Latar Belakang: Bukan Seperti yang Anda Kira
Pembuka
Bayangkan kata “Wahyu” — apa yang terlintas di benak Anda? Mungkin poster film horor: api, seekor binatang buas, angka 666 tercoret di suatu tempat yang menyeramkan, hitung mundur menuju akhir dunia. Mungkin Anda pernah melihat dokumenter yang mengaku telah memecahkan kode tentang pemimpin dunia mana yang menjadi Antikristus, atau serial novel tentang orang-orang yang “ditinggalkan.” Jika itu bayangan Anda tentang kitab ini, wajar saja — kitab ini memang telah dipasarkan seperti itu selama bertahun-tahun.
Begini masalahnya: hampir tidak satu pun dari semua itu yang sebenarnya ingin disampaikan Kitab Wahyu. Malam ini kita akan membukanya dan melihat kitab macam apa sebenarnya kitab ini. Bukan untuk membelanya karena kita “harus,” tetapi karena kitab ini sungguh-sungguh lebih menarik, dan lebih berguna, daripada versi budaya populernya.
Inti Pengajaran
Mari kita mulai dari sesuatu yang mendasar: setiap tulisan termasuk dalam suatu “genre” — jenis karya sastra — dan mengetahui genre-nya memberi tahu kita bagaimana cara membacanya. Anda membaca pesan singkat dengan cara berbeda dari cara membaca kontrak hukum. Anda membaca puisi dengan cara berbeda dari membaca laporan berita. Jika salah mengenali genre-nya, Anda akan salah memahami isinya, betapa pun teliti Anda membaca kata demi kata.
Wahyu itu unik karena bukan hanya satu genre. Ada tiga genre sekaligus: sebuah surat, sebuah nubuat, dan sebuah apokalips. Setiap kata ini punya peran penting, dan masing-masing menyingkirkan tafsiran “ramalan menyeramkan.”
Ini adalah sebuah surat. Wahyu dibuka dan ditutup persis seperti surat-surat lain dalam Perjanjian Baru — dengan salam pembuka dan penutup — dan dengan jelas menyatakan bahwa surat ini ditujukan kepada tujuh jemaat sungguhan di tujuh kota sungguhan. Pasal 2 dan 3 bahkan menyebutkan nama-namanya. Itu berarti sebagian besar kitab ini ditulis agar masuk akal bagi orang-orang sungguhan, pada zaman mereka sendiri, yang bergumul dengan masalah mereka sendiri. Jika kita menganggap seluruh kitab ini sebenarnya berbicara tentang peristiwa di masa depan kita sendiri yang tidak ada hubungannya dengan pembaca pertamanya, kita telah melupakan fakta bahwa ini adalah sebuah surat — seperti membaca surat orang lain dan menganggapnya sebenarnya ditujukan kepada kita, dua ribu tahun sebelumnya.
Ini adalah sebuah nubuat. Kata ini tidak persis berarti seperti yang dipahami budaya populer. Dalam Alkitab, tugas utama seorang nabi bukanlah meramal masa depan — melainkan memanggil umat Allah kembali kepada cara hidup yang seharusnya: memperhatikan orang-orang yang rentan, bersikap jujur, dan tetap setia kepada Allah alih-alih mengejar hal-hal lain. Ketika orang tidak mau mendengar, para nabi memperingatkan bahwa akan ada konsekuensinya — tetapi tujuan mendasarnya selalu untuk mendorong perubahan sekarang, bukan sekadar meramalkan masa depan demi ramalan itu sendiri. Wahyu melakukan hal yang sama: menghibur orang-orang yang menderita secara tidak adil dan menegur orang-orang yang telah menyimpang, ditujukan langsung pada kondisi rohani sesungguhnya dari para pembacanya.
Ini adalah sebuah apokalips. Inilah genre yang paling asing bagi kebanyakan pembaca modern, sehingga paling mudah membuat kita salah paham. Sebuah apokalips menguatkan orang-orang yang sedang mengalami krisis nyata — sering kali penganiayaan — dengan menyingkapkan sifat sesungguhnya dari apa yang terjadi di sekitar mereka: penguasa ini, sistem ini, tidak sekuat atau seakhir yang terlihat; dan masa depan yang jauh lebih baik akan datang, yang hanya bisa diwujudkan oleh Allah. Untuk menyampaikan maksudnya, apokalips dengan sengaja memakai gambaran yang hidup dan berlebihan — seekor binatang buas, seekor naga, seorang perempuan berpakaian matahari — sama seperti kartun politik memakai gambar yang dilebih-lebihkan untuk menyampaikan pesan secara instan, tanpa berharap Anda percaya bahwa sang kartunis benar-benar meyakini adanya naga. Tidak ada yang melihat kartun sebuah negara digambarkan sebagai beruang yang menggeram lalu berpikir bahwa senimannya percaya negara itu sungguh-sungguh berubah menjadi hewan. Para pembaca pertama Wahyu pasti langsung mengenali jenis tulisan seperti ini; kitalah yang sudah kehilangan kebiasaan membacanya seperti itu.
Gabungkan ketiga hal ini, dan inilah yang gugur: Wahyu bukan pertama-tama ramalan berkode yang jauh tentang peristiwa-peristiwa di masa depan yang tidak ada hubungannya dengan orang-orang yang menjadi tujuan penulisannya. Ini adalah surat mendesak bagi orang-orang Kristen sungguhan yang sedang bergumul, memakai gambaran yang berani dan mengejutkan untuk mengatakan kebenaran tentang keadaan mereka — dan untuk memberi mereka harapan, tepat di tempat mereka berada.
Jadi Apa Maknanya
Jika itu benar, maka alasan membaca Wahyu bukanlah untuk menyusun garis waktu peristiwa masa depan atau menebak siapa sebenarnya yang diwakili tokoh jahatnya dalam berita minggu ini. Melainkan untuk mendengar apa yang sesungguhnya dikatakan kitab ini kepada orang-orang yang tertekan: bahwa keadaan tidak seliar kelihatannya, dan bahwa harapan bukanlah sesuatu yang naif. Itu pesan yang sama relevannya bagi pembaca abad ke-21 yang stres dan tidak menentu seperti bagi orang Kristen abad pertama di Asia Kecil. Sesi-sesi selanjutnya akan terus kembali pada poin yang sama ini dengan cara yang berbeda-beda.
Pertanyaan Diskusi
- Sebelum malam ini, seperti apa bayangan Anda tentang Kitab Wahyu — menurut Anda dari mana bayangan itu berasal?
- Apakah ada yang berubah bagi Anda setelah mengetahui bahwa Wahyu ditulis sebagai surat sungguhan, kepada jemaat-jemaat sungguhan, yang menghadapi masalah nyata pada zaman mereka sendiri?
- Pernahkah Anda benar-benar salah memahami sesuatu — sebuah pesan, sebuah lelucon, sebuah puisi — karena Anda tidak menyadari “jenis” apa hal itu sebenarnya? Apa yang terjadi?