Wahyu 20–22: Akhir Ceritanya Adalah Kabar Baik
Pembuka
Jika seseorang meminta Anda menggambarkan “surga” dan “neraka” masing-masing dalam satu kalimat, Anda mungkin akan mengatakan sesuatu seperti: surga adalah tempat orang baik pergi sebagai upah, dan neraka adalah tempat orang jahat pergi untuk dihukum. Itu versi populernya, dan cukup wajar untuk membayangkannya seperti itu. Tetapi itu sebenarnya bukan yang digambarkan Wahyu. Malam ini kita sampai pada akhir kisah ini — dan ternyata kabar baiknya lebih baik daripada gambaran populer maupun stereotip “ramalan menyeramkan” itu.
Inti Pengajaran
Pasal-pasal terakhir Wahyu (20–22) menggambarkan apa yang sering disebut Yerusalem Baru — langit baru, bumi baru, dan sebuah kota yang turun dari Allah. Ada beberapa detail yang layak direnungkan pelan-pelan, sebab detail-detail itu mengubah keseluruhan gambaran.
“Baru” berarti lebih dari sekadar “baru-baru ini.” Ketika teks itu mengatakan Allah sedang menciptakan “langit yang baru dan bumi yang baru,” itu bukan sekadar mengatakan “salinan segar dari yang lama.” Itu menandakan sebuah perubahan kualitas — ini bersifat permanen, berbeda dengan dunia yang selalu bersifat sementara. Banyak pengharapan lama dari Perjanjian Lama — bahwa Allah akan tinggal bersama umat-Nya, bahwa penderitaan akan berakhir, bahwa segala sesuatu akan dipulihkan — mencapai penggenapannya di sini.
Allah sendiri pindah untuk tinggal bersama umat-Nya. “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia, dan Ia akan diam bersama mereka” (Wahyu 21:3). Ini adalah janji yang mengalir sepanjang seluruh Alkitab, sejak Taman Eden hingga sekarang: bukan pertama-tama sebuah upah untuk perilaku baik, melainkan kedekatan yang dipulihkan — Allah hadir bersama manusia, tidak terpisahkan, selamanya.
Tidak ada lagi air mata, kematian, perkabungan, tangisan, atau kesakitan. Bukan karena hal-hal itu dinyatakan terlarang, melainkan karena sumbernya sudah lenyap. Kehilangan, kesedihan, dan ketakutan semuanya berasal dari keterpisahan, ketidakamanan, dan kematian — dan semua itu sudah dipulihkan.
Ada satu detail yang mengubah segalanya: Yerusalem Baru digambarkan sebagai sebuah kubus sempurna. Itu mungkin terdengar seperti pilihan arsitektur yang aneh, sampai Anda menyadari bahwa hanya ada satu objek lain di seluruh Perjanjian Lama dengan bentuk yang persis sama itu: Ruang Maha Kudus, ruang paling dalam dari bait Yahudi, tempat kehadiran Allah begitu intens sehingga hanya satu orang — imam besar — yang diizinkan masuk, dan hanya sekali setahun, dengan syarat-syarat yang ketat. Semua orang lain berdiri di luar, pada jarak tertentu, terhalang oleh keperluan dan oleh kekudusan. Yerusalem Baru mengambil ruang yang paling eksklusif dan paling terbatas di dunia kuno itu dan menjadikannya bentuk dari seluruh kota kekal ini. Setiap orang yang berada di sana memiliki akses yang dulu hanya dimiliki satu orang, satu hari dalam setahun. Itu bukan detail kecil — itulah inti keseluruhannya: kedekatan dengan Allah yang total dan tanpa batasan, bagi setiap orang yang ada di sana.
Lalu bagaimana dengan neraka? Wahyu tidak menghabiskan banyak ruang untuknya, dan neraka tidak digambarkan pertama-tama sebagai ruang siksa bagi orang-orang jahat tertentu, berbeda dengan upah surga bagi orang-orang baik tertentu. Ini lebih sederhana, dan dalam beberapa hal lebih mengerikan, dari itu: neraka adalah gambaran seperti apa rasanya terpisah dari Allah, secara permanen. Hampir segala sesuatu yang kita anggap baik dalam hidup — harapan, kasih, damai, tujuan hidup, pengampunan — pada akhirnya berasal dari Allah, entah kita biasanya menyadarinya atau tidak. Kita mengalami hal-hal ini sekarang karena inilah masa ketika Allah sedang menarik orang-orang mendekat kepada diri-Nya. Wahyu menggambarkan sebuah titik di mana masa itu berakhir, dan orang-orang, secara definitif, berada bersama Allah atau tanpa Dia. Tanpa-Nya, yang tersisa adalah apa yang secara alami tertinggal tanpa semua hal itu: bukan api dan garpu sebagai gambaran utamanya, melainkan kekosongan dari ketidakmauan mengampuni, kepahitan, keterasingan, dan ketakutan, tanpa apa pun lagi yang bisa menyelanya.
Perlu dikatakan dengan jelas: Wahyu tidak memakai neraka sebagai taktik menakut-nakuti untuk membuat orang percaya. Pendekatan itu — manipulasi lewat ketakutan — secara eksplisit dikaitkan dalam kitab ini dengan binatang buas itu, bukan dengan Allah atau jemaat. Allah, sebaliknya, tidak memaksa siapa pun untuk dekat dengan-Nya. Jika seseorang tidak menginginkan kedekatan itu, pada akhirnya, mereka tidak dipaksa untuk memilikinya — tetapi itu juga berarti mereka tidak mendapatkan apa yang hanya datang bersamanya.
Jadi Apa Maknanya
Ada dua hal yang layak direnungkan di sini. Pertama: apa pun kesan Anda tentang Wahyu, akhir ceritanya yang sesungguhnya bukanlah pemusnahan, hukuman demi hukuman itu sendiri, atau drama kosmik yang menakutkan dengan hasil yang tidak pasti. Ini adalah pemulihan — kedekatan dengan Allah dipulihkan bagi setiap orang yang menginginkannya, dengan syarat-syarat yang paling murah hati yang bisa dibayangkan. Kedua: neraka, dalam gambaran ini, bukan sungguh-sungguh ancaman terpisah yang ditempelkan pada kisah ini. Itu adalah apa yang tersisa ketika seseorang akhirnya, secara permanen, mendapatkan jarak dari Allah yang mungkin diam-diam mereka pilih sepanjang waktu. Itu mengubah keseluruhan pertanyaan, dari “akankah saya dihukum?” menjadi “apakah saya sungguh-sungguh ingin dekat dengan Dia yang menjadi sumber setiap hal baik?”
Pertanyaan Diskusi
- Bagaimana gambaran tentang surga ini — keintiman dengan Allah yang tersedia bagi setiap orang, bukan upah yang diperoleh lewat perilaku baik — dibandingkan dengan apa yang selama ini Anda anggap benar?
- Apakah menggambarkan neraka sebagai “ketiadaan Allah, dan segala sesuatu yang menyertai ketiadaan itu” mengubah cara Anda memikirkannya, dibandingkan dengan gambaran hukuman aktif?
- Jika setiap hal baik yang Anda nikmati sekarang pada akhirnya berasal dari Allah, apakah itu mengubah cara Anda menjawab pertanyaan “apakah saya ingin dekat dengan-Nya”?