Mengapa kitab Wahyu begitu penuh kekerasan? Apakah Allah benar-benar semarah itu?

Waktu membaca: 1 minute

Meterai, sangkakala, dan cawan memang sungguh berat untuk dibaca - perang, wabah, kegelapan, bencana bertumpuk di atas bencana. Wajar jika kita bertanya-tanya apakah ini sesuai dengan Allah yang di tempat lain digambarkan sebagai kasih.

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan dalam teksnya sendiri. Pertama, murka itu secara konsisten adalah murka Anak Domba (Wahyu 6:16) - terkait dengan Dia yang disembelih bagi orang lain, bukan sosok yang menikmati kehancuran demi kehancuran itu sendiri. Kedua, murka itu diarahkan pada ketidakadilan yang nyata: para martir di bawah mezbah berseru “berapa lama lagi?” sebelum penghakiman pernah dijatuhkan, yang mengisyaratkan bahwa adegan-adegan ini menjawab penderitaan yang nyata, bukan menciptakannya secara sewenang-wenang. Ketiga, malapetaka-malapetaka itu secara konsisten memberi orang kesempatan untuk berbalik - dan, yang mencolok, pasal-pasal selanjutnya menggambarkan pertobatan yang meluas sebagai tanggapan atasnya, bukan hanya hukuman. Semua itu tidak menghapus betapa beratnya pasal-pasal ini untuk direnungkan. Tetapi pola dalam teks lebih dekat pada keadilan yang bergerak perlahan dan pantang menyerah demi para korban yang nyata daripada ledakan amarah.

Baca penjelasan lengkapnya →