Setiap generasi tampaknya menemukan calon baru untuk 666 - seorang penguasa, kode batang, sebuah teknologi. Ini bisa dimaklumi: teksnya sendiri mengundang kita untuk “menghitung” bilangan itu, dan teka-teki angka-sebagai-kode memang memikat.
Namun dalam dunia kitab Wahyu sendiri, 666 berfungsi bukan seperti kode rahasia yang menunggu dipecahkan, melainkan lebih seperti sebuah vonis: bilangan itu kurang satu dari 777 (bilangan kesempurnaan, tiga kali lipat), sebuah cara untuk mengatakan bahwa tiruan kuasa sejati oleh binatang itu selalu gagal mencapainya, berulang-ulang. Peringatan yang sesungguhnya dalam pasal itu bukan “waspadalah kalau angka tertentu ini muncul” - melainkan tentang bahaya terpikat oleh rasa aman dan kemakmuran palsu, sebagaimana bahkan Salomo pun pernah terpikat.
Apa pun calon 666 yang sedang ramai diberitakan saat ini, pertanyaan yang lebih dalam itulah - kepada apa sebenarnya kamu menaruh rasa amanmu - yang terus-menerus ditunjuk kembali oleh teks.