Wahyu 6: Injil Palsu Sang Penunggang Kuda Pertama

Waktu membaca: 5 menit

Injil Palsu Sang Penunggang Kuda Pertama

Penunggang kuda yang sepertinya tidak cocok di sana

Wahyu 6 menghadirkan empat penunggang kuda, dan tiga di antaranya mudah dikenali. Merah membawa peperangan. Hitam membawa kelaparan dan ketidakadilan ekonomi, semacam kondisi di mana barang-barang mewah tetap tak tersentuh sementara roti menjadi tak terjangkau bagi orang miskin. Pucat membawa maut. Tetapi penunggang pertama, yang menaiki kuda putih, telah membingungkan para pembaca selama berabad-abad — karena sepintas lalu, ia tampak seperti kabar baik.

'Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah, dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota, dan ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan.'

Sebuah mahkota. Seekor kuda putih — warna yang sama yang dipakai Yohanes di tempat lain untuk Yesus sendiri. Seorang penunggang yang “menang,” kata yang sama yang dipakai untuk kemenangan orang-orang kudus sendiri. Tidak ada kekerasan yang jelas melekat padanya, tidak seperti para penunggang yang mengikutinya. Tidak heran jika sebagian pembaca ingin membaca sosok ini sebagai Kristus, atau sebagai kemajuan Injil sebelum tahun-tahun sulit dimulai.

Tetapi lihatlah lebih dekat, dan gambaran ini tidak bertahan. Allah mencabut busur dari tangan Gog dan Magog, musuh-musuh akhir zaman yang menjadi prototipe, dalam kitab Yehezkiel — busur adalah senjata mereka, bukan senjata seorang pahlawan. Pasukan belalang setan yang muncul kemudian dalam Kitab Wahyu juga mengenakan “sesuatu seperti mahkota.” Dan kata “menang” dipakai sama seringnya untuk binatang buas yang menaklukkan orang-orang kudus seperti halnya untuk orang-orang kudus yang menaklukkan binatang buas itu. Yang paling menunjukkan kebenarannya, keempat penunggang kuda dipanggil dengan cara yang sama, merespons panggilan yang sama, dan termasuk dalam kelompok yang sama — sebuah kesatuan yang dikonfirmasi oleh kesesuaian empat angin, empat sangkakala, dan empat cawan di tempat lain dalam kitab ini. Jika ketiga penunggang terakhir membawa masalah, penunggang pertama pun demikian. Ia hanya datang lebih dulu, dan datang dengan tampilan seolah-olah sebuah hadiah.

Tiruan yang datang sebelum harganya dibayar

Inilah yang menjawab misteri ini: dia adalah penipu yang berdandan sebagai penakluk, dan ia maju tepat setelah Wahyu 5, di mana hanya Yesus yang didapati layak untuk membuka gulungan kitab. Jawaban iblis atas adegan itu adalah mengirimkan versi tandingannya sendiri — menawarkan kemenangan, keamanan, dan “penaklukan” tanpa substansi apa pun di baliknya. Yesus menaklukkan dengan mati sebagai Anak Domba yang disembelih. Penunggang ini menaklukkan hanya dengan tampil membawa busur dan mahkota, tanpa perlu salib. Ini adalah tipu daya paling tua yang ada: busur pertama dalam Alkitab muncul di tangan Esau, ipar Yakub, tetapi gema yang lebih dalam adalah tipu daya yang paling pertama, di mana tawaran untuk “menjadi seperti Allah” tidak menuntut ketaatan maupun harga apa pun. Kuda putih itu menjanjikan hasil akhir Kristus — kemenangan, berkat, sebuah mahkota — sambil melewatkan satu hal yang membuat kemenangan Kristus nyata: salib.

Itulah sebabnya urutannya begitu penting. Pertama datang janji: penaklukan, tanpa syarat. Kemudian datang pedang — penganiayaan terhadap siapa pun yang tidak mau ikut serta. Lalu kelaparan dan ketidakadilan bagi orang miskin, semacam tekanan ekonomi yang ditujukan kepada mereka yang tidak mau tunduk. Dan akhirnya, maut merangkum ke mana seluruh rangkaian ini menuju. Pola ini begitu mirip dengan binatang-binatang buas dalam Wahyu 13 — binatang pertama membuat janji-janji yang berlebihan, binatang kedua memaksakan kepatuhan secara ekonomi — sehingga penunggang kuda ini berfungsi sebagai pendahulu mereka. Dialah “injil palsu,” yang datang lebih awal, berdandan meyakinkan, tidak menuntut apa pun darimu selain kepercayaan pada tawarannya.

