Wahyu 13: Tokoh Jahat yang Tersingkap
Pembuka
Setiap kisah yang baik butuh tokoh jahat, dan tokoh jahat dalam Wahyu terkenal: seekor naga, dan dua binatang buas yang mengerikan — satu muncul dari laut, satu dari darat. Ada godaan untuk memperlakukan ini sebagai kejahatan abstrak murni (menakutkan tapi kabur) atau sebagai kode rahasia yang menunjuk pada berita utama masa kini (hobi favorit spekulasi kiamat selama berabad-abad). Malam ini, mari kita lakukan sesuatu yang lebih berguna: melihat siapa sebenarnya tokoh jahat ini, dalam istilah sejarah yang sederhana, dan apa yang sesungguhnya dikatakan Wahyu tentang bagaimana kisahnya berakhir baginya.
Inti Pengajaran
Wahyu pasal 13 memperkenalkan tiga sosok yang bekerja sama: seekor naga, dan dua binatang buas yang diberinya kuasa. Bagi para pembaca pertama kitab ini — orang-orang Kristen biasa di provinsi Romawi Asia Kecil pada abad pertama — ini bukanlah misteri abstrak. Mereka menunjuk pada sesuatu yang langsung bisa dikenali.
Sang naga adalah yang paling jelas: ia diidentifikasi di tempat lain dalam kitab ini sebagai Iblis, si setan — sumber kejahatan yang paling utama, yang bekerja di belakang layar alih-alih memegang kekuasaan yang tampak sendiri.
Binatang pertama, yang muncul “dari laut,” menunjuk pada kaisar Romawi. Mengapa dari laut? Sebab bagi seseorang yang berdiri di kota pesisir seperti Efesus, segala sesuatu yang asing dan berkuasa — seorang gubernur baru, seorang pejabat kekaisaran, berita dari Roma sendiri — tiba lewat kapal, tampak muncul dari air di cakrawala. Binatang ini memiliki “luka yang mematikan, tetapi sudah sembuh” — sebuah gambaran tentang betapa jabatan kekaisaran itu sendiri seolah tak terbunuhkan: para kaisar mati, satu demi satu (Nero, dan yang lain-lain), tetapi takhta itu sendiri selalu bangkit kembali dengan kaisar berikutnya. Roma, sebagai sebuah lembaga, tampak tak terkalahkan.
Binatang kedua, yang muncul “dari bumi,” menunjuk pada jaringan orang-orang setempat yang diuntungkan oleh kebaikan hati sang kaisar — pejabat-pejabat provinsi, para pemimpin kota, serikat-serikat dagang — yang memastikan kehidupan sehari-hari (perayaan umum, perdagangan, pekerjaan) tetap terikat erat dengan penghormatan kepada sang kaisar. Inilah sebabnya teks itu mengatakan orang tidak bisa “membeli atau menjual” tanpa suatu tanda kesetiaan kepada binatang itu: menolak untuk ikut serta dalam penyembahan kaisar membawa konsekuensi ekonomi yang nyata, mirip dengan cara menolak mengikuti ekspektasi sosial atau tempat kerja tertentu bisa berdampak hari ini.
Inilah bagian yang paling mengejutkan banyak orang: Wahyu dengan sengaja menunjukkan bahwa “trinitas tidak suci” ini adalah tiruan — sebuah pemalsuan, yang dengan sengaja dimodelkan dari Tritunggal yang sejati, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sang naga memberikan seluruh kuasanya kepada binatang pertama, menggemakan cara Allah memberikan segala kuasa kepada Yesus. Binatang pertama tampak mati dan bangkit kembali, menggemakan kematian dan kebangkitan Yesus. Binatang kedua bekerja membuat semua orang menyembah binatang pertama dan bahkan melakukan tanda-tanda ajaib yang mengesankan, menggemakan cara Roh Kudus mengarahkan orang untuk menyembah Yesus. Ini tiruan, poin demi poin.
Tetapi perhatikan baik-baik apa yang sebenarnya membedakan tiruan itu dari yang asli, dan seluruh rencananya runtuh. Binatang pertama tidak menyerahkan nyawanya karena kasih — ia bahkan tidak pernah benar-benar mati sama sekali; hanya salah satu kepalanya yang terluka. Kuasanya bukan kekal — teks itu secara khusus membatasinya hanya empat puluh dua bulan. Binatang kedua tidak mengundang orang seperti yang dilakukan Roh Kudus — ia bekerja sepenuhnya lewat ketakutan, paksaan, dan ancaman finansial. Di mana Yesus memberikan nyawa-Nya dengan bebas karena kasih, binatang itu merampas nyawa dengan paksa untuk menghasilkan ketakutan. Itulah perbedaan antara yang asli dan yang palsu, dan itu adalah ujian yang sama yang bisa kita terapkan pada versi tiruan mana pun dari kuasa atau keamanan yang ditawarkan kepada kita hari ini: apakah ia bekerja lewat kasih, atau lewat ketakutan dan paksaan?
Juga layak diperhatikan sesuatu yang hampir tidak lazim dalam cara Wahyu memperlakukan tokoh jahat ini: ia sudah dikalahkan. Inti dari menggambarkan binatang itu memakai citra Perjanjian Lama seperti Lewiatan si monster laut atau Behemot si binatang darat dari kitab Ayub adalah bahwa makhluk-makhluk itu, betapa pun menakutkannya, tidak pernah sepadan dengan Allah — paling banter hanya mainan di tangan-Nya. Setiap kisah kuno yang dipakai pasal ini berakhir dengan sang monster kalah. Wahyu tidak sedang membangun ketegangan tentang apakah kejahatan akan menang. Ia sedang menyingkap, secara rinci dan hidup, seorang musuh yang telah kalah namun masih membuat banyak keributan sebelum benar-benar pergi.
Jadi Apa Maknanya
Ini penting karena dua alasan. Pertama, ini berarti “kejahatan” dalam Wahyu bukanlah misteri kosmik yang kabur yang membutuhkan pengetahuan khusus untuk mengenalinya — itu adalah sistem kekuasaan yang nyata dan spesifik pada abad pertama, dan pola-pola yang sama (paksaan, ketakutan, versi tiruan dari kasih dan kuasa) muncul kembali di setiap generasi, termasuk generasi kita. Kedua, dan lebih penting lagi: sekuat dan sepermanen apa pun kejahatan tampak sekarang, putusan Wahyu sudah dijatuhkan. Ia tidak menang.
Pertanyaan Diskusi
- Apakah mengetahui bahwa “binatang-binatang” itu menunjuk pada sistem yang nyata dan bisa dikenali (kaisar Romawi dan para pendukungnya), bukan kejahatan yang murni abstrak atau futuristik, mengubah pandangan Anda tentang Wahyu?
- Teks itu mengatakan kelemahan sesungguhnya dari trinitas tiruan itu adalah ia bekerja lewat ketakutan dan paksaan, bukan kasih. Di manakah Anda melihat ujian yang sama berlaku pada kuasa atau otoritas hari ini?
- Bagaimana rasanya berbeda membaca pasal ini dengan percaya bahwa tokoh jahatnya sudah dikalahkan, dibandingkan dengan bertanya-tanya apakah ia mungkin menang?