Kisah: Liturgi yang Tersingkap
Bagi pembaca Katolik dan Ortodoks, kitab Wahyu bukanlah kitab yang asing. Kitab ini, sesungguhnya, sangatlah akrab: dupa yang sama, seruan “Kudus, kudus, kudus” yang sama, kumpulan besar orang berjubah putih yang bersujud di hadapan altar - semuanya yang memenuhi gerejamu setiap hari Minggu, atau setiap Liturgi Ilahi, sudah menjadi milik kitab ini. Di sini kitab Wahyu diceritakan sebagai satu kisah yang mengalir, disusun di sekitar adegan-adegan ibadatnya, memperlihatkan bahwa ruang takhta yang dilihat Yohanes di Patmos adalah ruang yang sama yang dimasuki parokimu sendiri setiap pekan.
Paling cocok untuk: pembaca Katolik dan Ortodoks yang ingin mengenali liturgi mereka sendiri di dalam penglihatan Yohanes - dan melihat, mungkin untuk pertama kalinya, mengapa Gereja sejak dahulu berdoa dengan cara ini.
Catatan penyajian: Kisah ini ditulis dengan memperhatikan telinga sama halnya dengan mata. Irama kalimatnya dimaksudkan untuk dibacakan dengan suara - sangat cocok untuk retret, pendalaman Alkitab sebelum ibadat Vesper atau Adorasi, atau bacaan hening yang menyertai kalender liturgi itu sendiri.