Apakah kitab Wahyu berusaha menakut-nakuti orang supaya percaya?
Waktu membaca: 1 minute
Adegan-adegan penghakiman dalam kitab Wahyu memang kadang dipakai persis seperti itu - sebagai taktik menakut-nakuti yang ditujukan kepada orang luar, peringatan “percaya atau tanggung akibatnya.” Jika begitulah caramu berjumpa dengan kitab ini sebelumnya, bisa dimaklumi jika penghakiman terasa seperti inti utamanya.
Namun, memperhatikan kepada siapa adegan-adegan ini sebenarnya dialamatkan membuka wawasan: kitab Wahyu adalah surat yang ditulis kepada tujuh jemaat - kepada orang-orang yang sudah berada di dalam iman, bukan traktat yang dibagikan kepada orang asing di jalan. Adegan-adegan penghakiman itu berfungsi bukan sebagai ancaman bagi yang belum yakin, melainkan sebagai penyingkapan bagi yang sudah yakin: memperlihatkan kesetiaan mana yang sejati, memanggil kembali orang percaya yang goyah, dan meneguhkan gereja yang teraniaya bahwa ketidakadilan tidak mendapat kata terakhir. Penyembahan, bukan ketakutan, yang berada di pusat emosional kitab ini (pasal 4-5, 7, 15, 19) - penghakiman itu nyata, tetapi ia melayani penyembahan itu, bukan menggantikannya.