Haruskah aku membaca kitab Wahyu secara harfiah atau simbolis?
Waktu membaca: 1 minute
Ini salah satu pertanyaan yang paling wajar untuk diajukan, dan para pembaca yang jujur sampai pada kesimpulan yang berbeda-beda - sebagian ingin menjaga kenyataan dari apa yang dijanjikan, yang lain berhati-hati agar tidak terlalu mengharfiahkan citra puitis.
Kitab Wahyu sendiri memberi kita petunjuk dalam kalimat pembukanya: kata Yunani di balik “memberitahukannya” (semaino) berkerabat dengan kata untuk “tanda” - kata kerja yang sama yang dipakai ketika penglihatan-penglihatan simbolis Daniel dijelaskan kepadanya. Yohanes tampaknya memberi tahu kita sejak awal bagaimana membaca apa yang menyusul: bukan sebagai rekaman harfiah peristiwa-peristiwa masa depan, melainkan sebagai kitab tanda-tanda yang menunjuk pada kenyataan rohani yang sungguh nyata - seperti rambu jalan yang bukan foto tempat tujuanmu, tetapi tetap mengatakan sesuatu yang benar dan penting tentangnya. Itu tidak membuat janji-janjinya kurang nyata atau peringatan-peringatannya kurang serius. Itu hanya berarti binatang itu, bilangan-bilangannya, dan warna-warna kudanya membawa makna sebagaimana lambang bekerja, bukan sebagaimana rekaman kamera pengawas bekerja.