Wahyu 4: Penyembahan Membereskan Segalanya

Waktu membaca: 4 menit

Pembuka

Pertanyaan singkat: jika Anda harus menebak apa yang sebenarnya menjadi pusat Kitab Wahyu — hal yang menjadi poros segala sesuatunya — apa tebakan Anda? Bencana? Penghakiman? Akhir dunia? Inilah kejutannya: bukan salah satu dari itu. Tepat di pusat struktural kitab ini, sesudah surat-surat kepada tujuh jemaat dan sebelum wabah atau penghakiman apa pun dimulai, Yohanes tidak menggambarkan sebuah perang. Ia menggambarkan sebuah kebaktian penyembahan.

Inti Pengajaran

Pertama, sepatah kata singkat tentang apa arti “penyembahan” sebenarnya, sebab kata itu bisa terdengar seperti istilah gerejawi. Penyembahan, secara sederhana, adalah memberikan perhatian, hormat, dan kepercayaan Anda kepada apa pun yang Anda anggap paling berharga atau paling mengendalikan hidup Anda. Setiap orang menyembah sesuatu — pertanyaannya hanya apa, atau siapa.

Dalam Wahyu pasal 4 dan 5, Yohanes diberi penglihatan tentang ruang takhta di surga. Di sekeliling takhta itu ada sosok-sosok yang aneh dan hidup — empat makhluk hidup (mewakili seluruh ciptaan), dua puluh empat tua-tua (mewakili umat Allah, dari suku-suku Israel di Perjanjian Lama hingga para rasul Yesus), dan malaikat yang tak terhitung jumlahnya — dan semuanya larut dalam penyembahan yang terus-menerus dan penuh kekaguman kepada Dia yang duduk di atas takhta. Belum ada apa pun yang terjadi dalam kisah ini. Belum ada wabah, belum ada pertempuran. Hanya ini: penyembahan yang luar biasa, terlebih dahulu.

Mengapa ini begitu penting? Sebab jika Anda melihat kembali ketujuh jemaat yang baru saja disurati Yohanes (yang akan kita bahas dalam satu sesi penuh minggu depan), Anda akan menemukan mereka bergumul dengan berbagai masalah yang sangat beragam: ada yang telah menyimpang ke ajaran yang salah, ada yang telah menjadi tuli dan mati rasa terhadap kondisi mereka sendiri, ada yang membiarkan prioritas lain diam-diam menggeser apa yang seharusnya paling penting, ada yang sekadar lelah dan tergoda untuk menyerah di bawah tekanan yang nyata. Masalah yang berbeda-beda, jemaat yang berbeda-beda — tetapi ruang takhta itu menawarkan jawaban yang sama bagi mereka semua.

Inilah alasan mengapa penyembahan menjadi jawaban bagi semuanya:

  • Semakin jelas kita melihat Allah sebagaimana Dia sesungguhnya, semakin kecil kemungkinan kita tertipu oleh versi-versi Allah yang palsu atau alternatif-alternatif yang meyakinkan.
  • Ketika kita menyembah Allah sebagaimana Dia sesungguhnya, kita juga melihat diri kita sendiri dengan lebih jujur — termasuk di mana kita telah menipu diri sendiri.
  • Ketika Allah benar-benar menempati tempat pertama, segala sesuatu yang lain jatuh pada tempatnya yang semestinya. Ketika tidak demikian, segala sesuatu yang lain akan diam-diam terdistorsi karena mencoba mengisi tempat itu.
  • Ketika kepercayaan kita berlabuh pada sesuatu yang benar-benar tak tergoyahkan, kita tidak akan mudah goyah oleh keadaan yang sulit.

Ada satu detail dalam penglihatan ini yang layak direnungkan: sebuah pelangi melingkari takhta itu. Setiap pembaca yang mengenal Perjanjian Lama akan langsung mengenali gambaran itu — itu adalah tanda yang diberikan Allah kepada Nuh sebagai janji untuk tidak akan pernah lagi menghancurkan bumi dengan air bah, sebuah janji tanpa syarat apa pun. Menempatkan pelangi itu mengelilingi takhta Allah, tepat sebelum sebuah kitab yang penuh dengan wabah dan penghakiman, adalah sebuah isyarat: bacalah segala sesuatu yang mengikutinya melalui kacamata belas kasihan, bukan dendam. Kemuliaan Allah, di tempat lain dalam Kitab Suci, secara eksplisit dikaitkan dengan belas kasihan dan kasih sayang-Nya — jadi itulah cahaya yang seharusnya dipakai untuk membaca sisa kitab ini.

Setiap bencana, setiap wabah, setiap adegan penghakiman yang menyusul dalam Wahyu mengalir keluar dari ruang takhta ini. Itulah klaim sesungguhnya dari kitab ini: sejarah tidak kacau atau tanpa arah. Sejarah memancar dari sebuah pusat penyembahan, belas kasihan, dan kendali yang tidak pernah goyah, betapa pun tidak terkendalinya peristiwa-peristiwa di lapangan kelihatannya.

Jadi Apa Maknanya

Jika penyembahan sungguh-sungguh menjadi jawaban atas ajaran yang salah, penipuan diri sendiri, prioritas yang salah tempat, dan kelelahan di bawah tekanan, itu layak untuk direnungkan — entah Anda sudah menyebut diri Anda seorang Kristen atau belum. Tanyakan pada diri Anda dengan jujur: apa yang sekarang duduk di “takhta” hidup Anda — kepada apa Anda memberikan perhatian, kepercayaan, dan kesetiaan tertinggi Anda? Dan apakah hal itu layak menempati tempat itu?

Pertanyaan Diskusi

  1. Sebelum sesi ini, akankah Anda menebak bahwa “penyembahan” adalah pusat sesungguhnya dari Wahyu, bukan penghakiman atau bencana? Mengapa ya atau mengapa tidak?
  2. Apa (atau siapa) yang sungguh-sungguh menempati tempat pertama dalam perhatian dan kepercayaan Anda sekarang — dan bagaimana hal itu bisa sampai di sana?
  3. Apakah gagasan bahwa belas kasihan membingkai segala sesuatu yang mengikutinya dalam Wahyu (pelangi di sekeliling takhta) mengubah cara Anda memandang sisa kitab ini?