bahwa akhirnya ada yang berhasil.

Apa sesungguhnya gulungan kitab bermeterai tujuh itu

Di dunia kuno, sebuah dokumen resmi — sebuah wasiat, sebuah undang-undang baru, sebuah dekret — dapat dimeteraikan oleh tujuh saksi dan diringkas di bagian luarnya sehingga tidak ada yang bisa mengubahnya. Membuka meterai-meterai itu bukan sekadar membaca isinya; itu adalah memberlakukan isinya secara sah. Jadi ketika suara dalam penglihatan Yohanes bertanya “siapa yang layak membuka gulungan kitab itu,” pertanyaan sesungguhnya adalah: siapa yang memiliki otoritas untuk menjalankan isi dokumen ini? Kita tidak diberi tahu secara tepat apa isi gulungan kitab itu — para penafsir telah mengusulkan para nabi, seluruh Perjanjian Lama, atau sekadar keseluruhan rencana Allah yang sedang tersingkap bagi dunia — namun teks ini sangat jelas tentang taruhannya: siapa pun yang membukanya akan memerintah dunia.

Dan tidak ada seorang pun yang sanggup. Reaksi Yohanes terhadap hal ini — tangisan yang pedih — bukanlah reaksi yang berlebihan. Itu adalah tanggapan yang pantas terhadap sebuah kisah yang tampaknya mencapai jalan buntu sebelum dapat benar-benar dimulai.

Pembalikan di pusat segalanya

Kemudian datanglah pengumuman itu: Singa dari Yehuda telah menang dan layak membuka gulungan kitab itu. Yohanes berpaling untuk melihat seekor singa — dan melihat seekor Anak Domba yang disembelih, berdiri. Ini bukan dua sosok yang berbeda atau dua tahap dari sosok yang sama. Mereka adalah satu realitas yang digambarkan dari dua sudut: Anak Domba yang tampaknya tak berdaya adalah Singa yang tak terkalahkan, sang penakluk. Inilah engsel tunggal tempat seluruh kitab ini berputar, dan patut diperhatikan betapa mendalamnya tradisi ikonografi Anda sendiri telah menyerap paradoks yang sama ini — Kristus bertakhta dalam kemuliaan, namun tetap menanggung, dalam ikonografi tradisional Amnos dan himne-himne Komuni, tanda-tanda kurban itu. Setiap pengharapan apokaliptik di dunia kuno, baik Yahudi maupun kafir, mengharapkan seorang pahlawan yang menaklukkan melalui kekuatan yang luar biasa. Kitab Wahyu menawarkan sesuatu yang tidak diminta dunia dan tidak dapat diciptakan sendiri oleh dunia: seorang pahlawan yang menaklukkan melalui disembelih.

Perhatikan juga apa yang terjadi pada saat Anak Domba itu ditemukan layak: Ia disembah, dengan istilah yang sama dan dalam napas yang sama dengan Allah di atas takhta, dan ibadah ini tidak dikoreksi atau ditegur. Hanya Allah yang berhak menerima ibadah. Adegan ini tidak begitu banyak berargumen untuk keilahian Kristus melainkan sekadar menampilkannya, sebagaimana sebuah ikon menampilkan sebuah kebenaran alih-alih membuktikannya secara silogistik.

Meterai-meterai mulai dibuka

Begitu Anak Domba mengambil gulungan kitab itu, pembukaan meterai-meterainya menyingkapkan rancangan sesungguhnya si iblis atas dunia — keempat penunggang kuda, yang dikaji lebih dekat dalam sesi berikutnya, menyingkap sebuah injil palsu dan menggoda tentang penaklukan yang hanya memperkeras penganiayaan, ketidakadilan, dan kematian. Meterai kelima menyingkapkan para martir di bawah altar, berseru “sampai kapan, ya Tuhan yang berdaulat, yang kudus dan benar, sampai Engkau menghakimi dan membalaskan darah kami?” (Wahyu 6:9-11) — dan yang luar biasa, seruan ini dijawab, bukan diabaikan: mereka diberi jubah putih dan diberi tahu untuk menunggu sedikit lebih lama lagi, sementara kisah pembenaran itu terus tersingkap di sepanjang sisa kitab ini. Meterai keenam membawa kegoncangan kosmik dan Hari Tuhan itu sendiri, hari perhitungan akhir yang tidak dapat disembunyikan siapa pun. Kemudian, setelah interupsi pemeteraian umat Allah sendiri (pasal 7 — sebuah adegan yang dibahas lebih lanjut dalam sesi berikutnya), meterai ketujuh terbuka menuju keheningan yang tertunda dan disengaja di surga.

Keheningan itu patut direnungkan lebih lama, karena tradisi Yahudi secara erat mengaitkan periode keheningan surgawi dengan momen ketika Allah secara aktif mendengarkan doa-doa umat-Nya. Ini terkait langsung kembali kepada seruan para martir dalam meterai kelima: doa mereka belum menguap ke udara. Doa itu didengar, ditimbang, dan itu berarti bagi jalannya sejarah itu sendiri.

Sepatah kata bagi yang teraniaya maupun yang berkecukupan

Bagi setiap pembaca yang pernah bertanya-tanya apakah doa-doa yang dipanjatkan di bawah tekanan yang nyata — pemenjaraan, diskriminasi, kekerasan demi nama Kristus — sungguh sampai kepada Allah atau sekadar lenyap, adegan ini menjawab dengan jelas: doa-doa itu didengar, doa-doa itu dijaga, dan keheningan di surga itu sendiri adalah bentuk perhatian, bukan pengabaian. Bagi pembaca dalam keadaan yang lebih nyaman, adegan yang sama ini adalah panggilan agar kita sendiri tidak menjadi tuli terhadap seruan-seruan itu. Terbukanya gulungan kitab itu menyingkapkan kejahatan justru agar gereja tidak salah mengira kesabaran sebagai ketidakpedulian ilahi, baik dalam hidup kita sendiri maupun hidup orang lain.

Penutup

Gulungan kitab yang tidak ada yang sanggup membukanya kini terbuka — bukan oleh kekuatan, melainkan oleh Anak Domba yang telah disembelih. Setiap liturgi yang mengangkat tinggi Kitab Injil, setiap perarakan yang membawa firman Kristus sendiri melintasi nave gereja, adalah gema kecil dari adegan ini: gulungan kitab yang menentukan nasib dunia, dipercayakan bukan kepada tangan yang paling kuat, melainkan kepada tangan yang tertikam. Misterinya bukanlah bahwa gulungan kitab itu tetap termeterai. Misterinya — misteri yang baik dan menakjubkan — adalah siapa yang ternyata layak untuk membukanya.