Mengapa hal ini penting bagi ajaran Injil Kemakmuran

Inilah gambaran paling jelas dalam seluruh kitab ini untuk sebuah godaan yang sangat tua dan sangat manusiawi: tawaran berkat yang terlepas dari salib. Ajaran kesehatan-dan-kekayaan, dalam bentuknya yang paling patut dimaklumi, berasal dari tempat yang nyata dan masuk akal — orang-orang yang telah mengenal kemiskinan yang sungguh nyata, penyakit yang sungguh nyata, keputusasaan yang sungguh nyata, meraih kepada Allah yang berjanji untuk menyediakan. Keinginan itu bukanlah masalahnya. Alkitab sendiri berjanji bahwa Allah menyediakan bagi umat-Nya, dan tidak ada yang rohani dari berpura-pura bahwa kemiskinan itu otomatis suci atau bahwa Allah tidak peduli terhadap penderitaan.

Tetapi janji penunggang kuda pertama bukanlah “Allah menyediakan.” Janjinya adalah “penaklukan tanpa harga” — sebuah mahkota yang datang sebelum lukanya, keamanan yang tidak menuntut salib, sebuah pesan yang begitu mirip dengan Injil sejati sehingga pembaca abad pertama bisa sesaat keliru mengira warna kuda itu sebagai warna Kristus sendiri. Itulah persis bentuk dari ajaran apa pun yang mengatakan bahwa iman yang cukup, pengakuan yang tepat, atau benih pemberian uang yang tepat menjamin kesehatan dan kekayaan sebagai semacam rumus — seolah-olah kemenangan Anak Domba adalah sebuah teknik yang bisa diterapkan, bukan pribadi yang harus dipercaya, dan seolah-olah para pengikut-Nya dijanjikan mahkota tanpa harga apa pun yang melekat pada memakainya. Peringatan Kitab Wahyu bukanlah bahwa kekayaan itu jahat pada dasarnya, atau bahwa kesehatan adalah sesuatu yang harus dihindari untuk diinginkan. Peringatannya adalah bahwa tawaran berkat apa pun yang tidak pernah menuntutmu memikul salib bukanlah hal yang sejati, sebagus apa pun tampilan kudanya atau secepat apa pun ia tampak menjawab doamu.

Apa yang sebenarnya perlu diwaspadai

Para penunggang kuda tidak datang dengan label peringatan. Itulah keseluruhan maksud gambaran ini: penunggang pertama tampak seperti kabar baik, sampai kamu memperhatikan apa yang datang tepat di belakangnya. Jadi pertanyaan praktis yang diajukan bagian ini kepada kita bukanlah “apakah aku percaya Allah memberkati umat-Nya?” — tentu saja Ia melakukannya — melainkan “apa yang dituntut dariku untuk menerima berkat ini, dan apa yang terjadi pada imanku kepada Allah ketika berkat itu tidak datang?” Injil yang hanya berfungsi ketika rekening bank bertambah bukan lebih kuat daripada Injil yang sejati; itu justru lebih rapuh, karena tidak punya apa-apa untuk dikatakan ketika meterai dibuka dan penunggang kedua, ketiga, dan keempat muncul, sebagaimana yang dijanjikan Kitab Wahyu akan terjadi pada akhirnya bagi setiap orang, dalam satu bentuk atau lainnya.

Penghiburan dalam bagian ini tidak diberikan seketika — para martir di bawah mezbah dalam adegan berikutnya masih berseru “sampai berapa lama lagi?” Tetapi penghiburan itu akan datang, dan bukan ditemukan dengan lari lebih cepat dari para penunggang kuda itu. Penghiburan itu ditemukan dengan sudah menjadi milik, sebelum mereka pernah menunggang, Anak Domba yang layak membuka gulungan kitab sejak semula — Dia yang mahkota-Nya sungguh berharga segalanya, dan yang layak dipercaya justru karena itu.