Sebagian pembaca menantikan dua tokoh tertentu yang akan muncul di akhir sejarah - sering ditebak sebagai Musa dan Elia yang kembali, atau dua tokoh modern tertentu. Petunjuk-petunjuk dalam kitab Wahyu sendiri menunjuk ke arah yang agak berbeda.
Kedua saksi itu digambarkan melakukan hal-hal yang dilakukan Musa (mengubah air menjadi darah) dan hal-hal yang dilakukan Elia (menutup langit) - tetapi alih-alih menyebut nama salah satu dari mereka secara langsung, teks tampaknya menempatkan gereja sendiri dalam peran ganda itu: bersifat kenabian, berani, ditentang, dan pada akhirnya dibenarkan setelah tampak kalah. “Dua” saksi juga menggemakan ketentuan Perjanjian Lama bahwa kebenaran harus diteguhkan oleh dua saksi atau lebih (Ulangan 19:15) - sebuah detail tentang keabsahan hukum, bukan tentang jumlah orang. Kisah mereka - dibunuh, dipermalukan di depan umum, lalu dibangkitkan di hadapan musuh-musuh yang menyaksikan - lebih terbaca bukan sebagai biografi dua orang bernama, melainkan sebagai gambaran awal panggilan seluruh gereja: kesaksian yang setia yang tampak seperti kekalahan sampai akhirnya ternyata bukan.