Wahyu 2–3: Pergumulan Nyata, Jemaat Nyata

Waktu membaca: 5 menit

Pembuka

Jika Anda membayangkan orang-orang Kristen pertama, Anda mungkin membayangkan sesuatu seperti gerakan bawah tanah yang heroik — orang-orang yang berani, bersatu, dan mengesankan secara rohani, diam-diam mengubah dunia. Inilah yang mungkin mengejutkan Anda: ketika Yesus sendiri, melalui Yohanes, menulis langsung kepada tujuh jemaat sungguhan dalam Wahyu pasal 2 dan 3, Ia tidak memuji sebuah elite rohani. Ia menegur kesombongan, sikap acuh tak acuh, kompromi, dan penipuan diri sendiri, berdampingan dengan pujian nyata bagi kesetiaan yang nyata. Ini adalah komunitas-komunitas biasa yang penuh kekurangan — mirip sekali dengan yang bisa Anda temukan di kota mana pun hari ini.

Inti Pengajaran

Pertama, ada teka-teki kecil yang perlu diperjelas. Masing-masing dari ketujuh surat ini ditujukan kepada “malaikat jemaat di…” — yang menimbulkan pertanyaan yang agak aneh: apakah jemaat-jemaat punya malaikat pelindung sendiri? Hampir pasti tidak. Perhatikan teks itu dengan saksama, dan Anda akan melihat bahwa setiap surat dibuka dengan menyapa “malaikat,” tetapi ditutup dengan “apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” — malaikat dan jemaat jelas diperlakukan sebagai satu hal yang sama. “Malaikat” itu disapa sebagai “engkau,” tetapi surat itu kemudian menyalahkan atau memuji perilaku banyak anggota secara individu. Dalam tulisan Yahudi pada masa itu, adalah hal yang lumrah untuk menyapa seluruh kelompok seolah-olah itu satu pribadi — Anda melihatnya di tempat lain dalam Alkitab ketika sebuah kota atau bangsa disapa sebagai “dia” (perempuan). Jadi “malaikat jemaat” tidak lain adalah jemaat itu sendiri, disapa sebagai satu kesatuan yang utuh. Kata “malaikat” secara harfiah berarti “utusan” — sebuah pengingat yang tepat bahwa tugas jemaat adalah membawa pesan kepada dunia, dan bahwa jemaat tidak bisa melakukan tugas itu dengan kekuatannya sendiri, melainkan hanya dengan tetap terhubung dengan Roh Allah.

Detail itu penting sebab itu berarti surat-surat ini bersifat pribadi. Ketika Yesus berbicara kepada “malaikat,” Ia sedang berbicara kepada seluruh komunitas yang berkumpul — dan, dengan perluasan itu, kepada kita.

Mari kita lihat dua dari ketujuh jemaat ini, dipilih karena mereka berada di ujung-ujung yang berlawanan dari daftar itu, dan penilaian Yesus atas mereka tidak bisa lebih berbeda lagi.

Efesus adalah kota yang besar dan penting — sebuah pelabuhan utama, rumah bagi salah satu daya tarik wisata terbesar dunia kuno (kuil dewi Artemis), dan mungkin yang terbesar dari ketujuh jemaat yang disurati. Dan jemaat ini, dari hampir semua ukuran lahiriah, melakukan segalanya dengan benar. Yesus memuji kerja keras mereka, ketekunan mereka di bawah tekanan yang nyata, dan penolakan mereka untuk tertipu oleh guru-guru palsu — bukan perkara kecil, sebab ajaran palsu telah menenggelamkan beberapa jemaat lain dalam daftar ini. Namun, putusan Yesus tegas: mereka telah meninggalkan kasih mula-mula mereka. Bukan sekadar gairah jatuh cinta pertama kali kepada Yesus, melainkan sesuatu yang lebih dalam — jenis kasih yang secara alami meluap menjadi kasih kepada sesama orang percaya dan menjangkau dunia di sekitar mereka. Entah bagaimana, di sepanjang jalan, Efesus telah mempertahankan semua praktik yang benar sambil kehilangan alasan untuk melakukan semuanya itu. Sebuah jemaat — atau seseorang — bisa benar secara doktrin dan tak kenal lelah secara praktik, dan tetap diam-diam sekarat dari dalam.

Laodikia, jemaat terakhir yang disurati, adalah satu-satunya dari ketujuh jemaat yang tidak menerima pujian sama sekali — tidak sedikit pun. Laodikia sangat kaya raya: pusat perbankan, terkenal karena perdagangan wolnya yang berharga dan klinik matanya yang ternama. Dan jemaat ini menganggap dirinya makmur — kaya secara rohani, tidak membutuhkan apa pun. Penilaian Yesus yang sesungguhnya: mereka “melarat, malang, miskin, buta, dan telanjang” — gagal justru di bidang-bidang yang paling mereka banggakan. Pasokan air kota itu sendiri, yang patut dicatat, tiba dalam keadaan hangat suam-suam kuku pada saat mencapai kota, karena telah kehilangan panasnya dalam perjalanan — tidak cukup panas untuk menyembuhkan, tidak cukup dingin untuk menyegarkan, hanya tidak berguna. Yesus mengubah itu menjadi sebuah diagnosis rohani: Laodikia tidak berguna untuk apa pun — bukan untuk penginjilan, bukan untuk memperhatikan orang miskin, bukan untuk hal-hal baik lain yang bisa dilakukan sebuah jemaat — sebab mereka terlalu sibuk merasa puas dengan diri sendiri sehingga tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan sesuatu sama sekali.

Ditempatkan berdampingan, Efesus dan Laodikia menyampaikan poin yang sama dari dua arah: Anda bisa melakukan hampir segala sesuatu dengan “benar” di atas kertas dan tetap kehilangan apa yang paling penting (Efesus), dan Anda bisa begitu yakin akan keberhasilan Anda sendiri sehingga tidak bisa melihat betapa besar masalah yang sebenarnya sedang Anda hadapi (Laodikia). Tidak ada satu pun dari kedua ekstrem itu yang berkaitan dengan bakat, sumber daya, atau reputasi. Keduanya berkaitan dengan apakah Anda masih sungguh-sungguh bergantung kepada Yesus.

Jadi Apa Maknanya

Ini bukan barang museum kuno — ini cermin. Layak untuk ditanyakan dengan jujur: mungkinkah Anda tampak melakukan segalanya dengan “benar” — menjalani rutinitas, mengatakan hal-hal yang tepat — sementara sesuatu yang mendasar diam-diam telah menjadi dingin? Dan mungkinkah Anda begitu yakin akan kompetensi, kenyamanan, atau keberhasilan Anda sendiri sehingga tidak bisa melihat apa yang sebenarnya Anda lewatkan? Wahyu tidak membiarkan siapa pun, dulu maupun sekarang, bersembunyi di balik salah satu dari kedua penampilan itu.

Pertanyaan Diskusi

  1. Apakah cara Anda membaca surat-surat ini berubah setelah mengetahui bahwa surat-surat itu ditujukan kepada jemaat-jemaat tertentu yang biasa dan penuh kekurangan, bukan kepada sebuah elite rohani?
  2. Efesus melakukan hampir segalanya dengan “benar” tetapi kehilangan kasih mula-matanya. Pernahkah Anda melihat (atau mengalami) jenis kedinginan yang diam-diam merayap masuk itu, di suatu tempat yang tampaknya baik-baik saja dari luar?
  3. Laodikia terlalu nyaman dan yakin diri untuk menyadari betapa besar masalah yang sedang dihadapinya. Apa yang diperlukan agar seseorang dalam posisi itu benar-benar menyadarinya?