Kisah yang Dituturkan Secara Lisan

Inilah kitab Wahyu sebagai naskah pertunjukan, bukan halaman yang dibaca dalam diam. Naskah ini ditulis untuk seorang pencerita atau tua-tua yang menuturkannya dengan suara lantang kepada sekelompok orang yang berkumpul, dengan orang-orang itu sendiri ikut ambil bagian - menyahut sebuah refrein, merasakan iramanya, membawa pulang kisah ini lewat mulut mereka sendiri, sebagaimana kisah-kisah selalu berpindah: dari telinga ke telinga, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tidak ada yang berubah dari kisahnya. Yang berubah hanyalah bentuk penuturannya, supaya ia bertahan ketika dituturkan dengan suara dan tetap diingat lama setelah penuturan itu selesai.

Paling cocok untuk: seorang pencerita, tua-tua, atau pemimpin yang mementaskan kisah ini bersama sekelompok orang - di sekeliling api unggun, dalam pertemuan gereja, atau di mana pun kata yang diucapkan menjangkau lebih jauh daripada kata yang tertulis.

Mulai kisahnya →

Catatan produksi

Naskah ini dibuat untuk dipentaskan, bukan dibaca dalam diam. Satu pencerita membawakan kisah ini dengan suara lantang; seluruh kelompok menjawab bersama-sama pada baris Semua menjawab:, memakai refrein yang sama dari awal sampai akhir sehingga cukup diajarkan sekali saja - setelah itu, orang-orang akan menyahutnya sendiri bahkan sebelum sang pencerita selesai bertanya. Pengulangan, baris-baris pendek, dan irama melakukan tugas yang biasanya dilakukan catatan kaki di atas kertas. Bentuk ini bekerja sangat baik terutama di tempat-tempat yang mewariskan kisah lewat tradisi lisan, bukan lewat tulisan, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

detail

Tur melalui cerita
Terakhir diperbarui pada