Latar Belakang: Dunia Tempat Yohanes Menulis
Pembuka
Bayangkan seseorang menawarkan Anda sebuah kesepakatan: keamanan, kemakmuran, hidup yang stabil dan makmur, tanpa perang di depan pintu Anda. Yang mereka minta sebagai balasannya hanyalah agar Anda secara terbuka mengakui siapa yang bertanggung jawab atas semua itu, dan menunjukkan rasa syukur Anda dengan cara yang semestinya. Kedengarannya cukup masuk akal, bukan? Itulah, pada dasarnya, kesepakatan yang ditawarkan kepada setiap orang yang hidup di Kekaisaran Romawi ketika Kitab Wahyu ditulis. Malam ini kita akan melihat kesepakatan itu, sebab sampai Anda memahaminya, banyak bagian besar dari Wahyu tidak akan masuk akal sama sekali.
Inti Pengajaran
Para sejarawan menyebut periode ini Pax Romana — bahasa Latin untuk “Perdamaian Romawi.” Kira-kira dari tahun 27 SM hingga akhir abad kedua Masehi, Kekaisaran Romawi menikmati masa stabilitas yang panjang: lebih sedikit perang saudara, kemakmuran ekonomi yang nyata bagi banyak orang, dan berkembangnya seni dan budaya. Masa itu juga mencakup, pada berbagai kesempatan, penganiayaan terhadap orang Kristen di bawah kaisar-kaisar seperti Nero dan Domitianus, meskipun penganiayaan yang sistematis dan berlaku di seluruh kekaisaran baru dimulai kemudian, di bawah Kaisar Decius sekitar tahun 250 Masehi.
Di balik semua ini terdapat sebuah cerita yang terus-menerus disampaikan Roma tentang dirinya sendiri: para dewa telah memilih Roma. Sang kaisar adalah wakil mereka di bumi. Setiap berkat yang dinikmati orang — keamanan, kemakmuran, keadilan, kesuburan — mengalir melaluinya kepada semua orang yang tunduk pada pemerintahannya. Karena itu, sang kaisar layak menerima penyembahan, kesetiaan, dan gelar setara dengan seorang dewa.
Ini bukan gagasan pinggiran yang terbatas pada kuil-kuil saja. Gagasan ini ada di mana-mana: pada koin yang berdenting di kantong orang, dalam pawai-pawai umum, di pertandingan-pertandingan, pada patung-patung di setiap sudut jalan, bahkan diucapkan sebagai ucapan selamat dalam jamuan makan biasa. Kota-kota di Asia Kecil — persis di tempat ketujuh jemaat Wahyu berada — saling bersaing membangun kuil bagi sang kaisar, berharap memenangkan kebaikan hatinya atau keringanan pajak.
Yang tidak pernah diiklankan siapa pun: “zaman keemasan” ini dibangun di atas penaklukan militer dan penundukan paksa, dan hanya menjadi keemasan bagi mereka yang mau ikut bermain sesuai aturan.
Bagi orang-orang Kristen mula-mula, ini menciptakan masalah yang nyata. Mereka sudah punya raja — Yesus — dan mereka bergantung kepada-Nya, bukan kepada sang kaisar, untuk penyediaan dan keamanan mereka. Yesus sendiri telah mengatakannya dengan jelas: “Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan… Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (atau, bisa kita tambahkan, “kepada Allah dan kepada Kaisar”). Menolak menghormati kaisar sebagai dewa bukanlah sekadar pendapat pribadi di dunia itu; hal ini menyentuh urusan bisnis Anda, kedudukan sosial Anda, bahkan apakah tetangga Anda mempercayai Anda.
Itu membuat orang-orang percaya menghadapi pada dasarnya tiga pilihan: meninggalkan iman sepenuhnya dan membaur; menjalani iman itu sepenuh-penuhnya, mempertaruhkan pengucilan sosial, kehancuran finansial, penjara, atau kematian; atau diam-diam menyesuaikan diri secara lahiriah — mengangguk secara publik kepada Kaisar — sambil tetap setia secara pribadi kepada Yesus. Jalan ketiga itu adalah yang paling mudah, dan mungkin paling menggoda, dulu maupun sekarang. Dan itu justru bahaya yang langsung dihadapi Wahyu: kitab ini tidak punya kesabaran untuk jalan tengah yang nyaman dan aman bagi semua pihak.
Orang yang menulis Wahyu, Yohanes, menggambarkan dirinya sebagai orang yang menulis dari pengasingan: ia berada di pulau Patmos “oleh karena firman Allah dan kesaksian Yesus” — dengan kata lain, dipenjarakan karena menolak ikut bermain sesuai aturan. Seluruh kitab yang ditulisnya dari sana berfungsi sebagai semacam pesan tandingan: kitab ini mengumumkan siapa Raja yang sesungguhnya, siapa yang sebenarnya memegang masa depan dunia, dan bahwa kilau permukaan Pax Romana pada akhirnya tidak akan bertahan.
Jadi Apa Maknanya
Anda mungkin tidak diminta membakar dupa bagi seorang presiden atau memberi hormat pada bendera seolah-olah itu dewa. Tetapi pertanyaan mendasar yang diajukan Pax Romana masih sangat hidup: siapa yang sebenarnya Anda percayai untuk membuat hidup Anda baik — dan apa yang diam-diam Anda ikuti demi menyenangkan sumber keamanan itu? Bisa jadi gaji, reputasi, jumlah “like” di media sosial, atau kelompok politik tertentu. Tekanan untuk secara terbuka mengiyakan sesuatu yang tidak sepenuhnya Anda yakini, hanya demi menjaga kedamaian, bukanlah masalah abad pertama saja. Wahyu ditulis tepat ke dalam situasi seperti itu — itulah sebagian alasan mengapa kitab ini masih punya sesuatu untuk dikatakan kepada zaman kita.
Pertanyaan Diskusi
- Di manakah Anda melihat orang-orang saat ini ditekan untuk secara terbuka mengatakan atau menyetujui sesuatu yang secara pribadi tidak mereka setujui, hanya demi menjaga kedudukan mereka?
- Jika Anda jujur, apa yang biasanya Anda cari untuk “hidup yang baik” — keamanan, makna, penyediaan kebutuhan — sebelum Anda mencarinya kepada Allah?
- Pilihan ketiga (kesesuaian lahiriah, perbedaan batiniah) adalah pilihan “mudah” bagi banyak orang Kristen abad pertama. Di manakah jalan pintas yang sama itu bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari saat ini?